Mengulik Sejarah Gedung Panti Wangka .2

Admin
Mengulik Sejarah Gedung Panti Wangka .2
FOTO :( FERLY ADITYA )

Konferensi Pangkalpinang Akhmad Elvian, juga menjelaskan adanya peristiwa bersejarah yang terjadi di Gedung Panti Wangka yaitu “Konferensi Pangkalpinang”. Mengutip dari artikel berjudul “Dulu Societet Concordia, Sekarang Panti Wangka” yang ditulis Akhmad Elvian, Konferensi Pangkalpinang diikuti sejumlah 80 orang delegasi dari sekitar 15 daerah pendudukan Belanda.

Konferensi Pangkalpinang ini merupakan strategi dan upaya Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Pemimpin NICA untuk membentuk negara Federal Bangka Belitung dan Riau dalam negara Indonesia Serikat yang merupakan Uni Indonesia-Belanda. “Konferensi Pangkalpinang ini kurang disambut oleh warga Bangka karena besarnya rasa nasionalis warga Bangka yang tidak ingin daerahnya menjadi bagian dari negara Uni Indonesia-Belanda. Hasil dari Konferensi Pangkalpinang ini hanya berupa usulan dari etnis Tionghoa tentang bantuan dan subsidi pendidikan terhadap sekolah Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) serta usulan perbaikan dan pelayanan kesehatan serta sistem perdagangan,” jelas Elvian.

Setelah tahun 1953 Masehi, Bangka Belitung mulai mengalami peningkatan dan kemajuan. Perusahaan-perusahaan pertambangan timah BTW (Banka Tinwinning Bedriļ¬€ ), GMB (Gemmenschaplijke Maatschappij Billiton) dan NV dinasionalisasikan. SITEM (Singkep Tin Maatschappij) oleh pemerintah RI menjadi perusahaan milik negara (Perusahaan Negara atau PN Timah), maka pengelolaan Gedung Societet Concordia berada di bawah Unit Penambangan Timah Bangka (UPTB) dan namanya di ganti menjadi Panti Wangka, sementara fungsinya tetap digunakan sebagai gedung pertemuan.

“Nama Panti Wangka berasal dari dua kata yaitu Panti yang artinya Rumah dan Wangka yang berarti Timah. Jadi Panti Wangka artinya Rumah Timah,” tukas Elvian. Pada tahun 2000, Gedung Panti Wangka dijadikan sebagai gedung sementara DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Gedung Panti Wangka juga pernah dipakai sebagai kantor Pengadilan Negeri Pangkalpinang dan Kantor KONI Kepulauan Bangka Belitung.

“Saat ini Gedung Panti Wangka dikelola oleh PT Timah, yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan. Seperti kegiatan Festival Buku dan Literasi yang kemarin diadakan di Gedung Panti Wangka,” lanjut Elvian. Berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam UU No 11 tahun 2010 tentang Cagar budaya, Gedung Panti Wangka diregistrasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang sebagai Bangunan Cagar Budaya dan harus dilindungi oleh negara, karena bangunan ini merupakan bangunan bersejarah baik dalam konteks sejarah lokal maupun nasional dan sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah  serta memiliki nilai sosial budaya bagi masyarakat.

Sudah menjadi kewajiban kita bersama sebagai warga Bangka, khususnya Kota Pangkalpinang, untuk terus merawat dan menjaga aset daerah seperti Gedung Panti Wangka ini agar bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. (BBR)

Sebelumnya 1


Penulis :Sartika
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview