Pantai Temberan Ini, Dahulunya Ternyata Bekas TI Apung

Kusuma Jaya
Pantai Temberan Ini, Dahulunya Ternyata Bekas TI Apung
Suasana di Pantai Temberan di Dusun Temberan Desa Air Anyir Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka Provnsi Kepulauan Bangka Belitung. (ist)

MERAWANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Bila anda mengunjungi Pantai Temberan di Desa Air Anyir Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, tentu anda tidak pernah berpikir bahwa pantai yang di tumbuhi pohon pinus dan berdirinya 70 pondok singgah ini, dahulunya adalah laut.

Penulis berkesempatan berbincang-bincang dengan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Temberan H Zulkarnain atau lebih dikenal dengan panggilan Haji 'Ain.

"Sebelum jadi tempat wisata, ini dulunya laut pak. Dulu banyak yang buka TI Apung, sehingga laut jadi dangkal. Karena dibawa ombak, maka pasir-pasir bekas galian TI itu hanyut terbawa ombak," ungkap Ain, Kamis (8/4/2021) lalu.

Diceritakan Zulkarnain bahwa bekas lokasi TI Apung yang sudah tertimbun pasir ini akhirnya dijadikan tempat wisata seperti saat ini. Awalnya masyarakat bergotong royong menanam pohon-pohon dan menembok lobang-lobang camui serta mengeruk tempat yang perlu di keruk.

Kejelian masyarakat untuk menjadikan lokasi bekas TI ini merupakan suatu ide yang cemerlang, sehingga dusun Temberan punya pendapatan dari wisata yang di kelola saat ini.

"Syukurlah bung, walau kecil tapi cukup membantu masyarakat. Dari hasil wisata ini lumayan membantu masyarakat yang kurang mampu ketika mereka lagi memerlukan dana," jelasnya.

Dari informasi yang kami gali dari ketua Pokdarwis "Karang Merah", demikian nama pokdarwis ini, mereka hanya fokus pada layanan pengunjung. Sementara untuk membuat souvenir dan lain-lainnya, mereka masih ragu karena tiga dusun yang berada di Desa Air Anyir semuanya punya wisata pantai.

Selain itu mereka beralasan untuk di Kabupaten Bangka, banyak wisata pantai yang menjadi saingan. Tentu masing-masing tempat wisata punya kelebihan.

Pendapatan atau masukan wisata pantai Dusun Temberan yang dikelola oleh Pokdarwis Karang Merah ini, sebelum covid-19 melanda bisa memberikan penghasilan perbulan mencapai Rp 15 - 16 juta.

Dari pendapatan ini Pokdarwis Karang Merah bisa mengembangkan sarananya terutama pondok-pondok istirahat yang saat ini bertebaran di sepanjang pantai yang mereka kelola. Namun kini masukan sangat jauh berkurang, sejak covid-19 melanda.

"Pada bulan Maret, April dan Mei itu memang tidak ada sama sekali masukan bung, kosong bener-bener kosong. Namun setelah itu masukan berkisar Rp 3 juta sampai Rp 5 jutaan perbulan dan sekarang hampir Rp 9 jutaan perbulan," ujar 'Ain.

Dilanjutkan 'Ain, masuk pantai Temberan ini tidak di pungut biaya alias gratis, tidak pakai karcis, yang bayar hanya penyewaan pondol-pondok saja.

"Masuk gratis bung, tidak pakai karcis. Kami tidak mungut uang masuk. Yang bayar hanya sewa pondok-pondok ini, karena untuk rekan-rekan yang mau istirahat biar enak, juga untuk pemeliharaan disini," imbuhnya.

Untuk biaya sewa pondok istirahat ini pada hari libur Rp 50.000. Sementara untuk hari biasa tidak pakai target, kisarannya Rp 30.000, hingga Rp 50.000, dan tergantung pada kemampuan pengunjung.

Zulkarnain diberi amanah sebagai Ketua Pokdarwis Karang Merah akhir tahun 2019 hingga saat ini.

Zulkarnain punya impian wisata pantai Temberan ini bisa bersaing dengan wisata-wisata yang lain.

Selain itu Ia juga mengharapkan sentuhan pemerintah daerah agar bisa mendukung mereka dalam mengembangkan destinasi wisata yang mereka kelola saat ini. (BBR)
Laporan: mangkulul