Polemik Hadiah Lomba Photo 50K di Babel Fair 2018, Ini Kritikan Pedas Para Pelaku Seni Fotografi

kasmirudin
Polemik Hadiah Lomba Photo 50K di Babel Fair 2018, Ini Kritikan Pedas Para Pelaku Seni Fotografi
Pray for FG Babel. (sit)

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW -- Duka dirasakan para pelaku seni fotografi  yang ada di Bangka Belitung. Sebuah ajang perlombaan foto yang akan digelar lewat event bergengsi tahunan  Babel Fair 2018, menjadi sorotan para pelaku seni fotografi yang ada di Bangka Belitung.

Pasalnya, hadiah yang diberikan untuk menghargai sebuah karya foto dianggap "melecehkan". Bagaimana tidak? Dalam poster Babel Fair 2018 terkait lomba tersebut, dituliskan hadiah 50 K pulsa bagi para 5 pemenang photo terbaik.

Tentu ini membuat para komunitas photographer yang ada di Bangka Belitung naik pitam. Berbagai kritikan pedas pun disampaikan para pelaku seni terhadap event tersebut.

Kritikan pertama datang dari Gie, yang tergabung di dalam wadah FBI (Fotografer Babel Island). Ia menganggap hadiah tersebut telah menodai nama baik fotografer yang ada di Bangka Belitung.

“Menurut saya ini sudah melecehkan para fotografer di Bangka Belitung," ketusnya.

Senada dengan Gie, kritik juga datang dari Hendra Shahab seorang fotografer yang telah berkecimpung di seni fotografi sejak tahun 2013 lalu, pun menyayangkan perlombaan foto dengan hadiah seperti itu.

"Saya pribadi menilai ini sangat tidak pantas. Acara tahunan loh sekelas Babel Fair, bikin lomba foto dengan hadiah yang masih kalah jauh dibanding acara 17-an kelurahan. Apalagi ini bukan tahun pertama Babel Fair, tapi kok malah semakin menurun kualitas eventnya. Lebih baik jangan diadakan banyak lomba kalau memang tidak punya dana, fokus aja dengan satu lomba tapi spektakuler. karena disini, event Babel Fair sebagai event tahunan Bangka Belitung yang ditunggu cukup dinanti-nanti masyarakat," harapnya.

Kritikan tersebut dianggap wajar, karena sebuah hasil karya yang dihasilkan dengan usaha yang tak mudah seperti seni fotografi terlalu rendah dihargai seperti itu.

"Sangat miris atas sikap pihak penyelenggara yang terkesan tidak menghargai para fotografer yang ada di Babel khususnya. Jika  memang tidak ada anggaran lebih baik ditiadakan hadiah uang 50 ribu tersebut, diganti dengan piagam atau trophy lebih baik dari pada nilai uang 2 bungkus nasi + es teh tersebut," ucap pelaku seni photo asal Muntok, Silo Sandro.

“Baginya sebagai fotografer kesenian yang mungkin dinilai standar nilainya. Namun, kami membeli alat-alat fotografi bukan murah dan butuh waktu untuk belajar mendapatkan gambar yang bagus untuk dapat mempromosikan wisata Bangka Belitung,” ucapnya.

"Baiknya pihak penyelenggara meminta maaf kepada para fotografer yang ada di Babel, baik secara lisan atau tulisan yang dapat di akses di media sosial. Saya berharap tidak ada lagi kejadian seperti ini yang menyakiti hati kami para pelaku seni fotografi, tanpa diminta oleh kalian para penyelenggara. Kami selalu mempromosikan wisata yang ada di Babel melalui profesi kami sebagai photografer," tegasnya.

Sampai saat ini permasalahan tersebut, masih menjadi pembahasan serius para komunitas photografer media sosial, baik itu di facebook atau grup whatsapp.

Hal tersebut diungkapkan Mierdiansyah selaku Ketua Komunitas Landscape Babel, yang mana lomba ini telah menjadi perhatian semua pelaku seni photo khususnya di Babel.

“Pertama kali tahu tentang lomba foto ini dari media sosial whatsapp di grup F.B.I dan langsung menjadi bahasan serius di whatsapp dan FB, beberapa fotographer lokal dan nasional, jujur sedikit tidak menyangka hadiah untuk selevel Babel Fair 2018 seperti hadiah lomba mewarnai tingkat PAUD dan TK. Sungguh sangat jauh dari level lomba foto Kabupaten Basel (TCOF) dan Kabupaten Belitung, seakan akan hasil karya FG tidak dihargai. Padahal untuk menghasilkan sebuah karya butuh source besar seperti akomodasi dan investasi kamera," imbuhnya.

 Ia juga berpesan kepada penyelenggara, agar dapat berkoordinasi dengan komunitas photografer yang ada di Bangka Belitung, jika ingin membuat event lomba foto.

"Seharusnya untuk mengadakan perlombaan selevel provinsi kita ada APFI (Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia) dan beberapa komunitas FG Babel, yang bisa diminta koordinasi. Sehingga bisa menyelenggarakan event lomba foto yang berkelas dan benar-benar bisa diikuti oleh FG lokal dan nasional dan pihak panitia bisa mendapatkan foto-foto berkelas yang bisa digunakan untuk promosi wisata Babel," tandasnya.

Kritik terakhir yang disampaikan kepada babelreview.co.id datang dari salah satu anggota Komunitas Photographer (KoPer) Universitas Bangka Belitung, Hazi.

Menurutnya, selaku fotografer ia menganggap hadiah tersebut tidak masuk di akal untuk sebuah penghargaan lomba foto tingkat provinsi.

“Sangat tidak etis, untuk menghargai hasil karya seorang FG yang berjuang untuk menangkap gambar yang indah dan ditambah lagi itu untuk lomba foto dalam rangka mempromosikan pariwisata daerah sendiri,” tukasnya. (BBR)


Penulis : Fierly 
Editor   : Kasmir
Sumber :Babelreview