Sanggar Seni, Wadah Salurkan Hobi dan Bakat

Admin
Sanggar Seni, Wadah Salurkan Hobi dan Bakat
FOTO: dok facebook (Uda Yamin)

PANGKALPINANG, BBR -- BERANGKAT dari hobi dan rasa penasaran untuk terus menggali Kebudayaan Melayu, akhirnya membuka sebuah sanggar seni. Dialah Muhammad Yamin, pemilik sanggar seni yang diharapkan mampu menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk menyalurkan hobi dan bakat mereka.

Dari sebuah salon kecantikan dan rias pengantin, kini menjadi Sanggar Cikar Sinar Gemala. “Sayang sekali kalau anak-anak muda sekarang hanya keluyuran dan melakukan hal-hal negatif. Maka dari itu, kita dirikan sanggar seni ini untuk merangkul mereka juga agar bisa menyalurkan minat dan bakat ke arah positif.

Di sini selain belajar tentang kesenian dan kebudayaan, juga sebagai wadah mereka untuk bersosialisasi dan bertukar ide sehingga pemikirannya semakin maju,” ujar pria yang lebih dikenal dengan panggilan Uda Yamin.

Sanggar Cikar Sinar Gemala sendiri memiliki makna kecantikan dan inner beauty yang tersembul dari dalam bak cahaya batu mustika. Ia mengaku bahwa nama sanggar ini diberikan oleh sesepuh-sesepuh adat dan dipakai hingga sekarang.

 Beragam prestasi telah diraihnya bersama sanggar ini mulai dari tingkat kota hingga tingkat provinsi. Mereka juga rajin mengikuti festival seni yang diselenggarakan di Bangka Belitung. Kepeduliannya terhadap tradisi melayu yang sedikit demi sedikit mulai luntur membuatnya semakin giat mengajak anakanak muda untuk turut melestarikan kesenian-kesenian daerah.

 Untuk menggarap sebuah tarian baru, ia bersama anak-anak didiknya di sanggar mendatangi narasumbernya langsung. Mereka biasanya berkunjung dari satu kampung ke kampung lain untuk melihat, mengamati dan belajar dari keseharian warga kampung tersebut.

Dari situ kemudian mereka berimajinasi dan menciptakan gerakan tari baru. Menurutnya, ide untuk menciptakan gerakan tari bisa didapatkan dari mana saja dan kapan saja. Seringnya ia dan anak-anak didiknya memperoleh inspirasi saat mereka sedang bersantai di pantai atau kebun.

 Pria 55 tahun ini menekankan bahwa keseharian Melayu tidak terlepas dari silaturahmi dan kekeluargaan. Hal tersebut ia terapkan di sanggar ini. Ia bersama anakanak didiknya sering mengikuti nganggung di masjid dekat sanggar juga bersilaturahmi ke rumah-rumah penggiat seni untuk sekedar bercerita dan berdiskusi.

Tambahan Uang Jajan Ia juga menerapkan sistem open management agar anggota sanggar bisa mengetahui pemasukan dan pengeluaran sanggar secara transparan dan terbuka. Karena itulah, anak-anak didiknya mengaku senang bergabung di sanggar ini. Selain mendapatkan ilmu mereka juga mendapatkan tambahan uang jajan dari hobi mereka yang disalurkan melalui sanggar ini.

Namun, ia mengaku ada beberapa kendala yang ia hadapi untuk menjalankan sanggar ini mulai dari sulitnya menyesuaikan jadwal latihan, jadwal pentas hingga kurangnya dukungan dari pemerintah baik berupa materi maupun peralatan-peralatan untuk menunjang kegiatan di sanggar.

“Kami berharap agar pemerintah lebih peduli terhadap kelangsungan sanggarsanggar seni yang ada di Bangka Belitung. Dukungan dari pemerintah sangat berarti bagi kami. Karena sebetulnya,sanggar sanggar seni ini turut membantu mempromosikan pariwisata Bangka Belitung khususnya di bidang kebudayaan,” ujarnya.  Sebagai penggiat seni ia mengaku memiliki kepuasan tersendiri saat bisa turut melestarikan dan berbagi ilmu terlebih kepada anak-anak muda. Karena baginya, anak-anak muda inilah yang nantinya akan meneruskan serta menjaga tradisi dan budaya Bangka Belitung agar tetap lestari.

 Ditunjang dengan kecanggihan teknologi serta globalisasi menurutnya bisa dimanfaatkan dengan maksimal untuk memperkenalkan dan mempromosikan pariwisata yang ada di Bangka Belitung. (BBR)


Penulis :Tamara D
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview