Prospektif, Pemdes Lampur Pertahankan Budidaya Cabai

faisal
Prospektif, Pemdes Lampur Pertahankan Budidaya Cabai
Kades Lampur Bersama Komisi II DPRD Bateng Bangka Tengah Saat Mengecek Panen Cabai Hasil Pemebrdayaan Masyarakat. (Ist)
Hamparan Tanaman Cabai Siap Panen oleh Kelompok Tani Desa Lampur.
Hamparan Tanaman Cabai Siap Panen oleh Kelompok Tani Desa Lampur.

LAMPUR, BABELREVIEW.CO.ID -- Wabah covid-19 yang sedang melanda Indonesia tidak hanya berimbas pada kesehatan masyarakat, namun juga pada perekonomian. Banyak usaha-usaha yang merasakan dampaknya, tak hanya di kota namun di desa-desa juga turut merasakannya. sehingga memaksa pemerintah desa untuk tetap mencari cara berinovasi disaat anggaran dana desa (DD) dipangkas guna memerangi covid-19

Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Lampur, Kecamatan Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah, yang tetap mempertahan salah satu inovasi desa yaitu pengembangan sektor pertanian holtikultura jenis cabai.

Diketahui, dampak dari virus corona bukan hanya sektor ekonomi, namun berpotensi juga menggangu ketahanan pangan. Maka dari itu, dibutuhkan upaya antisipasi untuk mengembangkan komoditi kebutuhan pangan yang bisa digunakan masyarakat serta bernilai ekonomis.

Kepala Desa (Kades) Lampur, Fadri Afandi ST, mengatakan, dibalik digesernya 30 persen dana desa (DD) dan 124 juta dari ADD untuk penanganan covid atas intruksi perintah pusat tak menyurutkan tekadnya dalam mengembangkan potensi desa sektor budidaya tanaman cabai.

"Cabai merupakan salah satu kebutuhan dapur yang selalu dikonsumsi oleh manusia, oleh karena itu cabai memiliki potensi ekonomis yang sangat besar sehingga kita masukan kedalam pengembangan potensi desa tahun 2020,"ujarnya, Kamis (11/6/2020).

Ia menuturkan, peluang usaha cabai memiliki prospek yang sangat bagus, selain merupakan salahb satu bumbu dapur yang banyak digemari karena rasa pedasnya, cabai juga kaya akan kandungan seperti karbohidrat, gula, serat, lemak, vitamin A, vitamin B6, vitamin C, zat besi, magnesium, kalium, air dan capsaicin

"Banyak sektor pemberdayaan yang kita rencanakan di tahun 2020 ini diantarannya peternakan burung puyuh, tambak ikan nila dan budidaya holtikultura tanaman cabai, namun karena pandemi covid 19, banyak anggaran yang geser untuk penanganan covid 19, terkecuali sektor pertanian budidaya cabai yang masih kita pertahankan pengembangannya karena prospektif,"ucapnya.

Kenapa dirinya mempertahankan budidaya cabai, ia menjelaskan karena pada saat percobaan tahun lalu melalui pemberdayaan satu kelompok tani (poktan), pihaknya berhasil menggasilkan kurang lebih 5 ton cabai saat panen.

"Tahun lalu kita lakukan percobaan dengan support penuh poktan dari penyediaan 8000 bibit cabai, perlengkapan pertanian, pestisida hingga ketersedian pupuk hingga panen, hasilnya kita berhasil panen kurang lebih 5 ton cabai,"terangnya

Atas keberhasilan tersebut, pihaknya memutuskan untuk tetap mempertahankan pemberdayaan desa sektor pertanian namun kali ini dengan memberdayakan dua kelompok tani.

"Kita akan support sama seperti tahun lalu namun kali ini dengan dua kelompok tani, dan diharapkan adanya peningkatan hasil panen serta nilai jual dibandingkan tahun lalu,"jelasnya

Dengan anggaran yang serba terbatas ini, ia juga mesti mempersiapkan spot anggaran guna mengantisipasi jika pandemi terus berlanjut dan BLT dilanjutkan

"Intinya dibalik dana desa yang tersedot untuk penanggulangan covid, kami selaku pemdes berupaya sebaik mungkin memaksimalkan aggaran yang ada guna tetap melaksanakn program-program inovasi desa,"pungkasnya. (BBR)


Penulis  : Faisal

Editor    : Admin03