Sekdin Pendidikan Bangka Tengah: Program MBG Jangkau 104 Sekolah, Prioritaskan Kualitas Distribusi dan Gizi Siswa

BANGKA TENGAH, BABELREVIEW.CO.ID — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bangka Tengah mulai dijalankan sejak 19 Agustus 2025 sebagai bagian dari implementasi kebijakan nasional Presiden Prabowo Subianto, sebagai upaya peningkatan kualitas gizi peserta didik. Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Tengah, hingga saat ini program tersebut telah menjangkau 104 satuan pendidikan yang terdiri dari tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Kamis (12/2/2026).

Sekretaris Dinas Pendidikan Bangka Tengah, Esdras Silverius Bangun, S.H., M.Pd. menjelaskan, pelaksanaan program MBG di Kabupaten Bangka Tengah masih dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan sistem operasional di lapangan. Pendekatan ini dinilai penting agar kualitas layanan tetap terjaga selama proses perluasan cakupan.

Bacaan Lainnya

“Program ini tidak bisa dilakukan sekaligus. Kami memastikan setiap tahap berjalan sesuai standar, baik dari sisi distribusi maupun kesiapan fasilitas pendukung,” kata Esdras.

Ia menegaskan, pembiayaan MBG sepenuhnya bersumber dari Badan Gizi Nasional (BGN) tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Skema tersebut menunjukkan peran dan sinergi pemerintah pusat dalam mendorong intervensi gizi nasional yang terintegrasi dengan pelaksanaan teknis di daerah.

“Seluruh anggaran berasal dari pusat melalui BGN. Pemerintah daerah fokus pada pelaksanaan agar program ini benar-benar sampai dan dirasakan manfaatnya oleh siswa,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, distribusi makanan dilakukan melalui dapur umum di masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sistem zonasi diterapkan untuk mengatur jarak tempuh antara dapur dan sekolah guna menjamin ketepatan waktu distribusi sesuai jadwal belajar.

Menurut Esdras, mekanisme tersebut dirancang untuk menjaga mutu makanan sekaligus efisiensi logistik.

“Kami menerapkan sistem zonasi agar distribusi lebih terkendali. Tujuannya memastikan makanan diterima siswa dalam kondisi layak konsumsi dan tepat waktu,” katanya.

Pengawasan program dilakukan secara berlapis dengan fokus pada standar gizi, kebersihan, serta ketepatan penyaluran. Ia menilai pengawasan menjadi faktor krusial untuk menjaga konsistensi kualitas layanan.

“Pengawasan kami lakukan berlapis. Standar gizi dan kebersihan menjadi prioritas agar tujuan program benar-benar tercapai,” ucapnya.

Meski demikian, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi tantangan, terutama terkait variasi ketersediaan bahan pangan di setiap SPPG. Kondisi tersebut memerlukan penyesuaian manajemen pasokan agar stabilitas menu tetap terjaga.

“Kendala utama ada pada variasi ketersediaan bahan pangan. Ini terus kami lakukan evaluasi agar program MBG dan pelayanan tetap berjalan optimal,” tutur Esdras.

Sekretaris Dinas Pendidikan Bangka Tengah itu menekankan, bahwa program MBG merupakan investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pemenuhan gizi peserta didik. Evaluasi berkala, menjadi bagian penting agar program tidak sekadar berjalan administratif.

“Harapannya program ini memberi dampak nyata bagi kesehatan dan perkembangan anak. Karena itu, evaluasi terus kami lakukan agar pelaksanaannya semakin baik,” pungkas Esdras.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *