Muncul Corona Pasca Revolusi Industri 4.0

kasmirudin
Muncul Corona Pasca Revolusi Industri 4.0
Kevin Sabri.

AKTIVITAS merupakan bentuk dari pekerjaan manusia yang sering melakukan hal-hal yang menjadikan perubahan diri maupun sektor lingkungan yang dihadapi. Selepas itu teknologi menjadi primadona di pasca revolusi industri 4.0, manusia menjadi sangat mudah dalam melakukan pekerjaan maupun menumbuhkan perekonomian di berbagai kehidupan.  Akan tetapi hal ini tidak pula menjadikan masyarakat untuk berkembang dalam sektor perekonomian maupun bentuk dari kesejahteraannya. Bahkan, untuk mengunakan alat teknologi masih sulit dijangkau, memicu perkembangan pertumbuhan ekonomi, pendidikan dengan akses yang memadai tak lepas dari sebuah revolusi industri 4.0 yaitu pesatnya teknologi menjadi acuan manusia dalam melakukan aktivitas.

Perubahan revolusi industri 4.0 atau dikenal juga dengan fourth industrial revolution (4IR) merupakan era industri ke empat sejak revolusi industri pertama pada abad ke-18. Era 4IR ditandai dengan perpaduan teknologi yang mengaburkan batas antara bidang fisik, digital, dan biologis, atau secara kolektif disebut sebagai sistem siber-fisik (cyber-physical sydtem/CPS). Kemudian seorang teknisi dan ekonom jerman, yang lebih dikenal sebagai pendiri dan ketua eksekutif forum ekonomi dunia memunculkan isu mengenai fourth industrial revolution. Dia menghubungan revolusi industri keempat ini dengan buku Second Machine Age karya Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee, terutama dalam hal efek digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) pada ekonomi global, tetapi menambahkan peran yang lebih luas untuk kemajuan dalam teknologi biologi dalam perubahan-perubahan peningkatan daya saing sumber daya manusia.

Perubahan teknologi moderen yang sangat mudah di akses melalui industri era 4.0, sehingga keadaan ini juga memicu migrasi besar-besaran dari daerah pedesaan ke perkotaan, karena banyak peluang baru yang muncul di sana. Cara hidup dan cara berbisnis berubah dratis di masa moderen ini, sehingga warga menciptakan peluang baru untuk mendapatkan perekonomian yang lebih baik. Sayangnya tak lama kemudian munculnya corona yaitu virus yang sangat angkuh dan sombong ini mampu membuat sektor pertumbuhan ekonomi menjadi tak terkendali, yang dulunya pasca revolusi industri 4.0 menjadi primadona untuk menciptakan berbagai akses kehidupan berupa prekonomian kita tak berdaya, lemah perbuatan. Hilang akal sehat serta ide. Takut dihampiri corona ekonomi menjadi merana.

Revolusi industri pertama di abad ke-18 merupakan era ketika banyak penemuan penting dibuat. Banyak dari penemuan ini membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan lebih murah. Penemuan-penemuan ini menciptakan industri menufaktur baru, dan mampu mengubah masyarakat pertanian menjadi masyarakat perkotaan dalam waktu yang relative cepat. Maka hal ini akan merubah dari hal-hal yang dilakukan manusia akan menjadi pekerjaan para teknologi yaitu mesin-mesin yang diciptakan untuk membantu aktivitas masyarakat dalam sektor pertumbuhan ekonomi ke perubahan moderen. Di era pasca munculnya corona ternyata benar bahwa banyak siswa, mahassiwa, dan para pekerjaan kantoran maupun pada pekerjaan yang lainnya banyak mengunakan aplikasi yang di ciptakan untuk memudahkan aktivitas manusia seperti aplikasi zoom, classroom dan berbagai aplikasi lainnya yang digunakan para orang pendidikan serta orang-orang yang bekerja jarak jauh akan mengunakan sistem online yaitu tatap muka menggunakan aplikai-palikasi yang memudahkan aktivitass manusia.

Kira-kira 50 tahun yang lalu, revolusi industri membawa perubahan baru menuju teknologi. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan berhenti mengunakan metode analog tradisional pencatatan dan komunikasi, dan mulai mengunakan komputer. Dengan revolusi digital yang sudah berjalan dengan baik ini, dunia kini berada di titik puncak revolusi industri keempat. Revolusi industri keempat mengubah cara pelanggan berintraksi dengan berbagai bisnis untuk menciptakan perubahan ekonomi yang baru, kemudian perangkat seluler untuk menemukan informasi tentang produk dan layanan kapan saja. Sementara ini jejaring sosial memberikan kesempatan untuk secara terbuka menyuarakan pendapat pelangan mengenai penanggulangan kemiskinan melalui era 4.0 untuk menjadikan peningkatan ekonomi maka infrastruktur dan suprastruktur harus sejalan dengan pertumbuhan revolusi industri di era 4.0 ini. Hal ini tidak lagi sepakat dengan munculnya corona menjadi kekacauan dunia hayati dengan berbagai persoalan corona yakni tak lagi stabil prekonomian, pendidikan, bahkan lapanggan pekerjaan.

Revolusi industri keempat tampaknya memiliki pengaruh yang sama kuatnya dengan tiga revolusi sebelumnya. jika digunakan secara efektif,. Hal ini membuat manusia mampu mengarahkan nasibnya sendiri menjadi lebih baik. Merangkul teknologi baru dan mencari tahu cara mengunakannya akan membuat visi masa depan tersebut menjadi kenyataan. Kemudian terbukanya lapangan pekerjaan melalui teknologi tepat saji yaitu gojek, greb dan berbagai apelikasi yang sangat efesien untuk mendapatkan lapangan pekerjaan dengan hal ini sangat berpengaruh dengan kemajuan zaman revolusi industri di era 4.0 untuk memudahkan manusia lain dalam mendapatkan sesuatu dengan kebutuhan yang diperlukan. Dengan adanya aplikasi tersebut banyak yang bekerja untuk memilih pekerjaan sampingan dengan gojek, gereb dan berbagai kemanfaatan teknologi itu sendiri. Hal ini juga bisa menambahkan kebutuhan ekonomi masyarakat utuk mendapatkan pekerjaan serta kebutuhan hidup yang semakin mahal.

Sangat, sangat disayangkan semua harapan menjadi debu jalanan yang berterbangan. Bukan pesawat yang terbang, apalagi burung yang berkicau di atas awan ini hanya sebuah virus jalanan yang tercipta dari Tuhan. Yang ditumbuhkan oleh manusia yang hilang akal. Mewujudkan karantina, tak elok bila tak ada acuan pemberian ekonomi yang baik dengan menganjurkan tetap siaga dirumah dengan gejala muncul corona di kelopak mata, bukan jauh di pandang tapi dekat dari penantian yaitu kerisis pangan. Bagaimana sebuah sistem pendidikan membaik, perekonomian membaik tatkala tak ada sistem yang menjamin kualitasnya ekonomi pada munculnya corona, demikian pula semua sistem online dengan melakukan aktivitas seperti mengajar belajar. Kerja kenerja, rapat merapatkan hal ini tak jauh dari sebuah sistem online. Ini berlaku pada pasca revolusi industri 4.0.

Tubuh tenang, jiwa menekan. Hati gelisa, pikiranpun entah kemana. Muncul corona menjadi teka-teki diri, tak tau berbuat apa selain berdoa dan berusaha. Berupaya tak lagi di lakukan, karna abis akal cernaan. Perubahan sistem menjadi acuan pada hilangnya perekonomian di jagad raya, sampai detik hari menuju hari raya, masih saja seperti ini, ini saja. Menu faktur ditentukan oleh pemerintah, masyarakat dikendalikan sang perintah. Tapi  bukan Tuhan yang memberi perintah, siapa  dia kalo bukan manusia sombong dan dengki yang memiliki kuasa kaki. Teknologi lagi-lagi berfunsi, isi hati dan dompet tak lagi terkendali. Munculnya corona, perekonomian menjadi mati. untuk akses sebuah teknologi menjadi tak terkendali. Karena tak lagi mampu mencari sinyal yang begitu melebihi mahalnya kehidupan sehari-hari.

Corona, virus indah mahkota jagad raya. Kecil ukuran mematikan semuanya. Cepatlah berlalu dipermukaan bumi, kami rindu sang Ilahi dengan pertemuan bulan suci “ramadhan”. Rindu bersalaman,  tidak lagi menjadi kultur budaya karna takut oleh virus corona. Hari ini membuktikan teknologi menjadi acuan utama dalam berkomunikasi jarak jauh. Mendapatkan sumur pengetahuan tak lagi tatap muka, virus corona mengajarkan kepedihan jiwa dalam mematikan segala bentuk akses ekonomi maupun pendidikan. Suka rela, suka duka. Hanya dilakukan rumah saja demi mematikan penyebaran virus corona. Aset Negara tidak bisa menyelamatkan umat manusia selain cinta kasih sesama manusia.

Kelemahan ekonomi di pasca revolusi industri 4.0 tidak sebanding dengan kelemahan ekonomi pada munculnya corona di belahan dunia. Kegembiraan orang kaya bisa mengakses teknologi dengan berbagai cara. Kenestapaan (kesedihan) menjadi kehawatiran manusia golongan bawah untuk susah mendapatkan akses teknologi yang memadai, berbagai faktor ekonomi, mengakibatkan sebuah sistem pendidikan menjadi terhambat. Manakala pasca revolusi industri menjadi cukup mudah mengakses teknologi berbagai bentuk. Tetapi ketika muncul corona manusia menjadi sulit dalam mendapatkan akses teknologi. Bukan berati susah di dapatin tetapi susah untuk memiliki. Diibaratkan ikan dilautan beribu jenis namanya, beribu macam bentuknya, tetapi untuk mengambilnya, mendapatinya sangat sulit dikarnakan tidak memiliki alat seutuhnya. Sama dengan era sekarang ketika munculnya corona manusia menjadi membeku tak tau apa yang harus diperbuatkan.

Krisis ekonomi menjadi suatu kelemahan perekonomian nasional. Bentuk krisis tersebut berupa kesenjangan sosial, kemiskinan, tidak meratanya pembangunan dan sebagainya. Oleh karena itu dalam hal pembangunan ekonomi, Indonesia memiliki tantangan utama yaitu proses globalisasi dan desetralisasi. Bagaimana Indonesia menjaga kestabilan perekonomian itu sendiri di tengah arus munculnya corona di berbagai seluruh dunia yang menggoncangkan ketidak stabilan prekonomian dan teknologi arus yang digunakan manusia sistem online yang dilakukan setiap orang yang membutuhkan.

Beorientasi pada perkembangan globalisasi internasional, pembangunan ekonomi makro dikelola dengan hati-hati, disiplin dan bertanggung jawab, serta berlandaskan kebijakan yang transparan. Pembangunan ekonomi dan industrialisasi bertujuan untuk terciptanya transformasi ekonomi demi tercapainya tujuan nasional. Dikarnakan muncul corona menjadi teka teki diri untuk siap siaga melihat peninjauan data nasional yaitu data yang ditemukan terkena dampak covid-19 ini yakni yang terpapar secara global yang positif: 1,017,693, sembuh: 212,072, meninggal: 53,179. (sumber;CSSE/03/04/2020: 14:41). Sedangkan jumlah terpapar covid-19 di indonesia yakni. Positif: 1.986 jiwa, pasien sembuh: 134 jiwa, meninggal: 181 jiwa, data per 03 april 2020 (sumber: covid-19.go.id). hal ini pemerintah telah menetapkan covid-19 merupakan bencana nasional Non-alam serta pemerintah telah membentuk gugus tugas percepatan penanganan covid-19, yang di ketuai oleh kepala badan nasional penanggulangan bencana. Pemerintah menetapkan status masa darurat covid-19 selama 91 hari terhitung sejak tanggal 29 februani sampai dengan 29 mei 2020.

Sungguh historis munculnya corona menjadikan keterhambatan dalam segala bidang, bukan lagi revolusi industri 4.0 yang membuat prekonomian menjadi tak merata, tetapi dengan munculnya Corona Virus Covid-19 semuanya merasakan penderitaan jiwa. Layaknya rumah kuno tanpa sebuah penghuni. Penderita menangis, menjerit. Opang aping dalam memenuhi syarat kehidupan. Jangankan untuk mendapatkan akses sebuah teknologi dalam belajar mengajar, untuk makan mencukupi kehidupan terombang ambing tanpa kejelasan. (BBR)


Penulis : Kevin Sabri (Mahasiswa Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UBB/Penggiat Literasi Kosada Babel)

Editor   : Kasmir