Penasaran dengan Festival Betungkah? Yo Datang ke Tanjung Sunor Desa Pangkal Niur

Ahada
Penasaran dengan Festival Betungkah? Yo Datang ke Tanjung Sunor Desa Pangkal Niur
Festival Betungkah digelar Minggu (5/7/2020) di Desa Pangkalniur Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka.

BABELREVIEW.CO.ID -- Minggu (5/7/2020) pagi akan menjadi hari yang menyenangkan bagi masyarakat Desa Pangkal Niur Kecamatan  Riau Silip Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Betapa tidak, ketika Sang Surya mulai saja beranjak, ratusan atau bahkan ribuan warga akan mendatangi pesisir Tanjung Sunor.

Sebagian warga ini akan ikut lomba mencari kerang, dan sebagian lagi akan menonton dan menjadi juru sorak masing-masing peserta lomba.

Betungkah, inilah nama lomba yang menggoda ribuan warga tersebut. Bagi banyak orang, Betungkah masih asing terdengar. Tetapi berbeda untuk masyarakat Desa Pangkal Niur.

Betungkah sudah menyatu dengan mereka, karena tradisi ini sudah turun temurun diwariskan leluhur.

Betungkah adalah kegiatan mencari kerang saat air laut surut di pagi hari.

"Sebenarnya, Betungkah ini adalah cara nelayan kami mencari kerang atau siput di daerah bakau. Tradisi ini sudah lama ada dan diwariskan turun temurun," ujar Agustino, mantan Kepala Desa Pangkal Niur, Sabtu (4/7/2020).

Tradisi ini sudah ada sejak lama mengakar dang mengikat emosional masyarakat Pangkal Niur dan sekitar.

Dan biasanya tempat yang selalu dikunjungi untuk mencari kerang adalah Tanjung Sunur.

Dulu, Tanjung Sunur secara tradisional dikuasai Batin Maras yang kekuasaanya membentang dari Tanjung Sunur-Pangkal Tenam, Ketiping, Bambor, Mangka, Mabat, Nek Urit, Duku, Manirip, Air Manik, Pangkal Layang, Air Layang. Sedangkan Batin ini berkedudukan di Kampung Bukit Layang.

Sungai Semubur, tidak jauh dari Tanjung Sunur, telah menjadi perbatasan kuno yang memisahkan Distrik Mentok dan Distrik Sungai Liat yang kini menjadi Kabupaten Bangka Barat dan Kabupaten Bangka.

Bekas Kampung Tanjung Sunur berubah menjadi Kelekak,  seperti terekam dalam peta topografi 1933. Saat itu terdapat lima rumah kayu, pemakaman dan ditanami pohon Kelapa.

Satu-satunya peta yang menandai sebagai Kampung hanya peta tahun 1855. Selebihnya sebagai nama Tanjung, Pangkal dan Kelekak.  Misalnya Peta Inggris menulis sebagai T Soonoor.

Jalan setapak yang...

  • Halaman
  • 1
  • 2