Satu Hari Bangka Belitung Mendadak Angpao, Ternyata Angpao Itu Artinya..

Ahada
Satu Hari Bangka Belitung Mendadak Angpao, Ternyata Angpao Itu Artinya..
Angpao. (Foto:ist)
Saling berkunjung (bertamu) pada perayaan imlek, sudah mentradisi dalam tatanan kehidupan masyarakat Bangka Belitung. (Foto: babelreview)
Saling berkunjung (bertamu) pada perayaan imlek, sudah mentradisi dalam tatanan kehidupan masyarakat Bangka Belitung. (Foto: babelreview)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Setiap kali perayaan Tahun Baru Imlek selalu saja membawa suasana kegembiraan bagi masyarakat Bangka Belitung dan sekitarnya.

Perayaan Imlek tidak saja menjadi hari istimewa bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Babel. Masyarakat melayu Babel maupun warga dari berbagai  suku di Indonesia yang sudah menetap di Pulau Bangka maupun Belitung, juga ikut larut dalam perayaan Imlek.

Tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pada perayaan imlek 2571 ini suasana kemerihaan tetap mewarnai berbagai daerah di Babel dan sekitar.

Sejak Jumat (24/1/2020) malam hingga Sabtu (25/1/2020) dinihari kemeriahab tetap berlanjut. Warna warni kembang api mengiasi langit.

Apalagi malam harinya hujan tidak turun, sehingga makin menambah meriahhya tembakan kembang api ke langit. Suasana meriah berlanjut hingga Sabtu (25/1/2020) dan Minggu (26/1/2020).

Sejak pagi perayaan imlek hingga malam dimeriahkan oleh warga yang saling berkunjung, yang biasa dikenal dengan kongian.

Ada yang menarik dari kebiasaan kongian ini adalah angpao. Selain dihidangkan beragam makanan, bagi anak-anak waktu berbagi angpao yang paling ditunggu.

"Hari ini saya dapat lima angpao. Tapi belum saya buka," ujar Meilana, sembari tersenyum, yang baru saja bertamu di Desa Benteng Kecamatan Pangkalanbaru Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (25/1/2020.

Bagi gadis berusia 9 tahun ini, setiap tahun imlek dirinya diajak ayahnya keliling bertamu. Dan yang paling ditunggunya adalah dapat angpao.

"Ditabung. Nanti kalo ada yang pengen dibeli, tinggal dibuka diambil lagi," tukas Meilana.

Untuk anak-anak seusia Meilana, dapat angpao adalah sesuatu yang membahagiahkan.

Angpao (Hanzi) adalah amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek.

Sejak lama, warna merah  melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa.

Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa yang nasib baik bagi penerimanya.

Istilah angpao dalam kamus berbahasa Mandarin didefinisikan sebagai "uang yang dibungkus dalam kemasan merah sebagai hadiah; bonus bayaran; uang bonus yang diberikan kepada pembeli oleh penjual karena telah membeli produknya.  

Hong memiliki arti marga Hong; merah, populer, revolusioner, bonus". Bao memiliki arti "menutupi, membungkus, memegang, memasukkan, mengurusi, kontrak, kemasan, pembungkus, kontainer, tas, menerima, bungkusan".

Namun, makna angpao sebenarnya bukan hanya sekedar perayaan tahun baru Imlek semata, karena angpao melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik, sehingga angpao juga ada di dalam beberapa perhelatan penting seperti pesta pernikahan, hari ulang tahun, syukuran naik rumah baru dan lain-lain yang bersifat suka cita.

Angpao pada tahun baru Imlek sendiri mempunyai istilah khusus yaitu “Ya Sui“, yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/pergantian tahun.

Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dengan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli.

Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak-anak menggunakan uang untuk membeli petasan dan manisan.

Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

"Saya mau namu lagi, biar dapat angpao lebih banyak," tukas Mei, begitu bocah ini dipanggil teman-temannya. (BBR)

Penulis: ahada