PT. BAA dan Lemahnya Kebijakan

Ibnuwasisto
PT. BAA dan Lemahnya Kebijakan
Ibnu Indro Wasisto. (Foto.Ibnu)

PT. Bangka Asindo Agri merupakan salah satu dari tiga perusahaan yang bergerak di pengolahan ubi kasesa menjadi tepung tapioka yang ada di Kabupaten Bangka. Bertujuan untuk mendukung program pemerintah dalam mendongkrak laju ekonomi di sektor pertanian khususnya di tanaman ubi kasesa. Perusahaan ini berdiri pada tahun 2017 lalu, bertempat di Kelurahan Kenanga, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dan sebelum bisa melaksanakan kegiatan produksi, PT. BAA telah melakukan segala macam proses perijinan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, baik dari segi perijinan bangunan, ijin usaha sampai dengan proses pembuatan AMDAL dan semua legalitas yang lainnya. Sehingga pada akhirnya perusahaan dinyatakan oleh pemerintah dapat melaksanakan produksi.

Seiring berjalannya waktu, sebagian masyarakat yang tinggal di Kelurahan Kenanga mengeluhkan adanya bau tidak sedap yang di timbulkan oleh pengolahan tepung tapioka. Sehingga ini menjadi perhatian khusus, yang akhirnya adanya suatu tuntutan kepada pihak perusahaan untuk berhenti melakukan produksi.

Tetapi saat ini kita dapat melihat kondisi yang sebenarnya bahwa intensitas bau sudah dalam kadar normal. Jadi apa yang dikeluhkan oleh sebagian masyarakat itu seharusnya tidak lagi menjadi hal yang mesti dijadikan permasalahan.

Dengan kondisi bau yang sudah sangat jauh menurun yang terjadi saat ini akhirnya beberapa warga Kenanga mulai bergabung dan bekerja dengan perusahaan. Hal inilah yang akhirnya berdampak positif di segi sektor perekonomian di daerah Kenanga.

Menghadapi kejadian seperti itu, perusahaan terus berupaya melakukan perbaikan demi perbaikan sesuai dengan arahan yang diberikan oleh pemerintah. Meskipun dalam prosesnya tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun pada akhirnya untuk saat ini perusahaan sudah dapat menekan bau tersebut.

Kita tidak bisa pungkiri bahwa keberadaan PT. BAA berdampak positif di sisi sektor ekonomi, salah satu contohnya para petani singkong merasa sangat terbantu dengan keberadaan pabrik tersebut. Apalagi sektor pertanian khususnya di bidang ubi kasesa merupakan program dari pemerintah daerah kabupaten Bangka, dan seharusnya pemerintah mempunyai jalan keluar yang terbaik untuk menyelesaikan kondisi seperti ini.

Tetapi yang amat sangat disayangkan adalah adanya upaya-upaya untuk melakukan pelemahan terhadap perusahaan. Yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap para petani dan pelaku bisnis didalamnya.

Seperti dilansir dari bangka.tribunnews.com yang telah ditayangkan tanggal 12 Juni 2020 yang berjudul "KLHK Selidiki Pencemaran Udara dari Pabrik Pengolahan Ubi di Kelurahan Kenanga". Sejak beberapa hari ini tim dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI turun ke wilayah Kelurahan Kenanga Kabupaten Bangka. Mereka melakukan pengumpulan data terkait dugaan pencemaran udara bau tak sedap oleh PT. Bangka Asindo Agri (BAA) perusahaan pengelola ubi cassesa.

Warga Kelurahan Kenanga, Yuniotman mengatakan terlepas adanya kegiatan penyelidikan oleh pihak KLHK warga juga melakukan sejumlah langkah dan upaya gugatan perbuatan melawan hukum lainnya. Antara lain melalui tim pengacara Kantor Hukum Zaidan & Partners dengan mengajukan gugatan perdata, class action dan tindakan hukum lainnya terhadap PT. BAA ke PN Sungailiat.

Warga Kenanga juga dengan didampingi kuasa hukum Zaidan & Partners turut melaporkan PT BAA secara pidana ke Polda Kepulauan Bangka Belitung dan juga mendapatkan penjelasan dari pihak Ditkrimsus Polda Kepulauan Bangka Belitung bahwa pihak KLHK telah melakukan penyelidikan dugaan pencemaran yang dilakukan oleh PT BAA dan akan segera turun ke Kelurahan Kenanga sebagaimana yang terjadi saat ini.

"Ternyata benar informasi dari pihak Ditkrimsus Polda karena dua hari ini tim KLHK turun langsung ke Kenanga melakukan penyelidikan dugaan pencemaran udara yang dilakukan oleh PT BAA," kata Yuniotman.

Sementara itu dengan datangnya Tim KLHK ke PT. BAA dalam rangka melakukan penelitian mutu limbah, menyebabkan perusahaan terpaksa harus menghentikan aktivitas produksi, dan secara otomatis hal itu juga menyebabkan perusahaan tidak bisa membeli ubi kasesa para petani yang sudah antri selama 3 sampai 4 hari dan secara tidak langsung sangat berdampak pada ekonomi petani singkong.

Bersama puluhan petani lainnya, Petani Singkong dari Kecamatan Jebus Bangka Barat, Hairullah mengatakan, kondisi tersebut terjadi sejak 3 hari belakangan ini dimana puluhan kendaraan berbagai jenis muatan ubi mendatangi PT. BAA untuk melakukan bongkar muat atas hasil tanam petani singkong daerah ini.

Namun saat berada di perusahaan tersebut, puluhan petani batal melakukan bongkar muat lantaran perusahaan yang dimaksud sedang tidak beroperasi dikarenakan pihak Gakkum KLHK pusat sedang melakukan penyelidikan atas bau busuk yang diduga ditimbulkan dari operasional perusahaan itu.

“Kami disini sudah 3 hari bermalam antri di halaman pabrik dan muatan singkong di mobil belum juga dibongkarkan karena ada tim penyelidik dari pusat datang ke di PT BAA ini,”katanya.

Atas kondisi ini, Ia bersama puluhan petani lainnya berharap besar kepada pihak perusahaan untuk menerima dan membeli singkong para petani serta PT BAA beroperasi seperti sedia kala. (Dikutip dari Swarakarya.com Jum'at 12 Juni 2020).

Kita ketahui bersama, Polemik ini menjadi permasalahan sosial dan ekonomi yang muncul ditengah masyarakat. Dan keadaan ini sangat merugikan bagi para pelaku usaha khususnya bagi petani ubi dari hulu hingga hilirnya dan berbagai masalah sosial pun muncul dan dampaknya langsung terasa oleh masyarakat.

Keadaan ini menjadi perhatian khusus dan sebagai tanggung jawab bersama, untuk menyelesaikan masalah ini. sehingga petani tidak dirugikan, iklim investasi bisa dijaga dan kepentingan lainnya juga bisa di akomodir dan dampak sosial teratasi.

Oleh sebab itu, sinergitas pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten sangat diperlukan dalam hal melakukan upaya mencarikan solusi bagaimana permasalahan ini dapat diselesaikan dengan baik sekaligus tetap menjaga iklim investasi yang sudah berjalan. -A Win-win Solution the best Choice. (BBR)


Penulis : Ibnu Indro Wasisto

Editor : 

Sumber : Babel Review