Meski Rindu Ibunda, Mikron Takut Pulang Ke Rumah, Ternyata Ini Penyebabnya

Ahada
Meski Rindu Ibunda, Mikron Takut Pulang Ke Rumah, Ternyata Ini Penyebabnya
Ketua Sekretariat Puskodalops Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Babel, Mikron Antariksa. (Ist)

 "Sampai hari ini saya belum pernah bertemu dengan orang tua sejak kasus Covid-19 masuk kesini, karna orangtua saya sudah berumur 80 tahun dan kondisi kesehatannya juga sudah menurun, jadi saya takut"

Mikron Antariksa

Ketua Sekretariat Puskodalops Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Babel

 

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Saat ini perjuangan melawan Covid-19 terus dilakukan di belahan dunia manapun.

Wabah yang begitu cepat menyebar ini ternyata membuat kewalahan seluruh dunia.

Apalagi bagi negara yang sebelumnya tidak memiliki persiapan yang matang untuk menghadapi pandemi ini.

Angka penyebaran virus Corona pun setiap harinya terus bertambah, sehingga memaksa semua pihak untuk turut serta masuk dalam perjuangan memerangi Covid19.

Saat ini, bisa ibaratkan kita sedang masuk kedalam Zona Perang, dimana Tenaga medis bisa dianggap menjadi prajurit utama, karena mereka yang bersentuhan langsung dengan pasien-pasien yang terkonfirmasi positif virus Corona di dukung oleh semua pihak seperti TNI/Polri, Relawan, serta seluruh masyarakat.

Namun demikian, dalam sebuah perperangan kita tak bisa melupakan sosok komando yang bertugas memberikan arahan agar semua prajurit selamat dan mampu memenangi perang tersebut.

Ya sosok tersebut adalah Mikron Antariksa, Ketua Sekretariat Pusat Komando Pengendalian dan Operasional (Puskodalops) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Babel. 

Ia adalah sosok yang tak bisa dilupakan, yang bisa dibilang berjasa besar bersama dengan petugas-petugas lainnya di Puskodalops sebagai pusat komando dalam mengatur dan berkordinasi dengan semua pihak yang terlibat dalam percepatan Penanganan Covid-19 di Bangka Belitung, seperti, tenaga medis, TNI/Polri, Relawan, serta masyarakat.

Ditengah kesibukannya itu, Babelreview berkesempatan berbincang dengan Mikron Antariksa mengenai suka duka yang dirasakan selama berperang melawan Covid-19.

Mikron mengatakan, duka pertama yang disampaikannya yakni bahwa wabah ini adalah musuh yang tak kasat oleh mata, sehingga dalam memeranginya harus berhati-hati dan bekerja keras.

"Saat ini kita menghimpun sebanyak-banyaknya  masyarakat serta relawan yang dapat membantu, tapi di sisi lain kita berperang atau melawan sesuatu yang tidak terlihat. Ini tantangannya, tapi kita sudah berjuang dengan semaksimal mungkin dan kita juga memiliki aplikasi FightCovid19 yang kami pikir saat ini efektif,  khususnya untuk mencegah penyebaran virus dengan melakukan pemantauan terhadap pendatang yang datang dari zona merah," kataya.

Selain itu, Ia mengatakan pihaknya juga harus dengan sabar menerima pandangan tak menyenangkan terhadap kegiatan tim di posko komando yang yang kadang dianggap sebagian masyarakat hanya tempat bersantai.

Padahal kenyataannya, Ia bersama petugas lainnya harus selalu stand by menerima dan  menyampaikan informasi apapun selama 24 jam.

Bahkan saking sibuknya kadang mereka hanya bisa tidur 2 sampai 3 jam saja.

"Kadang ada yang datang-datang minta bantuan langsung, ada juga yang dilapangan saat kita berkendara di jalan ada masyarakat yang berkumpul minta diberikan bantuan. Jadi mau tidak mau kami harus menjelaskannya dengan masyarakat. Sekarang kita bekerja 24 jam penuh, bahkan ada petugas kita yang sampai sakit, mungkin karena kurang istirahat lantaran kerap pulang pukul 2 sampai 3 pagi, itu untuk mengklarifikasi data-data terkait Covid19," ujarnya.

Tak sampai disitu, Mikron mengungkapkan pandangan mirng tersebut juga datang dari media sosial, pihaknya sering menerima hujatan dari pengguna media sosial. Tapi hal tersebut tidak lantaran membuat mereka menyerah.

Mikron menegaskan pihaknya akan terus bekerja dan hadir memberikan arti kepada masyarakat.

Jika secara kuantitas  mungkin banyak yang memberikan bantuan dan banyak tenaga medis yang melakukan pengobatan.

"Tapi kami disini berupaya selalu hadir ditengah masyarakat. Kami memberikan arti guna posko, guna data, guna terstrukturnya suatu kegiatan. Nah ini lah yang kami pikir selalu menjadi acuan kami dalam bekerja. Kami tidak memandang kuantitas dan kualitas, tapi kami hadir memberikan yang terbaik bagi masyarakat termasuk kawan-kawan dari media," katanya.

