Serunya Famtrip Media Kemenparekraf 2020, Tergoda Sensasi 'Berselancar' di Mangrove Munjang

Admin
Serunya Famtrip Media Kemenparekraf 2020, Tergoda Sensasi 'Berselancar' di Mangrove Munjang

BANGKATENGAH, BABELREVIEW.CO.ID -- Air kolong yang membiru telah menggoda Tim Famtrip Media Kemenparekraf 2020.

Meski disambut hujan gerimis, tak menyurutkan Tim Famtrip Media yang baru tiba dari Pangkalpinang, untuk menyusuri setiap lekuk bebatuan dan pasir putih yang memagari Kolong Biru.

Paduan air yang berwarna biru dan gundukan pasir berwarna putih, menjadi latar yang serasi untuk berswafoto di kawasan Kulong Biru.

Tulisan besar Kulong Biru di puncak gundukan pasir putih, semakin menambah seksi destinasi wisata yang viral sejak tahun 2017 ini.

Kebetulan pada hari kedua Famtrip Media Kemenparekraf 2020, rombongan menyasar kawasan wisata bagian selatan Pulau Bangka.

Setelah hari pertama Minggu (22/11/2020), Tim Famtrip Media dimanjakan pesona wisata bagian utara Pulau Bangka, pada hari kedua Senin (23/11/2020), Tim Famtrip menuai keindahan destinasi wisata di bagian timur dan selatan Pulau Bangka.

Masih bersama lima media lokal dan di dampingi Staf Kemenparekraf Afif Sandi serta Tour Guide Yudi Masata, Tim Famtrip Media 2020 berangkat dari Soll Marina Hotel Bangka Tengah, sekitar pukul 08.30 WIB.

Pada hari kedua Famtrip ini, rombongan juga mengunjungi lima destinasi wisata. Dua objek wisata yakni Kulong Biru dan Mangrove Munjang berada di Kabupaten Bangka Tengah.

Sedangkan tiga destinasi lainnya berada di wilayah Pangkalpinang, yakni Jembatan Emas, Bangka Botanical Garden dan Pantai Pasir Padi.

Tujuan Famtrip Media 2020 ini, ternyata tidak hanya ingin menikmati keindahan sejumlah destinasi wisata di Pulau Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saja.

Ternyata ada misi yang lebih utama, yakni ikut mensosialisasikan program Clean, Health, Safety & Environment (CHSE), yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia meliputi  kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan.

Seperti pada Famtrip hari kedua ini, rombongan media dan perwakilan Kemenparekraf RI juga menggelar program Simulasi CHSE.  Tujuanya untuk mensosialisasikan kesiapan destinasi wisata menerima wisatawan di masa pandemi covid-19.

Seperti yang dilakukan di Kolong Biru, yang terletak di Desa Air Bara Kecamatan Air Gegas Kabupaten Bangka Selatan dan Desa Nibung Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah.

Kulong Biru adalah tempat wisata berupa danau berwarna biru bening yang dikelilingi oleh gundukan tanah dan pasir putih yang terlihat seperti bukit. Di tempat ini, juga terdapat kolong (danau) lain yang berukuran lebih kecil dengan warna hijau cerah.

Kedua danau ini berdampingan menampilkan warna yang berbeda dengan sekat bukit kecil ditengah-tengah danau.

Saat tiba di Kulong Biru, Tim Famtrip Media 2020 disambut Putra, Kepala Unit BUMDes Desa Nibung yang mengelolah Kulong Biru. Diceritakan Putra, bahwa dulunya Kulong Biru ini adalah sebuah lokasi penambangan timah.

Kemudian tempat ini ditinggalkan oleh perusahaan pengelolanya sejak 2010. Perusahaan tersebut meninggalkan lokasi ini tanpa revitalisasi, namun 2 tahun tempat ini berubah menjadi danau yang indah dan banyak dikunjungi berbagai wisatawan.

Danau ini terkenal dengan pemandangan sunset atau sunrise yang terlihat di danau kecil berwarna biru muda yang bersih.

Danau ini pun dikelilingi oleh gundukan tanah berwarna putih cerah. Kulong Biru pernah masuk ke dalam nominasi Destinasi Unik Terpopuler oleh Anugerah Pesona Indonesia 2019.

