Nganggung Maulid Nabi, Tradisi Yang Masih Bertahan di Tuatunu

Admin
Nganggung Maulid Nabi, Tradisi Yang Masih Bertahan di Tuatunu


PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID – Pandemi Covid-19 yang belum berakhir ini telah membatasi ruang berkumpul bagi masyarakat dunia, termasuk di Bangka Belitung ini.


Masyarakat diminta menerapkan protokol covid-19 dalam setiap aktivitas pribadi maupun aktivitas sosial.

Tujuannya tidak lain untuk memutus rantai penyebaran virus covid-19.


Termasuk dalam perayaan Hari Raya Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 H.

Jika sebelumnya perayaan ini bisa dilakukan lebih meriah dan lebih besar serta melibatkan ratusan bahkan ribuan orang, namun tahun ini berbeda.

Bagi sebagian umat Muslim di Bangka Belitung, perayaan Maulid Nabi Muhammad tetap dirayakan, namun dilaksanakan dengan menerapkan protokol covid-19.


Untuk masyarakat Muslim Bangka Belitung, perayaan Maulid Nabi tidak bisa dipisahkan dengan tradisi Nganggung.

Seperti yang dilakukan masyarakat Kelurahan Tuatunu Kecamatan Gerunggang Kota Pangkalpinang ini.

Pada perayaan Maulid Nabi Muhammad 1442 H ini, masyarakat juga memeriahkan Maulid Nabi dengan tradisi Nganggung.

Nganggung ini merupakan kegiatan membawa makanan di atas dulang (tampah).

Makanan itu kemudian disantap oleh warga secara bersama-sama usai pembacaan doa-doa dan pujian-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Tradisi Nganggung biasanya digelar di masjid atau bisa juda di musala.

Kegiatan ini merupakan tradisi keagamaan yang masih sangat kental, seperti di Kelurahan Tutanu ini.


Sejak Kamis (29/10/2020) pagi sekitar jam 08.00 WIB, masyarakat Tuatunu mulai berdatangan membawa Dulang berisia makanan dan lauk pauk ke Masjid Al Mukarrom Tuatunu.

Puluhan jamaah hadir memenuhi Masjid Al Mukarrom Tuatunu. Selain itu, doa dan hidangan sepintu sedulang menjadi bagian dalam perayaan maulid tahun ini.

Peringatan Maulid Nabi SAW dimulai sejak pagi hingga selesai. Acara ini diawali pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang dibacakan tokoh agama, kemudian dilanjutkan tausiah yang mengisahkan Nabi Muhammad SAW oleh penceramah.

Usai memberikan tausiah barulah dilanjutkan dengan dihidangkan makan bersama yang sudah disiapkan warga menggunakan dulang dalam acara Nganggung.


Tak hanya di masjid, warga Tuatunu juga merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut dengan menyajikan makanan dan minuman di rumah layaknya suasana lebaran, seperti makanan khas kue-kue lebaran, ketupat, minuman ringan yang tersedia di meja tamu.

Tradisi ini masih bertahan di Tuatunu dan beberapa desa di Bangka Belitung. Nganggung menjadi tradisi yang tidak bisa dilepaskan.

Pasalnya, melalui nganggung inilah silahturrahmi terjalin dengan baik dan berkelanjutan antara sesama Muslim dan masyarakat Babel secara luas. (BBR)


Laporan: @hada
Foto: fierly
Dok: babelreview.co.id