Ombudsman DPR Bersama BI Babel, Perilaku Masyarakat Kunci Pengendalian Harga Pangan

Kusuma Jaya
Ombudsman DPR Bersama BI Babel, Perilaku Masyarakat Kunci Pengendalian Harga Pangan
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Babel menggelar Diskusi Pelayanan Ramadhan (DPR) Bersama Ombudsman Babel melalui video conference zoom meeting, Jumat (16/04). (ist)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tantan Heroika S menyatakan ada 4 (empat) hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengendalian harga pangan di Provinsi Babel.

Yang pertama, strategi menjaga pasokan. Apabila dimungkinkan Provinsi Babel harus mampu menjadi produsen di negeri sendiri untuk komoditi-komoditi krusial.

Yang kedua, strategi menjaga alur distribusi barang. Hal ini berkaitan dengan upaya menekan cost rantai pasok pendistribusian barang yang panjang.

Yang ketiga dan keempat yaitu strategi menjaga agar harga terjangkau serta membangun pola komunikasi yang efektif berbagai stakeholders dan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Tantan dalam Diskusi Pelayanan Ramadhan (DPR) Bersama Ombudsman Babel melalui video conference zoom meeting, Jumat (16/04).

“Misalnya dalam hal menjaga ketersediaan pasokan di Provinsi Babel. Tidak dipungkiri masyarakat Babel sudah terbiasa mengkonsumsi produk ikan laut, sehingga secara ekonomi demand terhadap komoditas ikan laut ini menjadi tinggi di Babel dan sangat berpotensi menjadi salah satu penyumbang inflasi daerah. Oleh karena itu perlu upaya-upaya untuk merubah mindset masyarakat agar juga dapat mengkonsumsi ikan ternak/ikan darat supaya permintaan terhadap ikan laut tersebut lebih seimbang dan harga ikan laut pun nantinya dapat lebih dikendalikan”, Ungkap Tantan.

Menanggapi yang disampaikan oleh Tantan Heroika S, Kepala Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia Kepulauan Bangka Belitung, Shulby Yozar Ariadhy menuturkan bahwa dengan demikian perlu adanya sinergisitas yang kuat antar berbagai sektor sebagai instansi penyelenggara pelayanan publik, misalnya Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (TPID Babel), Satgas Pangan, Bulog, Pelaku Usaha, dan pihak-pihak lainnya.

Kolaborasi tersebut dirasa penting untuk semakin ditingkatkan, mengingat upaya pengendalian harga pangan merupakan proses yang cukup kompleks.

Kemudian lebih lanjut, Yozar mengatakan setuju dengan pernyataan bahwa perilaku masyarakat juga memiliki peran yang cukup besar dalam menjaga kestabilan harga pangan di negeri serumpun sebalai.

Masyarakat sebaiknya harus mulai memahami perilaku konsumif yang berlebihan juga dapat menjadi salah satu pemicu kenaikan harga yang tidak terkendali.

“Kami berharap masyarakat dapat menjadi konsumen yang cerdas dan bijak. Caranya cukup dengan tidak berbelanja bahan pangan secara boros yang berpotensi menyebabkan high demand sehingga terjadi lonjakan harga. Mungkin bagi masyarakat kelas menengah keatas kenaikan harga bukan sesuatu yang berarti, namun bagi mereka yang tingkat ekonominya menengah kebawah hal tersebut akan menjadi suatu masalah”, tutupnya. (BBR)