Pewarna Alami Berbahan Bakau Asal Bangka Selatan Disukai Warga Denmark

kasmirudin
Pewarna Alami Berbahan Bakau Asal Bangka Selatan Disukai Warga Denmark
Dr Delianis Pringgenies MSc, saat menjelaskan pewarna alami kepada peneliti Aarhus Universiti Denmark. (ist)

BANGKA, BABELREVIEW --  Pewarna alami berasal dari pigmen tanaman bakau Bangka Selatan (Basel), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,  selama tiga hari (19-22 September) dipamerkan kepada  masyarakat Denmark, University of Aahus, dan Kedutaan Besar Indonesia di Denmark.

Presentasi pewarna alami  yang disampaikan  pakar bioteknologi Indonesia, Dr Delianis Pringgenies MSc (ketua),  Dr Ervia Yudiati, Dr Ria Azizah dan Endang Susilowati MSc (anggota), mendapat tanggapan positif baik dari warga masyarakat Denmark, ilmuan dan peneliti  Aahus Universiti maupun dari staf dan dubes RI di Denmark.

“Tanggapan positif datang dari semua pihak, karena pewarna alami dari pigmen bakau itu sesuai dengan kampanye back to nature, ramah lingkungan, dan green issue; kecuali itu ia sangat baik bagi kesehatan pemakai pakaian berbahan alami,” ujar Delianis, menerangkan,  Rabu (26/09/2018) pagi.

Pemaparan pewarna alami dari tanaman bakau di Denmark dilakukan secara maraton.  Tanggal 19 September di depan warga Denmark yang dikordinatori keluarga Willy Rasmussen, 20 September di depan ilmuan dan peneliti Aarhus Universiti dan 22 September di Kedutaan Besar Indonesia di Denmark.

Pewarna alami  berasal dari pigmen buah dan ranting tanaman bakau  Desa Tukak Sadai Basel itu, disukai masyakat Eropa dan Amerika.  Di samping karena tidak mengandung bahan kimia, pakaian yang menggunakan pewarna pigmen bakau ini  tidak menyebabkan alergi dan iritasi.

“Bahan yang terkandung dalam pigmen bakau, atau mangrove, itu di antaranya  natural tanin, yang juga berfungsi sebagai bahan pengawet alami,” tukas Delianis, salah seorang dosen di Universitas Diponegoro, Semarang.

Dr Delianis, istri dari Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc (pakar marine geopark), dikenal sebagai seorang pakar marine bioteknologi dunia  yang dikenal  konsisten melakukan penelitian dan membuat produk dari bahan-bahan alami.

Bekerjasama dengan Dharma Wanita Basel yang diketuai Ekawati Yustiar,  Delianis  bulan lalu telah mempraktikkan cara mengolah buah dan tangkai bakau sebagai pewarna alami  kepada ibu-ibu Desa Tukak Sadai.

Ia juga menjelaskan, tingginya nilai ekonomis cangkang kepiting yang banyak  dibuang-percuma oleh warga setempat.  Cangkang kepiting  itu bila diolah sedemikian rupa dapat menjadi bahan  pengawet makanan alami.  Di kalangan industri dikenal sebagai chitosan.

Sebagaimana dilakukan di  Desa Tukak Sadai, Basel,  pemberdayaan bagi masyarakat pesisir juga dilakukan Delianis di sejumlah provinsi.  Termasuk mengenalkan pewarna alami bakau kepada pengrajin batik di Jawa Tengah.

Dalam konsep pemberdayaan masyarakat pesisir, Delianis dan rekan-rekannya paling sedikit dua keluarga yang mereka bina.  Yaitu masing-masing satu keluarga untuk membuat pigmen dari ranting dan buah bakau, dan satu keluarga bekerja sebagai  pembatik.

“Upaya ini juga sekaligus dapat meningkatkan pendapatan keluarga masyarakat yang kita bina.  Bayangkan saja, harga batik berbahan pewarna alami itu  berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta lebih,” ujar Delianis.

Di pasar internasional lanjut Delianis, harga produk berbahan alami  sangat tinggi.  Ini terjadi karena alasan kesehatan,  ‘back to nature’ (kembali ke alam) dan ‘green issue’ (isu hijau), yang saat ini marak dan menjadi acuan  bidang  kesehatan  di semua negara. (BBR)


Penulis : Kusuma
Editor   : Kasmir
Sumber :Babelreview