Pemdes Kacung Mempertahankan Tradisi Kerajinan Resam

Irwan
Pemdes Kacung Mempertahankan Tradisi Kerajinan Resam
Kerajinan resam. Foto: Istimewa

KELAPA, BABELREVIEW.CO.ID – Desa Kacung yang terletak di Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, memiliki luas wilayah 6.122 ha dan jumlah penduduk 2.551 jiwa. Desa Kacung terbagi menjadi dua dusun, yakni Dusun Kacung dan Dusun Kebayan. Desa ini sudah sejak lama terkenal dengan kerajinan resam dan menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat desa. Apalagi wilayah desa yang sebagian besar adalah perkebunan banyak terdapat tanaman resam yang tumbuh liar sebagai bahan baku kerajinan resam.

Pj Kepala Desa Kacung, Hayati menjelaskan, kerajinan resam pun akhirnya menjadi bagian kehidupan masyarakat karena sudah dilakukan secara turun menurun. Walaupun harus bersaing dengan kerajinan lain yang lebih modern, namun Pemerintah Desa tetap mempertahankan kerajinan resam sebagai buah tangan masyarakat. Mulai dari anak-anak hingga orang tua umumnya sudah terlatih untuk membuat kerajinan resam.

“Anak-anak juga banyak yang bisa membuat kerajinan resam, saat sedang libur sekolah mereka diajarkan dan ikut membantu membuat resam. Tidak hanya kopiah, tapi juga kerajinan resam seperti tas, bros, gantungan kunci, dan topi pantai,” jelas Yati.

Biasanya masyarakat menjual kerajinan resam di pinggir jalan utama atau sudah pesanan pelanggan. Namun tak sedikit juga pelanggan yang menampung kerajinan untuk dijual kembali ke daerah lain. Yati mengatakan, kerajinan resam Desa Kacung sudah dikirim keberbagai daerah di luar Bangka Belitung.

“Kalau ada pameran di luar biasanya kerajinan resam dari Desa Kacung diperkenalkan sehingga banyak orang yang tahu ada kerajinan ini. Pernah juga kami studi banding ke Jakarta atau Jogjakarta kami bawa sebagai buah tangan sehingga orang kenal dengan potensi Desa Kacung,” ujarnya.

Sebelum masa pandemi Covid-19, Pemdes Kacung setiap tahunnya menggelar pelatihan pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan keterampilan kerajinan resam, kuliner, tata rias pengantin dan keterampilan perbaikan sepeda motor atau bengkel. Hal tersebut dilakukan guna mengembangkan keterampilan masyarakat sebagai modal membangun usaha secara mandiri.

“Pelatihannya kami menggunakan dana desa untuk kepentingan masyarakat sesuai dengan bidang yang ingin digeluti. Kami biasanya juga mengundang pihak kabupaten dan provinsi dalam pelatihan,” ujarnya.

Yati juga mengatakan, Desa Kacung juga telah mendapat bantuan dari pemerintah provinsi alat cetak ukuran kopiah atau topi pantai yang sangat membantu para pengrajin resam sebagai acuan standar ukuran kepala. Dengan begitu masyarakat lebih semangat dalam memproduksi kerajinan resam.

Kami sudah mendapat bantuan dari provinsi untuk cetak ukuran Bersama desa dendang juga, jadi dengan bantuan tersebut masyarakat bisa membuat peci resam dengan ukuran-ukuran yang standar juga bisa untuk standar ukuran topi pantai.

Pemdes Kacung juga mendukung potensi baru yakni cetak sawah di lahan tidur milik masyarakat. Dikatakan Yati, masyarakat membuat persawahan karena melihat keberihasilan desa lain yang mencetak sawah. Karena ada lahan tidur dekat dengan aliran sungai sebagai irigasi maka dibuatlah cetak sawah pada 2018 di Desa Kacung. Terbukti, saat ini sawah tersebut sudah beberapa kali panen padi. Hasil panen tersebut digunakan untuk dikonsumsi maupun dijual.

“Sekarang sedang dibangun irigasi, kalau penyuluh pertaniannya sudah dari awal karena ada dan waktu itu dana desa juga sudah disiapkan untuk cetak sawah. Masyarakat melihat sawah sangat bagus bila dikembangkan di Desa Kacung apalagi desa lain sudah ada yang lebih awal mencetak sawah dan berhasil, jadi kenapa kami tidak, maka masyarakat ajukan untuk cetak sawah,” ungkapnya.

Desa Kacung juga memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan unit usaha agen gas LPG, penyewaan tenda dan kursi. Usaha penyewaan tenda dan kursi sempat berhenti, namun berjalan kembali diakhir 2019. Renacananya Pemdes Kacung akan menambah kembali unit usaha BUMDes, yakni jual beli sawit dan tambak ikan lele.

“Namun karena Covid-19 melanda maka kami belum bisa menganggarkan dana untuk membuka unit usaha baru. Mudah-mudahan ditahun-tahun berikutnya bisa membuka unit baru dan berjalan dengan lancer agar bisa menyumbang PADes,” jelasnya.

Karena kekosongan kepala desa maka Hayati atau yang akrab disapa Yati ditunjuk menjadi Pj Kades Kacung oleh Camat Kelapa dan resmi menjabat pada November 2019. Sebelumnya ia menjabat sebagai Kepala Seksi Pelayanan di Kantor Camat Kelapa. Dikatakan Yati, ia akan menjabat sebagai Pj Kades hingga resmi dilantiknya kepala desa yang baru.

“Selama menjabat pasti ada suka dan duka, kalau Sukanya itu perangkat desa hingga RT dan RW kompak dan saling mendukung. Kalau dukanya sering ada suara sumbang kepada perangkat desa, tapi itu biasa dan kita sikapi dengan bijak,” ujar Yati.

Yati berharap Desa Kacung semakin maju dan sejahtera. Perangkat desa maupun masyarakat lebih kompak dan saling bahu-membahu memajukan desa. Juga semoga kepala desa yang baru nanti lebih baik lagi dan bisa meneruskan apa yang sudah dicanangkannya selama menjadi Pj Kades. (BBR)

 

Laporan: Irwan