Perjuangan Buruh Harus Dijaga Agar Tak Ternoda

Irwan
Perjuangan Buruh Harus Dijaga Agar Tak Ternoda
Eqi Fitri Marehan (Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka)

Oleh: Eqi Fitri Marehan (Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka)

SUNGAILIAT, BABELREVIEW.CO.ID – Hari ini saya merasa sangat perihatin dengan nasib kaum buruh yang ada di Indonesia. Saya juga seorang buruh merasakan upah minimum yang sangat kecil, apalagi kebutuhan selama masa pandemi Covid-19 ini sangat banyak usaha industri yang tidak berjalan sesuai harapan dan kebutuhan pokok apa saja ikut naik.

Sebagaimana millenial pada umumnya, saya termasuk orang yang aktif di sosial media, khususnya Facebook. Sepanjang saya bermain Facebook serta membaca berita media online lainnya maupun saya turun ikut aksi, saya sudah biasa melihat keributan di sana, hampir setiap hari sepertinya. Namun keributan di media online tanggal 8 Oktober 2020 hari ini sedikit agak berbeda.

Sabtu malam, 3 Oktober 2020, DPR dan pemerintah sepakat meloloskan RUU Omnibus Law dibawa ke Sidang Paripurna DPR, 8 Oktober untuk disahkan. Tragedi tengah malam kembali terjadi. Tengah malam itu, kembali para anggota DPR RI bersekongkol secara jahat untuk menindas rakyatnya sendiri.

Tampaknya DPR dan Pemerintah untuk kesekian kalinya kembali mengkhianati rakyat dengan menyepakati RUU Omnibus Law atau RUU Cipta Kerja. Persis sama seperti KPU yang mengumumkan hasil Pemilu bermasalah yang sarat dengan kecurangan.

Rakyat dan Umat Islam di berbagai daerah serta elemen mahasiswa islam protes RUU HIP dan lalu di ubah menjadi BPIP. Agar RUU di batalkan. Toh pemerintah ngotot tetap pertahankan RUU HIP tersebut.