Pariwisata Bangka BERDUKA, Banyak Karyawan Terpaksa Dirumahkan

Ahada
Pariwisata Bangka BERDUKA, Banyak Karyawan Terpaksa Dirumahkan
Suasana objek wisata Pantai Tikus Emas di Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung tampak sepi prngunjung, terpengaruh pandemi covid19. (Firly/babelreview)

SUNGAILIAT, BABELREVIEW.CO.ID – Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) menebar ancaman di seluruh dunia.

Industri pariwisata merupakan industri yang paling terdampak penyebaran virus ini. Berbagai kegiatan pariwisata pun terpaksa dibatalkan. 

Reaksi berantai atau efek domino pun terjadi pada sektor-sektor penunjang pariwisata, seperti hotel dan restoran maupun pengusaha retail.

Di Bangka Belitung dampak covid-19 sudah dirasakan sejak satu bulan lalu atau saat pemerintah mulai memberlakukan social distancing dan gaung beraktivitas di rumah saja, sektor pariwisata menjadi lesu.

Bahkan, kelesuan itu sudah dirasakan sebelum Indonesia mengumumkan ada pasien positif corona pada awal Maret 2020 lalu. 

Akibatnya sejumlah tempat wisata mengalami penurunan jumlah pengunjung bahkan terpaksa tutup untuk menekan penyebaran virus yang sudah banyak memakan korban ini.

Seperti tempat rekreasi De Locomotief dan Pantai Tongaci yang terletak di Sungailiat, Kabupaten Bangka.

Tempat rekreasi yang selalu dipenuhi pengunjung saat akhir pekan tersebut terpaksa tutup sejak 25 Maret 2020 lalu.

Berbagai kegiatan yang sekiranya akan digelar dan sudah dipersiapkan sebelumnya terpaksa dibatalkan.

Humas De Locomotief Yusak mengatakan, tutupnya De Locomotief selain karena memang mengikuti imbauan pemerintah juga karena dari pihak manajemen ingin membantu mencegah penyebaran virus tersebut.

Apalagi dalam kondisi ramai dan jarak berdekatan virus mudah menyerang ke siapa saja dan akhirnya semakin luas menyebar.

“Memang covid-19 sangat berdampak sekali bagi dunia pariwisata dimana kita tahu banyak tempat wisata untuk saat ini menutup sementara sampai waktu yang belum bisa dipastikan,” ujar Yusak.

Karena harus tutup dan tanpa pemasukan dari kunjungan, maka pihak manajemen terpaksa harus tetap mengelurkan biaya operasional.

Dampaknya perusahaan merugi dan sebagian besar karyawannya dengan berat hati dirumahkan.   

“Untuk kegiatan memang kita tidak ada lagi, jadi memang benar-benar tutup jadi mau tidak mau kita musti nombok karena tempat wisata itu mendapat pemasukan dari wisatawan yang berkunjung. Kalau untuk saat ini memang istirahat dulu,” jelasnya.

Salah satu event besar yang setiap tahun di gelar di De Locomotief dan Pantai Tongaci adalah Bangka Culture Wav. Event yang menampilkan budaya dari berbagai daerah bahkan mancanegara tersebut, tahun ini ditiadakan.   

“Kita belum tahu bagaimana langkah selanjutnya karena masih samar kapan (wabah covid-19) akan berakhir. Kita akan ikuti saja imbauan pemerintah terutama Dinas Pariwisata, kapan itu bisa dibuka atau disterilkan atau bagaimana. Jadi untuk saat ini kami belum mau bergerak sendiri. Kita ikuti petunjuk dari Dinas Pariwiata,” katanya.

Mengenai harapan kepada pemerintah agar membantu bahkan stimulus fiskal bagi sektor pariwisata, Yusak berharap nantinya akan ada keringanan pajak atau ada bantuan agar sektor pariwisata tidak semakin terjepit atau bahkan gulung tikar.

Yusak pun pernah mendengar rencana adanya keringanan pajak dari pemerintah namun belum mengetahui kelanjutannya.

Bila wabah covid-19 sudah reda dan tempat rekreasi sudah bisa buka kembali, maka pihak manajemen De Locomotief dan Pantai Tongaci akan gencar melakukan promosi di media sosial untuk menarik kunjungan.

Ia pun berharap pemerintah dapat membantu gencar mengumumkan bahwa tempat wisata sudah dapat dikunjungi dan aman dari wabah agar sektor pariwisata dapat kembali bergairah.

