Pemkab Bangka Targetkan Zero Stunting Tahun 2023

Irwan
Pemkab Bangka Targetkan Zero Stunting Tahun 2023
BINGKISAN - Bupati Bangka Mulkan (tengah) memberikan bingkisan berupa beras dan tas berisikan susu ibu hamil dan ibu menyusui kepada wakil peserta Edukasi Gizi Seimbang pada Ibu Hamil dan Menyusui serta Pelatihan bagi Tenaga Kesehatan dalam Upaya Pencegahan Stunting di Balai Desa Deniang, Jumat (18/11/2022).

BANGKA, BABELREVIEW.CO.ID -- Bupati Bangka Mulkan menegaskan  Pemerintah Daerah (Pemda) Bangka bertekad untuk menghapuskan stunting di wilayah pada tahun 2023.

Ia yakin target itu tercapai karena tahun lalu berhasil menurunkan angka stunting dari semula 32,27 persen hingga menjadi 17,9 persen pada tahun ini. Di sisi lain, 11 desa yang merupakan lokus (tempat) kasus stunting di Kabupaten Bangka telah berkurang tiga, kini menjadi delapan desa.

“Kita yakin target zero growth terhadap stunting dapat terwujud pada tahun 2023. Selain dukungan dari semua lapisan masyarakat, instansi  terkait dan  peran aktif dari organisasi masyarakat, Pemda Bangka pun telah membentuk  Satgas Penanganan Stunting,” tukas Mulkan ketika membuka Edukasi Gizi Seimbang pada Ibu Hamil dan Menyusui serta Pelatihan bagi Tenaga Kesehatan dalam Upaya Pencegahan Stunting di  Balai Desa Deniang, Jumat (18/11/2022).

Acara  ini digelar organisasi masyarakat ‘Bemper’ (Barisan Pengurus Elemen Masyarakat Peduli Ekonomi Rakyat) yang bekerja sama dengan Pemda Bangka di ruang pertemuan Puskesmas Deniang.

Hadir sedikitnya 100 ibu hamil dan menyusui, kepala desa, penyuluh kesehatan masyarakat, wakil dari Polres Bangka, Danramil Belinyu, wakil dari Lanal Bangka dan tokoh masyarakat setempat.

Dalam acara ini Bupati Bangka menjelaskan berbagai upaya pencegahan terjadinya stunting sejak awal bagi ibu hamil dan menyusui, sementara  dua  pakar kesehatan, yakni dr. Sophika Umaya, M.Gizi SpGZ (Dokter Spesialis Gizi RSUD Depati Amir, Bangka) dan Erna Julianti, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.An (Dosen D3 Keperawatan UBB), masing-masing memberikan penyuluhan tentang ‘Edukasi untuk Tumbuh Kembang Anak dalam Mencegah Stunting’, dan Pelatihan ‘Gizi Seimbang dan Pencegahan Stunting’ bagi tenaga kesehatan.

Mulkan mengemukakan stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama,  sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Selain merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia,  stunting juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu perkembangan otaknya.

“Sudah barang tentu akan sangat memengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif,” tegas Mulkan, yang pada kesempatan itu membagi-bagikan beras masing-masing satu karung peserta, sementara ‘Bemper’ membagikan tas bingkisan  yang berisi tempat bekal makanan anak, botol minuman, susu bagi  ibu hamil dan menyusui.

Mulkan meminta ibu  hamil dan menyusui memberikan perhatian serius pada  saat  golden age atau periode emas, yang merupakan tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang paling penting pada masa awal kehidupan anak.

“Golden age meliputi 1000 hari pertama kehidupan anak yang dihitung dari masa dalam kandungan sampai dengan usia anak mencapai dua tahun. Jangan pelit, beli buah dan sayuran, berikan asupan gizi terbaik,  dan periksakan kehamilan secara teratur dan berkala,” ujar Mulkan.

Menurut Mulkan, kasus stunting terjadi di Kabupaten Bangka  dikarenakan berbagai sebab. Di antaranya karena makanan kurang bergizi, perkawinan dini (di bawah 19 tahun), lingkungan di sekitar rumah yang kurang bersih dan mengonsumsi  air minum di bawah standar kesehatan. 

“Pada tahun 2022,  di Kabupaten Bangka tercatat ada  11  desa yang merupakan lokus (tempat) stunting. Tiga desa di antaranya sudah keluar dari lokus stunting, yaitu Desa Rukam, Maras Senang dan Saing. Namun kemudian ada penambahan dua lokus stunting yaitu Desa Rebo di Kecamatan Sungailiat dan Desa Labuh Air Pandan di Kecamatan Mendo Barat. Hingga saat ini tercatat 10 desa yang merupakan lokus stunting,” ujar Mulkan.

Peduli

Sementara itu Ketua Bemper Syamsu Rizal dalam sambutannya mengemukakan tingginya komitmen ormas yang ia pimpin dalam menecagah stunting.

Kegiatan edukasi stunting  di Desa Deniang ini merupakan kegiatan kedua yang diprakarsai ormas Bemper dalam memperingati Hari Kesehatan Nasional 12 Nopember. Acara serupa yang sebelumnya di gelar ormas ini di Desa Bukit Layang 29 Januari 2022. 

“Stunting menjadi salah satu program  dan menjadi perhatian utama ormas Bemper. Kasus stunting menjadi perhatian dunia melalui WHO.  Pada tahun 2021, angka stunting di dunia sekitar 22 persen, sementara  di Indonesia 24.4 persen,” ujar Syamsu Rizal.

Dikemukakannya, tingginya angka stunting di Indonesia telah menjadi perhatian pemerintah. Baik di daerah maupun di pusat. Presiden Jokowi bahkan telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Target penurunan stunting nasional 14 persen pada tahun 2024.

“Stunting bukan hanya terjadi pada kalangan masyarakat ekonomi lemah saja. Tetapi juga bisa terjadi pada keluarga menengah karena kelalaian orang tua yang tidak memperhatikan asupan gizi anaknya,” tukas Syamsu Rizal.

Kerugian utama akibat stunting ini dapat menurunkan kecerdasan anak serta di masa depan dapat menyebabkan generasi penderita stunting kurang memiliki daya saing.

Karena itu, lanjut Syamsu Rizal, upaya pencegahan dan menurunkan angka stunting merupakan tugas semua pihak secara bersama-sama.

“Semua pihak, mulai dari pemerintah, ormas, industri, swasra, akademisi dan masyarakat bersama-sama, bahu-membahu berupaya menurunkan angka stunting supaya target  angka 14 persen pada tahun 2024  terwuju,” tegas Syamsu Rizal.

Ormas Bemper lanjut Syamsu Rizal mendukung penuh program Zero Stunting Kabupaten Bangka pada tahun 2023. Katanya, Kabupaten Bangka merupakan kabupaten terbaik dalam penanganan stunting di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama tiga tahun berturut-turut.

Bemper yang didirikan 28 April 2020, beranggotakan beragam latarbelakang. Ada yang berprofesi sebagai guru, dosen, aktivis dan profesinoal lainnya. Fokus kegiatan organisasi ini di antaranya bidang kesehatan masyarakat, berkontribusi di bidang perekonomian, lingkungan hidup, sosial kemasyarakatan dan sumber daya manusia. (*)

 

Penulis & Foto: Eddy Jajang