"Perbedaan warna danau yang terjadi karena perbedaan warna timah yang ada di airnya. Walaupun berwarna hijau dan mengandung timah, danau ini aman untuk digunakan bermain oleh pengunjung," ujar Putra.

Untuk menuju danau ini pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 70 km atau kurang lebih 1 jam menggunakan kendaraan bermotor dari Kota Pangkalpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Untuk pengunjung yang datang dari Bandara Depati Amir, jarak ke Kulong Biru hanya berjarak sekitar 60 km saja.

Akses jalan menuju Kulong Biru kini sudah beraspal mulus. Sehingga tidak ada alasan bagi wisatawan untuk melupakan agenda mengunjungi Kulong Biru ini, ketika berwisata ke Pulau Bangka.

Mangrove Munjang Kurau Barat



Usai menyeruput scangkir Kopi Itam di kawasan Kulong Biru, Tim Famtrip Media 2020 bergegas menuju destinasi wisata yang ke dua, yakni Hutan Mangrove Munjang Kurau Barat. Sebenarnya lokasi ini lebih dekat dari Kota Pangkalpinang, yang hany berjarak sekitar 30 kilometer aja.

Tak sekedar indah, kawasan hutan ini juga merupakan penyangga ekosistem yang punya peran penting. Cocok dikunjungi wisatawan yang mendambakan sensasi petualangan bagaikan 'berselancar' di hutan belantara. Yuk, simak perjalanan Tim Famtrip Media Kemenparekraf 2020 ini.

Tiba di lokasi Mangrove Munjang, Tim Famtrip Media disambut salah satu pengurus Managrove Munjang, Tedjo. Atas dukungan dari Komandan Mangrove Munjang Yasir, Tim Famtrip diajak keliling hutan Mangrove sembari menikmati serunya perjalanan menggunakan kapal di sepanjang Sungai Munjang.

Sesuai namanya, kawasan mangrove ini berada di Sungai Munjang, Desa Kurau Barat, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Luasnya mencapai 213 hektar, namun baru 30 persen yang dikelola sebagai tempat wisata. Tergolong anyar karena baru diresmikan pada 22 Juli 2017 silam.

Ada dua cara untuk menjelajah kawasan mangrove ini, yakni dengan jalan kaki dan naik perahu. Opsi pertama jarang dipilih karena memakan waktu lama. Kebanyakan wisatawan biasanya lebih suka menjelajah hutan Mangrove ini sembari duduk santai di atas perahu motor. Opsi kedua  ini juga diambil Tim Famtrip Media 2020.

Cukup membayar Rp 10.000 per orang, rombongan Famtrip yang berjumlah 9 orang menumpang kapal. Di sinilah keseruan perjalanan ke Hutan Mangrove dimulai.

Baru saja lepas jangkar, kapal suda mulai meliuk-liuk mengikuti alur Sungai Munjang. Rute yang seringkali memiliki tikungan tajam, justru dijadikan nahkoda kapal untuk menambah sensasi menyusuri sungai menuju objek wisata Mangrove Munjang. Sungai yang lebarnya sekitar 6 meter ini ditumbuhi mangrove dan pohon rumbia.

Cipratan dari baling-baling kapal, ditambah liukan kiri dan kanan badan kapal, tak kuas menahan teriakan keseruan para peumpang.

Sepanjang perjalanan yang memakan waktu lima menit tersebut, hanya terdengar keseruan dan terikan para penumpang kapal. Sepanjang perjalanan dimanja pemandangan indah nan asri Mangrove Munjang.

Menjelajahi kawasan Mngrove Munjang ini, Tim Famtrip Media  seperti dihipnotis aroma lembut tanaman bakau dan nipah. Sensasinya benar-benar membikin tubuh rileks.

Selain itu masih ada beragam jenis tumbuhan yang ciptakan pesona estetis luar biasa. Semua berpadu sempurna dengan satwa yang berkeliaran di sekitar Hutan Mangrove Munjang Kurau Barat ini.

Jembatan Emas



Puas 'berselancar' di hutan Mangrove Munjang, sekitar pukul 14.00 WIB, rombongan Famtrip Media Kemenparekraf 2020 meluncur ke Kota Pangkalpinang. Objek ketiga yang dikunjungi adalah Jembatan Emas.

