Petani Desa Bukit Layang Kembangkan Padi Gogo

kasmirudin
Petani Desa Bukit Layang Kembangkan Padi Gogo
Masyarakat Desa Bukit Layang mengembangkan padi gogo. (ist)

SUNGAILIAT, BABEL REVIEW -- Petani Desa Bukit Layang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berhasil mengembangkan padi ladang atau gogo guna memenuhi kebutuhan beras untuk masyarakat desa setempat.

"Kami berhasil mengembangkan padi ladang seluas kurang lebih 67 hektar dari potensi luas areal padi ladang mencapai 100 hektar," kata anggota Gapoktan Layang Permai, Dion di Sungailiat.

Padi ladang yang berhasil dikembangkan oleh petani kata dia, masih menggunakan pola berpindah-pindah lahan dengan kemampuan produksi mencapai 1.5 ton per hektar gabah kering.

"Saya mengakui, kemampuan produksi padi ladang lebih rendah dibandingkan padi sawah karena jumlah anakan padi lebih sedikit dan waktu masa panen cukup lama," jelasnya.

Menurutnya, musim tanam padi ladang bagi petani Desa Bukit Layang hanya mampu setahun sekali dan dilakukan penanaman tanaman lain setelah musim panen.

"Saya menganggap cukup berhasil petani mengembangkan padi ladang meskipun saat ini masih dalam tahap awal, varietas padi yang ditanam petani dipilih jenis padi unggul seperti padi  merah," jelasnya.

Sedangkan untuk pengembangan padi sawah kata dia, masih mengantungkan kondisi musim penghujan karena sawah tadah hujan.

"Potensi sawah mencapai kurang lebih 250 hektar dengan lahan yang sudah berhasil dikembangkan mencapai 100 hektar, kemampuan produksi 250 ton perhektar gabah kering," jelasnya.

Menurutnya, untuk menggarap sawah, para petani masih mengandalkan kondisi musim penghujan belum tersedianya sarana irigasi primer.

"Dengan keterbatasan sarana irigasi mengakibatkan kemampuan petani bercocok padi hanya sekali dalam setahun," katanya.

Kedepan dia berharap sektor pertanian baik padi ladang maupun padi sawah di desanya dapat dimaksimalkan guna mendukung pemenuhan ketahanan pangan lokal.

Sementara Kepala Desa Bukit Layang, Andry mengatakan, kedepannya sektor pertanian harus menjadi sektor ekonomi yang memiliki keunggulan komparatif dan menjadi kontributor utama sekaligus "Primer Mover" dalam perekonomian di daerah.

"Para petani harus mendapat penyuluhan dan pembinaan terus menerus sampai akhirnya berani meninggalkan pola lama yang tradisional beralih penguasaan pengetahuan dan keterampilan mengenai budidaya tanaman padi dengan teknologi yang terus berkembang," jelasnya. (BBR)


Penulis : Ant   
Editor   : Kasmir
Sumber : Babelreview