"Pacak & Lihai" (Profesional)

Kasmirudin
Adi

“Ingat! yang tahu saja belum tentu paham dan yang ‘PACAK’ saja juga belum tentu ‘LIHAI”

AGAR kita tidak terjebak dengan orang yang tahu tapi tidak paham dan orang yang “pacak” tapi tidak “lihai” kita harus pandai memilih orang yang profesional. Kenapa demikian? Karena jika kita menyerahkan sesuatu bukan pada ahlinya atau tidak sesuai dengan profesinya, pasti akan kacau atau amburadul.

Profesional adalah sikap seseorang yang mengacu pada pekerjaan atau tugas. Profesional berarti melakukan sesuatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan bidangnya. Kata profesional termasuk kata-kata yang diliputi dengan sebuah "image" yang didalamnya terdapat konteks kompeten, efisien, dan kesuksesan. Zaman sekarang profesional merupakan suatu hal yang diidam-idamkan banyak orang muda, terutama para mahasiswa yang akan menjadi seorang pembaharu masyarakat, bangsa dan negara.

Sosok yang profesional memang sangat penting dalam pembangunan suatu bangsa dan negara. Suatu negara bila dipimpin oleh seorang yang profesional pasti akan maju dan berkembang, karena seseorang pemimpin yang profesional memiliki etos kerja yang tinggi, kompeten, dan efisien untuk membangun negaranya agar maju dan berkembang.

Nah, lantas apakah sekarang ini negara kita sudah menjadi negara yang maju dan berkembang? Dan apakah pemimpin-pemimpin kita sekarang ini sudah profesional?

Pertanyaan ini masih tetap mampu untuk menarik perhatian banyak orang. Rupa-rupanya peranan pemimpin dan perangkat lembaga kecil sampai negara, sampai sekarang ini belum seluruhnya memuaskan. Cerita-cerita tentang ineffiiciency, birokratisme, penyalahgunaan wewenang, tidak tepat sasarannya suatu kebijakan, buruknya etos kerja, dan korupsi yang merajalela masih sering terjadi dan dapat dibaca di media massa. Usaha "debirokratisasi" dan "deregulasi" yang bertujuan untuk mengurangi campur tangan perangkat lembaga sampai negara dalam pembangunan, dengan demikian merupakan suatu pengakuan secara tidak langsung bahwa perangkat suatu lembaga sampai negara sering lebih dirasakan sebagai batu hambatan daripada sebagai pendukung pembangunan.

Lalu apa yang harus dilakukan? Masalahnya rupa-rupanya tidak sekadar masalah keterampilan administratif/profesional, melainkan juga menyangkut sikap dasar yaitu tanggung jawab mereka terhadap amanah dan perkerjaan yang diembannya.

Akan tetapi, bagaimana seseorang perangkat suatu lembaga sampai negara menjadi manusia yang profesional dan bertanggungjawab?

2300 tahun yang lalu, Aristoteles sudah mencatat bahwa pelajaran tentang kebaikan hanya dapat diberikan kepada orang yang sudah tahu apa itu "baik". Ini nampaknya cukup aneh. Loh kok yang mau dipelajari sudah harus diketahui sebelumnya, baru bisa dipelajari? Tetapi kalau kita refleksikan, kenyataannya memang demikian. Pengertian orang Jawa akan berkata: rasa--tentang tanggungjawab bukan sekadar pengetahuan teoritis, bukan semacam informasi yang dapat diteruskan dari yang memilikinya kepada yang belum memilikinya.

Orang yang buta warna pun percuma kita beri penjelasan tentang perbedaan antara warna merah dan hijau. Orang sudah harus tahu apa yang dimaksud dengan dua warna itu, baru perbedaan dapat dibicarakan. Begitu pula, kalau orang sama sekali tahu apa itu adil, percuma kita menjelaskan kepadanya kewajiban untuk memperlakukan orang lain dengan adil. Dan begitu pula hal tanggung jawab, baru masuk akal dia diberi pelajaran tentangnya.

Dengan demikian kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam membangun sebuah rumah yang sesuai dengan keinginan, kita harus memberikan atau menyerahkannya kepada ahlinya, bidangnya, atau tukangnya disertai tanggungjawabnya, agar tidak terjadinya  konflik, kontra dengan sang pemilik rumah yang dapat menimbulkan kerugian antara kedua belah pihak. Begitu juga dengan sebuah negara harus memiliki sosok pemimpin yang profesional dan bertanggungjawab, agar pembangunan dan kesejahteraan sosial kebutuhan masyarakat tersalurkan dengan tepat, dan apa yang menjadi amanah dan tanggungjawab seorang pemimpin bisa terlaksanakan, jika kita salah dalam memilih, menentukan pilihan dan menempatkan sesuatu bukan pada ahlinya atau bidangnya sudah pasti yang dilakukan kita adalah zolim dan akibat dari perbuatan itu kita akan menjadi korban ke-dzoliman para pemimpin yang kita pilih. Oleh karena itu kita harus memberikan jabatan atau pekerjaan itu kepada orang yang Lihai (profesional) bukan hanya sekedar Pacak (bisa), karena orang yang PACAK (BISA) saja belum tentu LIHAI (PROFESIONAL). #Salam_Pacak_dan_Lihai. (BBR)


Penulis : Adi (CJ)

Editor   : Kasmir