Rencana Penutupan Arus Bandara Dan Pelabuhan, Ini Kata Pakar Ekonomi

diko subadya
Rencana Penutupan Arus Bandara Dan Pelabuhan, Ini Kata Pakar Ekonomi
Dekan Fakultas Ekonomi UBB, Dr Reniati, SE., M.Si

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Penyebaran Virus Corona yang terus meningkat di Indonesia memang menimbulkan kekhawatiran sejumlah pihak, sehingga kebijakan Lockdown diajukan sejumlah daerah pun semakin banyak untuk memitigasi sejumlah resiko transmisi virus Covid 19.

Meski aspek keselamatan dan kesehatan memang menjadi faktor penting saat ini. Namun pertimbangan terkait ekonomi dan sosial juga harus menjadi pertimbangan sebagai dampak kebijakan Lockdown.

Pakar Ekonomi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi UBB Dr Reniati, SE., M.Si menjelaskan Sejumlah Negara maju yang sudah melakukan Lockdown seperti Perancis, Spayol, Italia, Cina dan Denmark memang merasakan efek baiknya dari keputusan tersebut untuk memutus penyebaran Virus Covid 19.

Tapi hal itu tak dapat lepas dari kondisi ekonomi negara-negara tersebut yang sudah mapan, sehingga memiliki cukup tabungan untuk mengambil kebijakan tersebut.

" Masyarakat Negara-negara maju memang memiliki tingkat tabungan yang tinggi, sehingga Lockdown satu atau dua bulan masih bisa menggunakan tabungannya untuk menyambung hidup, ditambah jika pemerintah juga sudah menyiapkan stimulus lewat APBN atau APBD," katanya kepada Babelreview.

Saat ini diungkapkan Reni, berdasarkan informasi dilapangan bahwa dampak dari penyebaran virus Corona atau Covid-19 ini yakni penurunan penjualan di sektor UMKM antara 50-80 persen, begitu juga dengan tourism sekitar 30 persen, bahkan kalau ini berlanjut bisa lebih mendalam karena ditundanya beberapa kegiatan MICE dan lain-lain.

" Sebenarnya sejumlah kebijakan sudah disiapkan oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas sektor rill dan moneter seperti terkait relaksasi utang nasabah dimana sektor-sektor yang berdampak langsung seperti UMKM, Ojek Motor utangnya direlaksasi bahkan ada penangguhan pembayaran," ungkapnya.

Selain itu, Ia juga mengatakan Kebijakan Lockdown jelas akan mempengaruhi kondisi ekonomi . Saat ini kebijakan WFH,  pembelajaran jarak jauh (daring) sudah berdampak ke berbagai sektor. Yang paling signifikan adalah sektor pariwisata, menurunnya jumlah penumpang maskapai penerbangan, turunnya tingkat hunian hotel dan restoran serta sektor turunan lainnya. Utamanya industri olahan makanan dan minuman yang terkonfirmasi menurun 50-80 persen omsetnya.

Kendati demikian, Menurut Reni yang juga menjabat sebagai ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Babel, hal penting lainnya yang perlu dilakukan pemerintah yakni menjaga masyarakat tidak melakukan Panic Buying, karena akan memicu kenaikan harga dan mungkin penimbunan barang. Oleh karena itu stock sembako harus terjaga dan tetap stabil sehingga masyarakat masih bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

" Untuk masyarakat dengan penghasilan rendah/miskin diperlukan kebijakan khusus untuk memberikan subsidi, dikarenakan dampak Covid 19 yg menjadikan mereka tidak dapat membuka usaha atau diberhentikan dari tempat bekerja," ujarnya.

" Dalam kondisi seperti ini Kebijakan terkadang tidak bisa menguntungkan semua pihak, tetapi bagaimana seminimal mungkin bisa memitigasi resiko dari sisi kemanusiaan dan ekonomi serta sosial masyarakat," tambahnya.

Sementara, terkait kebijakan social distancing dan physical distancing, Ia berharap penggunaan masker dan sanitizer harus benar-benar ditaati masyarakat. Jika harus Lockdown diberlakukan, maka semua sudah harus dipersiapkan dengan baik terkait koordinasi dengan pihak perhubungan, pelabuhan dan angkasa pura apakah semua jenis penerbangan akan diclose.

" Tentunya ini diperlukan koordinasi yang matang dengan sejumlah inatansi terkait seperti Dinas Perhubungan, Angkasa Pura dan juga Pelabuhan," pungkasnya.