Pendampingan dan Pembinaan Pelaku Usaha Kerajinan Harus Dilakukan Jangka Panjang

kasmirudin
Pendampingan dan Pembinaan Pelaku Usaha Kerajinan Harus Dilakukan Jangka Panjang
Program pelatihan dan pendampingan memproduksi kerajinan membutuhkan kurun waktu yang panjang sampai masyarakat bisa mandiri. (Foto: Fierly)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Untuk membangun ekonomi kreatif perlu adanya sinergitas antara pemerintah daerah dengan pelaku usaha atau entrepreneur. Sinergitas tersebut berupa program pelatihan dan pendampingan memproduksi kerajinan dalam kurun waktu yang panjang sampai masyarakat bisa mandiri. Karena selama ini pelatihan hanya dilakukan paling lama sepekan, setelah itu tidak ada pendampingan lanjutan.

“Apakah mereka didampingi dalam waktu yang panjang sampai menjadi sebuah produk sampai mereka mandiri dan bisa memproduksi produk-produk tersebut. Jadi yang masih harus dibenahi adalah program pelatihan dan pendampingan, sehingga usahanya berjalan dan masyarakat bisa mandiri,” ujar Devi Valeriani, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung Bidang Pariwisata.

Namun yang menjadi tantangan lain saat ini adalah bagaimana produk kerajinan tersebut bisa dijual dengan harga yang murah. Karena produk kerajinan khas Bangka Belitung masih tergolong mahal, seperti tenun cual, pewter dan resam. Maka perlu inovasi membuat produk yang lebih terjangkau namun tidak mengurangi nilai ciri khas daerah.

“Oleh-oleh itu tidak hanya berupa makanan ringan saja, tapi wisatawan juga ingin produk ciri khas atau  kerajinan dari Bangka Belitung. Namun kerajinan seperti pewter, resam dan cual yang tersedia di Babel ini harganya cukup mahal. Karena wisatawan cenderung akan membeli oleh-oleh dalam jumlah yang banyak untuk dibagikan,” jelas Devi.

Devi mencontohkan ketika wisatawan berkunjung ke Jogja, Bandung, Banjarmasin atau daerah wisata lain mudah mendapatkan produk kerajinan dengan harga yang terjangkau dan beragam, seperti gantungan kunci, kemeja, baju kaus, bros dan lainnya.

“Jadi kita harus bermain diharganya, bagaimana harga itu terjangkau. Karena saat ini kesan dan imagenya Bangka Belitung itu sudah mahal. Kalau produk makanan ringan snack itu di daerah lain juga ada tapi yang merupakan ciri khas Bangka Belitung seperti kerajinan itu yang masih mahal,” katanya.

Menurut Devi, kendalanya ada pada bahan baku yang mahal. Selain itu, beberapa pelaku usaha baik di Bangka maupun Belitung membuat berbagai produk kerajinan sebagaian tidak disini tapi di daearah Jawa kemudian kembali dijual Babel dengan menaikan harga jual. Dengan demikian dampak dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif pun sangat kecil bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Dikatakan Devi, seandainya saja bahan baku dari lokal dan yang mengerjakannya juga masyarakat lokal kemudian dijualnya hingga keluar daerah, maka dampak yang jauh lebih besar. Baik itu harga bisa lebih ditekan, bahan baku bisa dimanfaatkan industri hilirisasi, penyerapan tenaga kerja, pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan pendapatan asli daerah.

“Namun apakah tenaga kerja di Babel siap untuk bekerja dengan teliti, kreatif, penuh kesabaran dan berproses. Itu yang perlu dilakukan. Kembali lagi sarannya melakukan pelatihan dan pendampingan tidak sebatas hitungan hari. Panggillah orang dari luar sana bawa ke Bangka Belitung untuk mendamping dalam jangka panjang. Artinya, bisa 6 bulan atau 1 tahun,” jelasnya. (BBR)


Penulis  : Irwan
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review