Restorasi Sungai Rangkui Jadi Solusi

Admin
Restorasi Sungai Rangkui Jadi Solusi
ilustrasi foto:(net/ist)

Pangkalpinang BABEL REVIEW -, Sungai  Rangkui yang membelah Kota Pangkalpinang dahulu sangat terkenal dan favorit dikalangan masyarakat Pangkalpinang, bahkan Pulau Bangka. Air yang jernih memberi banyak manfaat untuk kehidupan, terutama menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar Sungai Rangkui. Namun kondisi sekarang sudah jauh berbeda.

Air tercemar oleh limbah bekas tambang timah, limbah rumah tangga, limbah tempat usaha dan tercemar oleh sampah. Sedimentasi yang disebabkan oleh lumpur pasir bekas tambang dan sampah sudah sangat mengkhawatirkan. Bahkan sungai menjadi kering pada musim kemarau dan meluap ketika musim penghujan. Sehingga praktis Sungai Rangkui tidak lagi menjadi sumber kehidupan masyarakat Pangkalpinang.

 

Ketua Harian Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai Bangka Dr. David Oktaviandi, SP, MT menawarkan solusi terbaik untuk nasib Sungai Rangkui kedepan. Solusi dengan merestorasi Sungai Rangkui disambut baik oleh Walikota Pangkalpinang Maulan Aklil dan jajaran Pemkot Pangkalpinang untuk direalisasikan. Menurut David, pembangunan menyebabkan alih fungsi sungai berdampak terhadap menurunnya kualitas air sungai beserta ekosistemnya sebagai akibat meningkatnya beban pencemaran yang bersumber dari kegiatan di sepanjang Daerah Aliran Sungai.

Selain itu, dikatakan David banyak penyebab lain terjadinya pencemaran air pada Sungai Rangkui adalah terjadinya sedimentasi dari hulu, saluran buangan limbah rumah tangga dan industri di kiri dan kanan sempadan sungai, sampah, dan masuknya air laut pada daerah hilir bila terjadinya pasang air laut yang dapat menyebabkan rusaknya ekologi air tawar yang ada.

Untuk itu, restorasi sungai dan ekosistemnya menjadi kebutuhan yang mendesak untuk segera dilakukan agar generasi mendatang tetap memperoleh manfaat dari sungai tersebut tanpa mengenyampingkan fungsi utama sungai sebagai pengendali banjir. “Restorasi sungai adalah upaya pemulihan untuk menjadikan sungai atau bagianbagiannya, yaitu palung sungai dan sempadan sungai berfungsi kembali sebagaimana semula.

Pengertian lain restorasi sungai adalah mengembalikan fungsi alami/renaturalisasi sungai, yang telah terdegradasi oleh intervensi manusia,” paparnya. Berdasarkan kajian, pada prinsipnya untuk rekayasa dan manajemen sungai termasuk restorasi sungai ada 7 hal substansi yang penting, yakni hujan, daerah aliran sungai (DAS), sistem sungai, estuary (mulut sungai) pertemuan sungai dan laut atau badan air, kota dan kabupaten, geologi dan geomorfologi hulu, tengah dan hilir.

Restorasi dari sisi rekayasa banyak variabel yang terkait, saling mendukung, saling mempengaruhi dan saling tergantung. Menurut pengamatan David, untuk merestorasi Sungai Rangkui tidak bisa dilaksanakan melalui satu institusi namun harus melibatkan semua yang berhubungan dengan sungai tersebut.

Pemkab Bangka Tengah, Bangka, Pemprov Bangka Belitung dan Kementerian PUPR sangat berperan karena Sungai Rangkui secara geomorfologinya merupakan daerah aliran sungai (DAS) antar lintas kabupaten kota. Melihat geomorfologi Sungai Rangkui, dikatakan David yang penting diperhatikan dalam merestorasi Sungai adalah bagaimana menjaga dan memelihara kualitas dan kuantitas air serta masuknya air laut dari bagian hilir ketika terjadi pasang air laut.

“Nanti saluran limbah yang biasanya langsung dibuang ke Sungai Rangkui nanti tidak bisa lagi, akan dibuat saluran sendiri agar kualitas air sungai terjaga. Air yang masuk dari hulu juga akan dibuat sedimen trap (jeba

kan lumpur) untuk mengatasi terbawanya lumpur dari hulu sungai yang menyebabkan sedimentasi. Juga pada pintu air di hilir sungai akan dibuat sistim water klep agar jika terjadi pasang air laut tidak bisa langsung masuk ke sungai,” jelasnya.

Selain itu penting untuk meningkatkan kesadaran masayarakat agar jangan membuang sampah ke badan sungai. Pemberdayaan masayarakat merupakan suatu metode yang tepat dalam menumbuhkan rasa memiliki pada masyarakat tersebut.

"Kita perlu sosialisasi, edukasi, pendekatan preventif, dengan catatan pemerintah juga mempersiapkan secara teknis, secara hukumnya, dan secara kelembagaannya juga perlu disiapkan,” jelasnya. Karena kedepannya Sungai Rangkui disiapkan sebagai daya tarik wisata, maka menurut David perlu dibuat kelembagaan yang melibatkan masyarakat sekitar atau dikelola oleh BUMD.

Dari kelembagaan tersebut, nanti akan ada 20 petugas yang disebut Panglima Sungai dipekerjakan untuk menjaga disepanjang Sungai Rangkui. “Pemerintah juga harus membuat aturan apakah Pergub, peraturan walikota, Perda silahkan dibuat. Kemudian kelembagaan diperkuat, manajemennya juga dibuat ada panglima sungai.

Karena nantinya akan menjadi tempat pariwisata bisa dijadikan BUMD karena bisa menghasilkan PAD. Lalu juga bisa dibuat indikator bila permukaan air sudah berada diambang batas,” katanya. David menjelaskan dengan dikelolanya Sungai Rangkui dalam manajemen restorasi sungai maka hasil yang diharapkan yakni terkendali terhadap banjir dan longsor di musim hujan, air tersedia di sungai pada musim kemarau, sungai sebagai salah satu sumber air, sungai menjadi pemandangan indah, sempadan sungai bagian dari ruang tamu, sungai menjadi area bermain dan aktifitas lain yang berkelanjutan, sungai menjadi milik bersama (public owner) terutama pada ruas atau penggalan sungai yang direstorasi, termasuk di dalamnya adalah menata DAS pada hulu ruas atau penggalan sungai yang direstorasi dengan fokus utama yang meliputi: Konservasi Sumber Daya Air (SDA), Pendaya-gunaan SDA dan Pengendalian Daya Rusak Air di sungai yang direstorasi. “Nampaknya, filosofi ‘Siapapun yang merusak lingkungannya adalah bunuh diri’ dapat menjadi pembelajaran bagi kehidupan kita, khususnya pada kondisi Sungai Rangkui," harapnya. (BBR)


Penulis : Irwan             
Editor   : Sanjay
Sumber :Babelreview