PT. BAA Berhenti Produksi, Petani Singkong Merugi

Ibnuwasisto
PT. BAA Berhenti Produksi, Petani Singkong Merugi
Puluhan petani singkong saat menyampaikan aspirasinya di halaman PT. Bangka Asindo Agri, Sungailiat Bangka, Jum'at (12/6/2020). (Foto.Ibnu)

SUNGAILIAT, BABELREVIEW.CO.ID - Beberapa petani dan penjual singkong kasesa yang sudah menjalin kemitraan maupun yang belum dengan PT. Bangka Asindo Agri (BAA) mengeluhkan karena perusahaan telah beberapa hari ini berhenti untuk melakukan produksi.

PT. BAA merupakan perusahaan pengolahan tepung tapioka yang berdiri tahun 2017 dan berada di Kelurahan Kenanga, Kecamatan Sungailiat Bangka.

Hairullah salah satu petani singkong kasesa yang berasal dari Jebus, Kabupaten Bangka Barat mengharapkan agar PT. BAA dapat melakukan aktivitas produksi seperti biasanya.

"Saya dan teman-teman lainnya sudah 3 hari nginap disini untuk antri nimbang muatan singkong yang kami bawa. Ini akibat karena adanya tim KLHK yang datang beberapa hari ini ke pabrik," ujarnya, Jum'at (12/6/2020).

Kemudian ia menjelaskan jika saat ini di kebun sudah banyak singkong yang sudah dipanen hanya tinggal membawa ke pabrik. Selain itu juga masih banyak singkong yang belum dipanen oleh para petani.

"Dengan kejadian seperti ini, kami menanggung kerugian yang tidak sedikit. Kita sudah berhari-hari berada dipabrik ini untuk antri bongkar muat, apalagi saat ini masih ada lagi singkong yang sudah dipanen tinggal menunggu untuk diambil lagi. Jika tidak segera dijual kami akan mengalami kerugian lebih besar lagi," tuturnya.

Dia menegaskan jika sudah diberitahu oleh tim dari pusat kalau pabrik (PT. BAA red.) sampai saat ini masih belum ditemukan adanya indikasi sesuai dengan laporan yang diterimanya.

Sementara itu, petani singkong lainnya yang berasal dari Desa Sempan, Bobi menegaskan bahwa banyak petani singkong kasesa yang bergantung pada pabrik BAA untuk dapat melakukan kegiatan seperti biasanya dan membeli kembali hasil panen singkong para petani.

"Saya sudah berhari-hari berada disini dan hanya membawa uang 350 ribu. Dan sekarang uang hanya tinggal 5 ribu, kalau tidak bisa menjual singkong ini ingin kemana lagi ingin mencari uang," keluhnya.

Menurut Bobi, dengan menanam singkong itulah menjadi harapan satu-satunya karena masa panennya lebih cepat dibandingkan dengan sawit, lada maupun karet. Dengan berhentinya produksi PT. BAA sementara waktu ini membuat dirinya dan rekan-rekan petani singkong lainnya menjadi khawatir dan resah.

"Kejadian saat ini diperlukan perhatian khusus dari pemerintah melalui dinas terkait dalam menyelesaikan permasalah ini. Dan kami minta tolong kepada PT. BAA untuk beraktivitas seperti biasanya dan dapat membeli hasil panen para petani," pungkasnya. (BBR)


Penulis : Ibnu

Editor :

Sumber : Babel Review