Super Tembaga Bangka Kelamunot, Durian Termahal Yang Tak Sengaja Ditanam

Ahada
Super Tembaga Bangka Kelamunot, Durian Termahal Yang Tak Sengaja Ditanam
H Jamhur warga Desa Kemuja Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Babel, penemu sekaligus orang pertama yang melakukan budidaya ST Bangka Kelamunot. (ichsan/babelreview)
H Jamhur warga Desa Kemuja Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Babel, penemu sekaligus orang pertama yang melakukan budidaya ST Bangka Kelamunot. (ichsan/babelreview)
H Jamhur warga Desa Kemuja Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Babel, penemu sekaligus orang pertama yang melakukan budidaya ST Bangka Kelamunot. (ichsan/babelreview)

BABELREVIEW.CO.ID -- KELEZATAN durian lokal asal Bangka Belitung, Super Tembaga (ST) Bangka Kelamunot sudah tak diragukan lagi.

Tak hanya dicari oleh para pembudidaya durian di Babel,  ST Bangka Kelamunot kini menjadi incaran para pecinta durian di Indonesia bahkan di Asia.

Namun siapa sangka jika durian lokal termahal dengan tekstur daging buah yang kenyal, tebal dan berwarna kuning tembaga ini awalnya adalah  sebatang pohon yang tak diharapkan tumbuh.

Ya, ST Bangka yang kini tersohor itu, awalnya tak sengaja ditanam oleh pemiliknya.

Adalah Jamhur warga Desa Kemuja Kecamatan Mendobarat, penemu sekaligus orang pertama yang melakukan budidaya ST Bangka Kelamunot mengungkapkan, durian termahal itu ia temukan sekitar 20 lebih tahun yang lalu di Desa Jebu Darat Kecamatan Parittiga Kabupaten Bangka Barat.

"Awalnya saya dapat info kalau di Desa Jebu Darat ada buah durian yang kualitasnya lebih bagus dari Namlung atau Cumasi," cerita Jamhur kepada BBR, Rabu (08/07/2020).

Menurut Jamhur, pemilik pohon durian itu bernama Liem Junfuk warga Desa Jebu Darat Kecamatan Parittiga Kabupaten Bangka Barat.

Awalnya durian itu tumbuh begitu saja karena bukan sengaja ditanam.

"Menurut pemiliknya, durian yang sekarang dikenal dengan nama ST Bangka Kelamunot ini, bukan sengaja ditanam. Tapi tumbuh begitu saja secara serampangan dari biji durian Namlung yang memang ada tumbuh di Jebu Darat. Kalau menurut pemiliknya, durian dengan indukan biji Namlung tadi, di usia sekitar 5 tahun sudah berbuah. Daging buahnya jauh lebih bagus ketimbang indukannya yakni Namlung," ungkap Jamhur.

Karena penasaran,  Jamhur lantas mengambil beberapa pucuk durian tersebut untuk ditanam di kebunnya dengan cara disambung dengan anakan durian biasa.

"Awalnya saya tanam beberapa batang saja di kebun. Sekitar usia empat sampai 5 tahun, ternyata sudah berbuah. Kualitas buahnya juga memang bagus, lebih bagus dari Namlung," ungkap Jamhur.

Senang dengan hasil tanamannya, membuat Jamhur semakin semangat dan terus melakukan pembibitan lebih banyak lagi sambil melakukan diskusi dan bimbingan dengan pihak Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi  Bangka Belitung.

"Waktu kita diskusi di BPTP Provinsi Babel, tercetuslah nama untuk jenis durian yang saya budidaya ini. Awalnya oleh pegawai di BPTP diberi nama Durian Super Jamhur. Tapi nama itu saya tolak, akhirnya setelah melalui diskusi panjang dan alot, kami sepakati dengan nama Super Tembaga Kelamunot," ungkap  Jamhur.

Ia menambahkan, kini nama durian Super Tembaga Bangka Kelamunot ini tinggal menunggu sertifikat hak patennya dari instansi terkait.

Sembari menunggu sertifikat hak paten terbit,  Jamhur terus melakukan pembibitan.

Kini pesanan tak hanya datang dari Bangka Belitung saja, tapi ST Bangka Kelamunot juga sudah tersebar di Indonesia bahkan sejumlah negara di Asia. (BBR)
Laporan: Ichsan Mokoginta Dasin