Pokdarwis Kecam Pemborong Yang Tak Bersihkan Sampah Bekas Pembangunan Gazebo

kasmirudin
Pokdarwis Kecam Pemborong Yang Tak Bersihkan Sampah Bekas Pembangunan Gazebo
Wisata Batu Belimbing Toboali yang dipenuhi dahan pohon yang terkesan dibiarkan pihak pemborong saat membangun gazebo di lokasi wisata tersebut. (Foto: Andre)

TOBOALI, BABELREVIEW.CO.ID -- Pembangunan fasilitas penunjang pariwisata seperti panggung dan gazebo, seyogyanya untuk mempercantik sebuah destinasi wisata.

Namun pembangunan fasilitas penunjang pariwisata tersebut menimbulkan masalah baru, karena para pekerjanya justru mengotori tempat wisata tersebut. Hal ini terjadi di area wisata Batu Belimbing Toboali, Bangka Selatan.

Tidak dibersihkannya sampah sampah tersebut mendapat kecaman dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Ketua Pokdarwis Batu Belimbing, Adi Sandra mengeluhkan puing - puing pohon yang berserakan di area wisata batu belimbing ulah dari pihak pemborong.

"Keluhannya bukan hanya itu saja, pihak pemborong tampak tidak serius justru seolah-olah tidak mempedulikan keluhan tersebut,” sesalnya.

 Lebih lanjut ia mengatakan, sumur yang ditimbun juga sebelumnya pernah dimintai warga untuk di gali kembali, namun lagi-lagi tak ditanggapi oleh pihak pemborong.

"Kami selaku pelaku pariwisata sangat kecewa atas kinerja pemborong tersebut. Dimana mereka juga terkesan semena mena dalam bekerja dan tidak menghargai warga, " imbuhnya.

Dari dulu sambungnya, mereka selalu menjaga kebersihan bersama anggota Pokdarwis lainnya. Karena kebersihan merupakan hal yang paling utama dalam unsur sapta pesona.

"Kami minta kepada pihak pemborong tolong hargailah kami yang ada di Pokdarwis. Kalau mau cari untung ya silahkan, tapi jangan objek wisata yang dikorbankan," keluhnya.

Terpisah, Ketua Pokdarwis Kelisut, Adil mengeluhkan bahwa Pokdarwis tidak diberdayakan dalam hal pekerjaan.

"adahal sebelumnya kita di Pokdarwis selalu dilibatkan dan diberdayakan di setiap pekerjaan, namun sekarang tidak lagi," sesalnya.

Menurutnya, pembangunan tersebut kan fungsinya sebagai penunjang suatu destinasi wisata. “Namun untuk masalah ini pembangunan tersebut bukannya menunjang pariwisata, melainkan merusak destinasi wisata itu sendiri,” tandasnya. (BBR)


Penulis  : Andre
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review