Satpol PP Bangka Lakukan Penertiban Penambangan di Kolong Bijur Hakok

kasmirudin
Satpol PP Bangka Lakukan Penertiban Penambangan di Kolong Bijur Hakok
Kabid Penegakkan Perundang undangan Satpol PP Kabupaten Bangka, Achmad Suherman. (Foto: Ibnu)

SUNGAILIAT, BABELREVIEW.CO.ID -- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bangka, menertibkan penambangan yang berlokasi di Kolong Bijur lingkungan Hakok, Senin (29/4/2019).

Penertiban tersebut dipimpin langsung oleh Kabid Penegakkan Perundang undangan Satpol PP Kabupaten Bangka, Achmad Suherman.

Suherman katakan, pihaknya tidak melarang orang untuk mencari makan. Tetapi apabila aktivitas tersebut mengganggu ketertiban umum, maka harus dihentikan.

“Kami akan melakukan langkah-langkah represif tapi non dustrial, jika ada pemilik tambang yang bersedia mengakui maka silahkan dibongkar sendiri peralatan tambang tersebut," tukasnya.

Dia tegaskan, jika peringatan ini masih diabaikan oleh para penambang, maka pihaknya akan melaksanakan tindakan penegakkan dan nantinya akan dilaporkan ke bupati.

“Saya berharap, aktifitas tambang yang berada di Kolong Bijur tersebut dapat dihentikan dan bagi para pemilik peralatan tambang dapat segera melakukan pembongkaran sendiri," pintanya.

Achmad Suherman menjelaskan, bahwa lokasi yang dilakukan penambangan tersebut rawan terjadinya banjir. Karena lokasi itu banyak tanah resapan.

“Meskipun status tanah tersebut memiliki surat yang jelas, tetapi itu hanya tanahnya saja. Tetapi untuk kandungan didalam tanah tersebut adalah milik negara, dan jika ingin mengambilnya harus ada ijin dari negara," jelasnya.

Di kesempatan yang sama, Kepala Lingkungan Hakok, Johan mengatakan bahwa warrga Lingkungan Hakok dan Sinar Jaya telah membuat suatu kesepakatan yang isinya tidak mengizinkan adanya aktivitas tambang di lokasi tersebut.

“Dengan adanya tambang tersebut, sangat berdampak pada kualitas air sumur milik warga kami yang ada di sekitarnya," tukasnya.

Johan menuturkan, air sumur milik warga di sekitar tambang menjadi keruh dan tidak dapat dikonsumsi. Karena di daerah tersebut merupakan daerah resapan.

“Kami saat ini sudah menjalani langkah-langkah untuk mengembangkan obyek wisata air. Yang salah satu sumber airnya berasal dari Kolong Bijur tersebut. Tetapi jika Kolong Bijur itu dirusak, maka semua rencana yang telah kami lakukan selama ini akan mengalami kegagalan," ujar Kaling Hakok. (BBR)


Penulis  :  Ibnu  
Editor    :  Kasmir
Sumber  : Babel Review