Nama jembatan yang mirip London Brigde ini adalah Jembatan Emas, yang merupakan singkatan dari nama Gubernur Provinsi Kepulauan Babel yang ke dua, yakni Eko Maulana Ali Suroso.

Tim Famtrip tiba di jembatan yang memiliki panjang 720 meter dengan lebar 24 meter ini sekitar pukul 16.00 WIB. Jembatan ini menghubungkan Kota Pangkalpinang menuju Pantai Timur Kabupaten Bangka.

Lokasi Jembatan Emas ini berada tidak jauh dari Bandara Depati Amir Pangkalpinang, sehingga sangat dimungkinkan untuk menarik wisatawan. Jaraknya tidak lebih dari 4 kilomter saja dari Bandara Depati Amir dan Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung.

Jembatan dengan sistem bascule atau buka tutup tersebut telah mulai dioperasikan sekitar bulan Agustus 2018. Sejak mulai beroperasi, Jembatan Emas langsung mencuri perhatian publik. Hal ini terlihat dari banyaknya orang yang berswafoto di atas jembatan.

Tidak hanya hari Minggu atau libur saja, pada hari biasapun masih banyak pengunjung yang berswafoto berlatarkan Jembatan Emas yang sedang terbuka lebar.

Sayangnya, sejak satu tahun terakhir ini, operasional Jembatan Emas tidak seperti tahun sebelumnya. Kini hanya sesekali saja Jembatan Emas tertutup. Sehingga jembatan ini tidak bisa maksimal melayani kendaraan yang hendak melintas di atasnya.

Ternyata kondisi ini justru menarik perhatian wisatawan. Dengan kondisi yang terbuka dan terbelah ini, menjadi lokasi yang menarik untuk berswafoto.

Wisatawan akan semakin ramai pada sore hari. Karena, di atas jembatan ini wisatawan bisa melihat dan menyaksikan mentari berangkat ke peraduannya.

Momen inilah yang paling ditunggu wisatawan utuk mengabadikan warna emas mentari saat menjelang berangkat ke peraduannya.

Kini Jembatan Emas, selain menjadi jembatan penghubung antara Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka, juga telah menjelma menjadi icon baru destinasi wisata Bangka Belitung.

Bangka Botanical Garden

Hari semakin petang, Tim Famtrip Media 2020 kembali bergerak menuju destinasi lain yang tidak jauh dari Jembatan Emas. Destinasi yang  keempat dikunjungi ini berhubungan dengan agrowisata. Tempat ini menjadi alternatif  para wisatawan saat berkunjung ke Pulau Bangka.

Destinasi yang menjadi lahan pengembangan holtikultura tersebut adalah Bangka Botanical Garden (BBG). Selain menjadi lahan pengembangan holtikultura, BBG juga menjadi lokasi peternakan, penyediaan bibit dan pakan ternak.

Lokasi ini sebelumnya adalah sebagian  lahan eks tambang timah dan lahan kritis berupa lahan gambut dan berpasir. Pengelolaan BBG  merupakan program percontohan yang dilakukan pihak swasta dalam mengelola dan menciptakan ekosistem baru.

Kini BBG telah menjadi  salah satu ikon agrowisata favorit di Bangka Belitung, tepatnya berada di Kota Pangkalpinang dan telah menjadi salah satu daerah tujuan wisata andalan di Pulau Bangka.

Wisatawan yang berkunjung ke kawasan BBG ini bisa menikmati suasana damai nan sejuk, sekaligus belajar tentang usaha pertanian, peternakan, dan perikanan terpadu secara organik yang sudah berjalan dengan baik ditempat ini.

Apalagi letaknya cukup strategis, bersebelahan dengan pantai Pasir Padi, dan mudah dijangkau dari pusat Kota Pangkalpinang.

Pantai Pasir Padi



Menjadi daerah kepulauan adalah sebuah keniscayaan bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun karena posisi itulah, Bangka Belitung kaya akan wisata pantainya.

Salah satu pantai yang banyak menarik perhatian dan minat wisatawan adalah Pantai Pasir Padi.

Trip ke lima yang dikunjungi Tim Famtrip Media Kemenparekraf 2020 pada hari kedua Senin (23/11/2020) sore adalah Pantai Pasir Padi.

