Perang Ketupat Dimasa Wabah Corona Ini, Masihkah Saling Lempar Ketupat?

Ahada
Perang Ketupat Dimasa Wabah Corona Ini, Masihkah Saling Lempar Ketupat?
Aksi perang ketupat, saat perayaan tradisi dan budaya Perang Ketupat di Pantai Pasir Kuning Tempilang Bangka Barat tahun 2019. (Dok)

BANGKABARAT, BABELREVIEW.CO.ID – Perang Ketupat menjadi salah satu tradisi para leluhur  yang telah mengakar dalam masyarakat Desa Tempilang, Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Acara ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan.

Tradisi ini tidak hanya sebagai adat istiadat dan budaya, tetapi Perang Ketupat yang dipadu dengan sedekah ruwahan sebagai sarana menjalin silaturahmi dengan mengundang sahabat dan kerabat untuk datang ke Desa Tempilang. Dari tahun ke tahun acara adat Perang Ketupat ini sudah semakin moderen.

Meski memasuki Era Digitalisasi, namun tidak mengurangi tradisi aslinya, yakni baku lempar dengan ketupat yang dilakukan dua kelompok warga, di sebuah lapangan yang telah disiapkan panitia di Pantai Pasir Kuning Tempilang. 

Sebelum pesta adat ini dimulai,  terlebih dahulu dilakukan sedekah ruwah dan do'a yang dilaksanakan di Masjid Jamik Tempilang dengan tradisi nganggung oleh masyarakat setempat.

Perang ketupat bukan lagi even tingkat kabupaten, melainkan sudah masuk level tingkat provinsi dan Nasional. 

Harapannya masyarakat Desa Tempilang terus melestarikan adat budaya ini, sehingga dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke Tempilang dan Pulau Bangka secara luas.

Dalam setiap perayaaan Perang Ketupat , selalu hadir nilai positif yakni menjalin silaturahmi. Harapannya  agar masyarakat bisa menjadikan momen perang ketupat untuk menjalin silaturahmi. 

Selain itu juga untuk meningkatkan  seni budaya dan juga promosi pariwisata di Kecamatan Tempilang khususnya dan Bangka Barat umumnya,  maka perlu sekiranya terus dilaksanakannya pesta adat Perang Ketupat dan Sedekah Ruwah, yang merupakan suatu bentuk perwujudan dari tradisi para leluhur yang telah mengakar dalam masyarakat Desa Tempilang.

Acara Perang Ketupat yang telah dilaksanakan setiap tahun ini sebagai upaya penggalian seni budaya dalam rangka menjalin keutuhan bangsa dan umat beragama, serta mempererat tali silaturahmi untuk menghindari perpecahan umat beragama.

Tujuan Perang Ketupat dan ruwahan ini, agar masyarakat dapat memahami dan mengerti tentang acara ritual pesta adat perang ketupat dan sedekah ruwah tersebut. Perang ketupat merupakan nilai budaya masyarakat Desa Tempilang.

Salah satu dari hasanah budaya yang perlu tetap dipertahankan, dikembangkan,  dibina dan dilestarikan dengan kemasan unik,  menarik serta atraktif. Sehingga patut dijual untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara, agar datang menyaksikan pesta adat tahunan ini.

Untuk tahun 2020 ini, sedianya tradisi yang sudah menjadi agenda  wisata Provinsi Bangka Belitung akan digelar 19 April mendatang.

Kendati demikian, perayaan Ruah di Tempilang tahun ini akan beda dari biasanya. Pasalnya ritual  dan prosesi adat yang melibatkan banyak orang akan ditiadakan. 

Salah satunya adalah prosesi Perang Ketupat yang lazim di gelar di Pantai Tempilang.

"Prosesi yang lainnya tetap digelar. Yang ditiadakan itu hanya ritual Perang Ketupat saja," kata Medi Hestri Hakam, tokoh masyarakat setempat, Kamis (26/3/2020).

Menurut Medi, untuk ritual 'ngancak' dan 'taber' tetap digelar, mengingat ritual tersebut merupakan rangkaian penting dari prosesi ruah.

"Selain itu, masyarakat juga akan menyediakan atau membuat makanan perayaan ruah sebagaimana lazimnya. Jadi acara silaturrahminya juga masih kita gelar," ujar mantan Anggota DPRD Bangka Barat dua periode dari Fraksi Golkar ini. (BBR) 

Laporan: @hada