“Harapannya mudah-mudahan kondisi ini kembali pulih, wabah ini segera berlalu sehingga masyrakat bisa bebas berpergian dan kegiatan wisata kita bisa berlangsung lagi,” harapnya.

Pembina Bangka Flora Society Yuli Tulistianto yang aktif melakukan kegiatan konservasi di Sungai Upang, Desa Tanah Bawah, Kabupaten Bangka mengatakan, dengan kondisi wabah covid-19 ini pengunjung Sungai Upang telah dibatasi sesuai dengan imbauan pemerintah agar penyebaran virus tidak meluas.  

Begitu pun dengan kegiatan konservasi seperti penanaman pohon, merawat ekosistem sungai dan menjaga hutan tetap dilakukan, namun dengan jumlah yang dibatasi dan tetap menjaga jarak.

“Kalau pihak pemerintah desa setempat memang ingin menjadikan itu sebagai desa wisata dan kami dari Bangka Flora Society melakukan konservasi disana. Kalau pengunjung dibatasi, kegiatan kami juga seperti sekolah alam juga pesertanya dibatasi sesuai dengan imbauan pemerintah tetap jaga jarak,” ujar Tulis.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka Asep Setiawan mengatakan, dalam waktu dekat ini seharusnya digelar ritual adat untuk menyambut bulan suci Ramadan, seperti kegiatan adat Mandi Belimau yang biasanya digelar di Desa Kimak dan Desa Jade Bahrin serta kegiatan adat Nujuh Jerami di Desa Air Abik.

Kedua kegiatan adat tersebut terpaksa dibatalkan sesuai dengan himbauan pemerintah pusat untuk menekan tingkat penyebaran virus yang sudah memakan banyak korban jiwa.

“Sebelumnya kita juga menunda kegiatan Sungailiat Triathlon yang masuk dalam Calendar of Event Nasional. Festival Kota Kapur juga yang akan digelar juga terpaksa ditunda karena arah kebijakannya kegiatan pariwisata ini untuk sementara dihentikan,” ungkap Asep.

Asep mengatakan belum menerima jumlah kunjungan wisatawan untuk bulan Maret 2020, namun dari hasil pemantauan Dinas Pariwisata kondisi hotel atau pengianapan di Kabupaten Bangka sepi pengunjung.

Untuk area rekreasi pun sudah dihimbau untuk tutup sementara ini hingga situasi membaik.

“Kita prihatin karena hotel biasanya mendapat pemasukan dari kunjungan-kunjungan. Nanti mau dipantau kembali arah kedepannya karena sekarang ini mereka belum ada laporan lagi ke kami terkait dengan kondisi karyawan-karyawannya. Area rekreasi kami sarankan untuk tutup kalau restoran kami batasi waktunya, siang buka namun malam tutup lebih awal,” ujarnya.

Dikatakan Asep, situasi saat ini memang berat untuk sektor pariwisata namun jika situasinya sudah membaik di pertengahan tahun maka akan dimulai lagi program atau kegiatan pariwisata.

Namun sektor pariwisata diperkirakan tahun ini belum pulih sepenuhnya mengingat psikologis pengunjung atau wisatawan belum sepenuhnya reda. 

“Kita berharap semua pulih kembali seperti biasa, namun secara psikologis saya rasa di tahun 2020 ini mungkin belum kondusif semua. Semua kegiatan yang terkait dengan kepariwisataan sementara ini baik melalui anggaran pemerintah pusat, APBD, termasuk provinsi juga tidak melakukan kegiatan,” katanya.

Menganai kebijakan yang akan diambil oleh Pemkab Bangka agar industry pariwisata tidak gulung tikar, Asep mengatakan kebijakan pembebasan atau pengurangan kewajiban pajak ada di tingkat nasional.

Apapun kebijakan yang nantinya dikeluarkan oleh pemerintah pusat maka akan direalisasikan juga ditingkat kabupaten. 

”Yang terpenting kita berharap wabah ini bisa segera berakhir dalam satu semester ini. Apa yang menjadi prediksi menurut WHO wabah ini kalau dari daerah asalnya (Wuhan) 60 hari paling lama mungkin 90 hari. Mudah-mudahan di akhir Juni wabah ini sudah berakhir di Indonesia sehingga kebangkitan ekonomi secara nasional maupun regional untuk membuka kembali kunjungan wisata saya kira bisa kita lakukan kembali. Jadi kita mulai lagi di pertengahan tahun,” harapnya. (BBR) 

Laporan: Irwan Aulia Rahman