Pantai di ujung timur Kota Pangkalpinang ini merupakan tempat wisata yang paling ramai dikunjungi pada hari libur nasional maupun pada saat weekend.

Pantai yang menghadap langsung kearah Laut Cina Selatan ini menawarkan sejuta pesona dan panorama alam yang indah.

Hamparan pantai berpasir putih yang luas memberikan kepuasan tersendiri bagi wisatawan. Kadang ketika air sedang surut, hamparan pasir putih ini  bisa sampai 300 meter.

Ombak yang tenang membuat pantai ini sangat nyaman untuk wisatawan yang hobi berenang dan bermain air di pinggiran pantai.

Pantai Pasir Padi, seperti kebanyakan pantai lain yang menawan di Pulau Bangka. Keindahan panorama Pantai Pasir Padi dijamin mampu membuat wisatawan berdecak kagum.

Sebagai pantai yang termasuk favorit masyarakat Pangkalpinang dan sekitarnya, objek wisata ini telah dilengkapi berbagai fasilitas penunjang yang siap memanjakan para pengunjung.

Tidak jauh dari pintu masuk ke pantai terdapat restaurant seafood yang terkenal nikmat dan puluhan warung makanan dan minum lainnya.

Di pantai cantik ini bahkan sudah tersedia tempat hiburan karaoke dan diskotik yang terletak persis di pinggir pantai.

Jika ingin melihat matahari terbit, wisatawan bisa datang lebih pagi ke pantai ini, atau bisa juga menginap di Belitong Resort, yang berada di tepi Pantai Pasir Padi.

Di sepanjang tepian Pantai Pasir Padi juga terdapat arena joging untuk wisatawan yang hoby berolahraga.

Sehabis joging, warung-warung di pinggir pantai sudah siap menyambut wisatawan dengan aneka minuman, termasuk es kelapa muda.

Sehingga tidak berlebihan jika Pantai Pasir Padi masih menjadi favorit wisatawan lokal atau nusantara ketika berkunjung ke Kota Pangkalpinang.

Sosialisasi Program CHSE

Selama dua hari, Minggu (22/11/2020) dan Senin (23/11/2020), Tim Famtrip Media Kemenparekraf 2020 mengunjungi 10 destinasi wisata di Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Bangkta Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kesan yang mendalam disampaikan Staff Kemenparekraf RI Afif Sandi, setelah melihat fasilitas penunjang di lokasi objek pariwisata di Bangka Belitung.

Diakui Staf Kemenparekraf RI Sandi, bahwa sebagain besar program CHSE sudah dilaksanakan di lokasi destinasi wisata.

Hanya saja, ketika Tim Famtrip Media berada di 10 lokasi yang dikunjungi, tidak terlihat petugas yang standby mengecek suhu tubuh pengunjung yang datang.

"Jika kita amati, yang kurangnya adalah tidak ada petugas yang standby mengecek suhu tubuh para pengunjung yang datang. Soalnya, dimasa pandemi ini, salah satu yang menjadi perhatian kita adalah adanya jaminan kesehatan dari para pengunjung objek wisata dari masalah virus corona. Salah satunya dengan mengecek suhu tubuh para pengunjung sebelum masuk objek wisata," tukas Sandi.

Kata Sandi, hasil Famtrip Media 2020 di Bangka Belitung akan dilaporkan ke Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf RI. Hasil kunjungan akan dikaji, sehingga kedepannya bisa menjadi bahan evaluasi untuk kemajuan sektor pariwisata di Bangka Belitung.

Sementara itu Koordinator Pengembangan Jejaring dan Kapasitas Wisata MICE, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Titik Lestari menjelaskan protokol kesehatan Covid-19 harus dijalankan, bahkan sebelumnya wisatawan harus memastikan kondisi kesehatannya cukup baik.

Untuk itu, kata Titik, Kemenparekraf telah menyusun rancangan panduan kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan (CHSE) pada penyelenggaraan kegiatan pertemuan, insentif, konvensi dan pameran atau MICE.

"Semoga dengan pandemi yang sedang kita alami ini, kita bisa lebih baik lagi untuk melaksanakan kebersihan, minimal terhadap diri sendiri. Dan setiap destinasi wisata diharapkan untuk memiliki standar protokol kesehatan," ujarnya. (BBR)


Laporan: @hada