Silo Sandro Pelaku Sinematografi itu Dari Muntok

Admin
Silo Sandro Pelaku Sinematografi itu Dari Muntok
Foto : Dok. Silo
Foto : Dok. Silo
Foto : Dok. Silo

MEMULAI ketertarikan pada dunia cinematografi pada tahun 2010, saat itu sudah tiga tahun Silo Sandro menamatkan Sekolah Menengah Atas dan bekerja serabutan mulai dari jualan solar, bekerja di tambang timah, dan menjadi buruh harian.

Dari kerja serabutan itu Silo menabung dan akhirnya dapat membeli monitor komputer sebagai modal awal atas keinginannya belajar cinematografi. Dua tahun lamanya monitor itu tergeletak tanpa pernah dihidupkan karena keterbatasan pengetahuan yang ia miliki saat itu.

Hingga akhirnya terkumpullah komponent-komponent sehingga terwujudnya sebuah komputer yang diidamkan. Memulai usahanya dari membetulkan handphone, baik software dan hardware, akhirnya terkumpullah uang untuk membeli kamera.

“Saya belajar secara otodidak mengenai video dan cinematografi,” ujarnya. Tinggal di kota kecil tidak membuat Silo berkecil hati. Peran serta media online sangat membantu pembelajaran Silo. Diskusi dalam grup di medsos memberikan tambahan ilmu atas citacitanya.

Di dorong pula oleh hasrat ingin selalu mencoba sesuatu yang baru dan selalu berfikir bahwa jika orang lain bisa kenapa saya tidak, membuat Silo perlahan menguasai teknik cinematografi.

 Seiring dengan perjalanan waktu dan pengalaman, awal 2012 Silo memutuskan bahwa dunia cinematografi dapat menjadi tumpuan dalam mencari nafkah. Dimulai dari film-film sederhana, dokumentasi perkawinan dan akhirnya masuk ke skala komersial untuk memproduksi TVC/film pendek untuk media promosi.

 TVC pertama yang digarap merupakan order dari salah satu Bank BUMN termuka dan berjalan selama empat tahun. Belum lagi perusahaan swasta dan BUMN yang lain serta instansi pemerintah yang juga mempercayakan kepada Sekaban Production, nama rumah produksi yang ia dirikan.

Bahkan salah satu produsen makanan ayam goreng siap saji terkenal mempercayakan pembuatan TVCnya kepada Sekaban Production. Di usia 30 tahun, seorang Silo masih memutuskan untuk tetap tinggal di Kota Muntok.

Di era teknologi informasi seperti sekarang ini usaha dapat dilakukan di mana saja asalkan jaringan kerja luas. “Walau banyak tawaran untuk tinggal di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Palembang, tetapi Kota Muntok tetap pilihan saya untuk menghasilkan karya dan berkreasi,” ungkapnya.

Dan terbukti hasil karyanya pun banyak menyabet penghargaan pada lomba-lomba film pendek yang ada di Bangka Belitung. Yang terbaru ialah menjuarai Bangka Belitung Short Film Festival dan Bangka Belitung Journalism Competition yang diadakan oleh Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Silo sendiri masih mempunyai mimpi untuk memproduksi film pendek yang isinya tentang budaya dan keseharian Bangka Belitung. Film itu sendiri sudah selesai ditulis naskahnya dan tinggal menunggu finalisasi untuk dapat diproduksi.

Di sela-sela kesibukannya, Silo tidak pernah pelit dalam berbagi ilmu. Dalam waktu dekat Silo akan membuat workshop untuk siswa SLTA dalam mempelajari cinematografi dan sudah mendapatkan bantuan peralatan dari salah satu produsen kamera digital terkemuka.

Menutup perbincangan di sore hari sambil berdiskusi mengenai peralatan fotografi, Silo Sandro, begitu nama lengkapnya menyampaikan bahwa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi yang luar biasa untuk pengembangan pariwisata. “Alamnya masih asli, tinggal dipoles sedikit sudah layak untuk dijual,” imbuh Silo. (BBR)


Penulis :Budi Tio
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview