Pertanian Desa Pusuk Menggabungkan Perpaduan Sistem Tradisional dan Teknologi Kekinian

Ahada
Pertanian Desa Pusuk Menggabungkan Perpaduan Sistem Tradisional dan Teknologi Kekinian
Gubernur Babel Erzaldi Rosman bersama warga Desa Pusuk melihat hamparan padi di sawah-sawah di desa setempat. (Ist)

BANGKABARAT, BABELREVIEW.CO.ID -- Saat ini sistem pertanian di Desa Pusuk Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat masih mengandalkan cara-cara tradisional, khususnya menanam padi.

Karekteristik sebagai masyarakat melayu yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan begitu menonjol.

Waktu bertanam (padi) yang mereka istilahkan dengan tradisi menugal itu, dilakukan secara gotong royong atau lebih dikenal dengan besaoh yakni tenaga dibayar tenaga.

"Kalau tiba masa tanam (padi), biasanya dilakukan dengan cara besaoh. Pemilik lahan merasa sangat terbantu karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar upah mereka yang membantu menugal, namun nanti berkewajiban membayarnya dengan bekerja di kebun mereka. Bisa juga dengan bentuk pekerjaan yang sama (menugal) atau beda pekerjaan," ungkap Kadus 1 Pusuk Utara, Maryono, Kamis (25/06/2020).

Selain mengedepankan nilai-nilai kebersamaan, besaoh juga sangat efektif dan ekonomis.

"Selain tak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk membayar upah, dengan sistem besaoh ini akan membuat pekerjaan yang banyak dan berat, menjadi cepat selesai dan ringan," ungkap Maryono yang juga bergelut sebagai aktivis lingkungan ini.

Ia juga menuturkan, kearifan lokal dalam tradisi menanam padi di Desa Pusuk Kecamatan Kelapa tak hanya diwujudkan pada masa bertanam saja.

Pun, ketika selesai masa panen, terlebih jika hasil panen melimpah, maka pemilik ladang diwajibkan menyedekahkan sebagian hasil panennya kepada warga yang membutuhkan.

Tradisi ini oleh masyarakat Desa Pusuk (juga oleh sebagian besar masyarakat di Pulau Bangka) disebut dengan istilah membayar isab.

Lazimnya jika  bibit yang ditebarkan sebanyak satu kaleng (kaleng minyak) kemudian pada masa panen menghasilkan 10 kaleng padi, maka pemilik ladang wajib mengeluarkan/menyedekahkan satu kaleng padi sebagai wujud rasa syukur atas panen yang melimpah itu.

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Pusuk, Dani, dalam kesempatan tersebut mengatakan, untuk meningkatkan hasil panen, sistem tradisional ini patut dipertahankan dan dipadukan dengan teknologi pertanian saat ini.

"Teknologi pertaniannya kita pakai, namun nilai atau sistem tradisinya tetap kita pertahankan," kata Dani.

Sebab lanjut Dani, untuk hasil panen yang maksimal tak mungkin diperoleh dengan mengabaikan teknologi itu sendiri.

"Misalnya untuk lebih efektif cara memanen, mungkin perlu mesin perontok. Atau kalau untuk sawah kita butuh irigasi yang baik, ini semua perlu teknologi," ungkap Dani.

Hasil produksi juga akan baik dan meningkat jika bibit yang digunakan berasal dari varietas unggul.

"Tehnik bertanam juga perlu ditingkatkan lagi. Juga penggunaan pupuk dan lain-lain. Intinya petani kita harus disiapkan dengan segala fasilitas pendukung dan teknologi yang baik sehingga hasil panen sesuai dengan keinginan kita," jelas Dani.  (BBR)

Laporan: ichsan mokoginta dasin

Editor: @hada