Pemkot Dinilai Masih Konvensional Atasi Keramaian Di Pasar, Coba Ikuti Saran Ustad Udin Ini

Ahada
Pemkot Dinilai Masih Konvensional Atasi Keramaian Di Pasar, Coba Ikuti Saran Ustad Udin Ini
Suasana di Pasar Pagi Pangkalpinang. (Ist)

BABELREVIEW.CO.ID -- Pertanyaan simpel tapi sulit dijawab. Mungkinkah wabah corona ini akan cepat berakhir?

Entah bagaimana menjawab pertanyaan ini, ketika himbauan, larangan dan aturan masih bisa berkompromi.

Ketegasan aparat pemerintah dan aparat hukum dalam mengawal peraturan yang telah dibuat juga diragukan.

Hal ini bisa dilihat dengan mata telanjang aktivitas-aktivitas keseharian yang terjadi, masih banyak aturan dilanggar tanpa ada sanksi dan tindakan tegas.

"Hingga hari ini aktivitas pasar tradisional dan jalan-jalan di Pangkalpinang dan kota-kota di Bangka Belitung ini masih saja ramai. Jika tidak ada solusi dan kebijakan yang tepat, maka kondisi ini akan berlebih dimasa Ramadhan hingga pasca Idul Fitri nanti," ujar Ust Fakhrudin,  Seorang Praktisi Sosial dan Keagamaan Bangka Belitung.

Menurut Ust Fakhrudin, pihak pemerintah dan lembaga berwenang harus mengambil kebijakan yang tepat dan terarah, agar dampak kesehatan, sosial dan ekonomi dari pandemi covid-19 di Babel ini bisa diminimalisir dan dilokalisir.

"Jika berkenan, saya mau sumbang saran. Siapa tahu ada manfaatnya untuk para pemimpin negeri ini," ucap Udin, sapaan akrab Ustad Fakhrudin ini, yang mengaku miris melihat kondisi sekarang ini di Kota Pangkalpinang dan sekitar.

Menurut Udin, ada  beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah, diantaranya mendata  seluruh pedagang di Pasar Tradisional. Sehingga diketahui pedagang tetap dan pedagang musiman.

Setelah itu, kata Udin, seluruh pedagang yang sudah didata dilakukan Tes Swab, untuk mengetahui kondisi kesehatan dan potensi terpapar  para pedagang tersebut.

Aktivitas pedagang di Pasar bisa saja tetap sebagaimana biasanya. Namun protokol kesehatan harus benar-benar diawasi dan dijalankan secara ketat.

"Setelah ini beres, maka pembeli tidak boleh datang ke Pasar. Penawaran dan pembelian dilakukan melalaui aplikasi atau secara online. Bahkan bisa memanfaatkan aplikasi zoom. Nah disinilah pemerintah harus hadir membantu kesiapan fasilitas," ujar Udin.

Lalu bagaimana dengan barang yang dibeli? Siapa yang mengantarnya?

Persoalan ini, kata Udin, bisa dijawab dengan memanfaatkan jasa Ojek online yang akan mengantarnya. Ojol dibayar bukan per order, tapi gaji harian. Dan bensin jugs bisa disubsidi.

"Pedagang dan pembeli tetap bisa berinteraksi dan beraktivitas, tetapi dengan memanfaatkan teknologi digitalisasi," tukasnya.

Dengan menerapkan mekanisme ini, kata Udin,  maka Ojol  akan tetap bisa bekerja, bahkan membuka peluang tenaga paruh waktu yang cukup luas bagi masyarakat.

Siapa yg menggaji Ojol? Presentase akumulasi keuntungan setiap pedagang, dan bisa juga dengan subsidi atau mekanisme lain yang memungkinkan adanya sinergi ekonomi  antara pedagang dan jasa para ojol ini.

"Pemerintah melakukan pengawasan dengan mudah dan ketat. Membantu menyiapkan perangkat aplikasi dan teknologinya. Insya Allah minimal satu bulan ke depan aktivitas pasar lebih terpantau dan mata rantai Covid 19 dapat terputus," pungkasnya. (BBR)
Laporan: @hada