PHK Sebagai Kado Terpahit Buruh Indonesia

Ibnuwasisto
PHK Sebagai Kado Terpahit Buruh Indonesia
Eqi Fitri Marehan, Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka. (Foto.Ist)

TANGGAL 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional (International Labour Day). Hari ini juga dikenal sebagai May Day. Hari buruh tahun ini tak seperti biasanya. Hari ini tak ada aksi turun ke jalan. Tak ada demo yang menyuarakan aspirasi kaum buruh. Hari ini para buruh sedang berduka karena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi dimana-mana. Inilah duka buruh di Hari Buruh.

Seperti diberitakan sejumlah media , di Bangka Belitung misalnya, imbas dari wabah virus Corona (Covid-19) telah memukul banyak perusahaan. Imbasnya, PHK dibangka Belitung tercatat 221 pekerja kena PHK dan 1.338 pekerja dirumahkan akibat harus kehilangan pekerjaannya. sebagian besar perusahaan yang terdampak penerpa PSBB berasal dari sektor pariwisata , perusahaan, data per 30 April 2020. Secara nasional, jumlah PHK juga terus bertambah.

PHK telah menjadi pilihan sejumlah perusahaan yang tak sanggup lagi bertahan. Ada yang melakukan PHK dengan memberi pesangon, namun sejumlah perusahaan melakukan PHK tanpa pesangon. Situasinya serba sulit bagi perusahaan, juga bagi buruh. Duka ini adalah duka para buruh, juga duka bagi perusahaan. Pandemi Covid-19 benar-benar berdampak serius pada perekonomian Indonesia dan dunia.

Buruh Adalah Kita

Siapa sejatinya buruh? Dalam pandangan umum, sebenarnya setiap kita adalah buruh. Buruh bukanlah hanya orang-orang yang bekerja jadi pegawai di perusahaan-perusahaan saja. Buruh bukan hanya pekerja pabrik. Setiap kita ketika harus bekerja pada orang lain atau pihak tertentu adalah buruh. Buruh adalah semua pekerja pada bidang, level, dan jenis pekerjaan apapun.

Profesi apapun adalah buruh. Misalnya, jurnalis itu juga buruh bagi masyarakat yang membutuhkan berita. Profesi dosen itu juga buruh yang harus melayani mahasiswa. Dokter dan petugas medis sebenarnya juga buruh yang harus merawat pasien. Para politisi, para pemimpin daerah dalam berbagai level, juga para wakil rakyat itu sebenarnya juga buruh yang digaji oleh rakyat.

Kalau berbicara tentang imbas pandemi Covid-19, sesungguhnya siapa yang sesungguhnya terkena dampak? Ya, semua orang pasti terkena dampak. Hanya saja kadar pukulan dampaknya yang berbeda-beda. Bagi perusahaan yang mempekerjakan banyak karyawan tentu menjadi simalakama. Maunya tetap mempertahankan karyawan, namun disisi lain produksi terus menurun, hingga tak mampu lagi membayar gaji karyawan.

Idealnya dalam hubungan perburuan memang terjalin relasi yang harmonis. Namun apa dikata, kondisi pandemi ini telah menyulitkan semua posisi. Posisi majikan maupun posisi buruh. Antara majikan dan buruh selama ini konsep yang umum berjalan adalah simbiosis mutualisme. Kerjasama dan saling menguntungkan. Kerjasama yang saling memberi keuntungan yang saat ini sulit diwujudkan karena wabah pandemi.

Karena buruh adalah kita, maka spirit yang perlu dibangun adalah semua kita sejatinya bernasib sama. Tak ada yang merasa paling menderita dan tak ada yang paling beruntung. Munculnya pademi Covid-19 ini memang tiba-tiba. Tak ada yang merencanakan dan mengantisipasi sebelumnya. Tak ada prediksi situasinya bakal separah saat ini. Ini adalah situasi yang sama-sama tak mengenakkan bagi majikan dan buruh.

Harapan yang mungkin masih tersisah adalah tertumpu pada pemerintah dan sejumlah pihak yang terkait. Karena segala masalah yang harus dihadapi rakyat sebagai warga negara adalah menjadi tanggungjawab pemerintah. Sejumlah terobosan dan solusi memang telah dilakukan pemerintah. Namun ketahanan pemerintah akan mampu berapa lama? Ini tentu membutuhkan peran serta kita semua.

Duka Buruh Adalah Duka Kita

Setiap kita sesungguhnya sedang berduka saat ini. Bukan hanya keluarga korban meninggal karena keganasan virus Civid-19 saja yang berduka. Terjadikan PHK besar-besaran sesungguhnya adalah duka. Perasaan panik, ketakutan, tak boleh keluar rumah adalah duka. Semua harus terkungkung di dalam rumah adalah juga duka. Walau semua ini hanya sementara, namun saat ini, semua yang kita alami adalah sebuah kedukaan.

Sedihnya para buruh karena kehilangan sumber pendapatannya adalah duka. Duka bagi si buruh terkena PHK, juga duka kita semua. Hari ini bisa jadi kita melihat teman atau tetangga kita yang kena PHK, bisa jadi, selanjutnya adalah kita. Maka, duka yang sedang dirasakan para buruh korban PHK adalah duka kita semua juga.

Tak ada yang bisa memastikan bahwa situasi tak menentu ini akan berlangsung sampai kapan. Kalau demikian, ini akan menjadi bom waktu. Kalau situasinya semakin memburuk tentu kedukaan ini akan semakin menyebar dan semakin banyak korbannya.

Situasi yang sulit diprediksi karena serangan musuh virus yang tak tampak mata ini telah menambah kedukaan kita semua. Pada situasi duka buruh saat ini maka munculnya empati dan simpati sesama menjadi sangat utama. Panggilan perasaan duka buruh adalah duka kita semua bisa menjadi spirit untuk saling berbagi dan memberi. Uluran tangan dari sekelompok masyarakat yang saat ini masih cukup beruntung menjadi penting guna ikut merasakan penderitaan orang terkena PHK.

Masyarakat yang masih mampu mengulurkan tangan di atas bagi tangan-tangan di bawah adalah harmoni dalam hubungan kita sebagai manusia. Kita tak perlu melihat siapa buruh, siapa majikan. Yang utama adalah bagaimana situasi duka saat ini bisa menjadi kesempatan bagi siapa saja untuk saling merasakan dan meringankan. Tak perlu lagi memandang dengan batas keras saya majikan dan kamu buruh.

​Mari kita bicara sesama kita sebagai manusia. Esensi dari sifat manusia sejatinya adalah rasa kemanusiaannya. Kita semua sedang diuji oleh wabah pandemi Covid-19 ini. Ini memang wabah kesehatan, namun sejatinya peristiwa ini bisa bernilai ujian kemanusiaan kita sebagai sesama manusia. Selamat merayakan Hari Buruh dalam situasi duka. Duka Buruh adalah duka kita semua. Semoga badai ini segera sirna. Aamiin. (BBR)


Penulis : Eqi Fitri Marehan. (Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka, anggota ATPUSI Bangka)

Editor :

Sumber : Babel Review