Berkesempatan hadir saat petugas komando tengah bekerja, Babelreview melihat wajah-wajah serius petugas saat menatap layar monitor yang penuh data dan saling berkoordinasi untuk memberikan perkembangan informasi yang mereka dapatkan. 

Tak hanya itu dering telepon pun seakan tak putus entah itu datangnya, kadang dari masyarakat, pemerintah, atau media yang hendak menanyakan informasi seputar Covid-19.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Babel ini, mengatakan Informasi yang hendak disampaikan kepada masyarakat atau ke media harus data yang valid agar tidak menimbulkan keresahan.

Hal ini juga kemudian menjadi kendala di lapangan. Diakuinya kordinasi dengan kabupaten/kota yang juga memiliki posko gugus tugas sendiri, kadang mereka juga dalam kondisi yang terdesak dan tertekan sehingga untuk memperoleh data, akhirnya pihaknya mengalami kesulitan.

"Kadang-kadang secara pribadi kami meminta personil BPBD untuk memperoleh data. Nah ini terkadang pagi siang malam saya harus menerima dan melayani masyarakat dan mengkonfirmasi kan sesuatu yang bisa menenangkan masyarakat, sehingga pemilahan bahasa dan kalimat jadi faktor yang sangat mendukung agar tak menimbulkan keresahan," ungkapnya.

Mikron menuturkan, dengan kondisi yang sering bertemu masyarakat entah itu yang berstatus ODP, PDP, serta OTG, pihaknya harus semaksimal mungkin memenuhi asupan gizi untuk menambah imunitas.

Dengan intensitas bertemu orang yang cukup tinggi, Tak bisa dipungkiri rasa khawatir terhadap kesehatan pun Ia rasakan.

"Kami ini tidak tau apa kami sudah terpapar apa belum. Tapi yang jadi tujuan kami bagaimana menghambat dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini. Kadang jika ada pengecekan rapid test atau swab kami juga takut terkonfirmasi positif. Karena jika ada dari kami yang dinyatakan positif, kami khawatir dengan tugas dan misi kami yang tak bisa kami laksanakan. Tentu hal ini akan berpengaruh kepada masyarakat," tuturnya sembari tersenyum.

Dengan kondisi saat ini, Mikron mengaku terpaksa tak bertemu keluarganya, terutama dengan sang Ibu tercinta.

Ia khawatir dengan kesibukannya di posko dan kerap bertemu orang dapat menjadi carrier yang menyebarkan virus tersebut kepada keluarganya.

"Saya pribadi mengisolasi diri. Saya pulang dari posko saya langsung membersihkan diri dan saat ini saya hidup sendiri untuk sementara," ujarnya.

Bahkan Ia sudah cukup lama tak bertemu Ibundanya, sejak virus tersebut masuk ke Bangka Belitung.

"Sampai hari ini saya belum pernah bertemu dengan orang tua sejak kasus Covid-19 masuk kesini, karna orangtua saya sudah berumur 80 tahun dan kondisi kesehatannya juga sudah menurun, jadi saya takut," cerita Mikron.

Selain itu, Ia juga mengatakan kepada Babelreview terpaksa harus menahan rindu dengan kekasihnya untuk sementara waktu hingga Covid-19 ini bisa ditangani terlebih dahulu.

Untuk mengobati kerinduan dengan keluarga dan kekasih, Ia mengatakan vidio call menjadi alternatif untuk mengetahui kondisi mereka dan melepas rindu.

"Paling vido call dengan keluarga dan kekasih, karena setiap hari kita harus tau keberadaan mereka, ini yang juga jadi pemikiran saya," katanya.

Namun, pria yang hobby olahraga dan membaca ini mengungkapkan seiring berjalannya waktu kini Ia mulai terbiasa karena ini misi kemanusiaan demi keselamatan seluruh masyarakat.

Sisi Positif Di Tengah Pandemi

Pria kelahiran Pangkalpinang ini tak memungkiri ada sisi positifnya juga di tengah kondisi pandemi ini, terutama rasa solidaritas dan kekeluargaan antar sesama yang semakin erat. 

Selain itu, pola hidup yang mungkin selama ini belum sehat, dengan kondisi ini setiap orang mulai memperhatikan pentingnya menjaga kesehatan tubuh mulai dari olahraga hingga mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi.

"Sukanya, semua kompenen dan unsur masyarakat berbagai profesi bersatu padu melawan virus ini. Semua orang akan berkata yang sama berjuang bersama, hanya bagaimana kita mengaturnya," katanya.

Diakhiri diskusi dia menyematkan satu kalimat yang menjadi alasan untuk terus berjuang hingga hari ini. 

"Orang yang paling berguna dan bernilai di dunia ini adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain," tutupnya. (BBR)

Laporan: Diko Subadya