Tanaman Simpur Jadi Brand SMPN 3 Merawang

Admin
Tanaman Simpur Jadi Brand SMPN 3 Merawang
foto: Irwan

MERAWANG,BABELREVIEW – Daun simpur yang tumbuh secara liar di Bangka memiliki berbagai manfaat. Sejak lama daun simpur digunakan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan,         apalagi sebelum penggunaan kantung plastik.Dulu daun  simpur  biasanya digunakan sebagai pembungkus ikan segar, tempe,lontong, tapai, dan makanan lain. Selain memiliki ukuran yang  lebar dan tebal, daun simpur dipercaya dapat membuat makanan tidak cepat rusa.k

Manfaat tanaman ini ternyata dilirik oleh pihak SMP Negeri 3 Merawang, untuk dikembangkan menjadi berbagai produk. Tak hanya itu, tanaman simpur ini nantinya juga akan menjadi brand sekolah.

Mengawali hal tersebut, pihak sekolah mengadakan sosialisasi kepada peserta didik dan guru yang mendatangkan para praktisi dari Jakarta maupun Staf Dinas Kehutanan Suhada yang juga seorang pemerhati lingkungan dan potensi alam.

“Jadi sekolah-sekolah sekarang ini diminta untuk memiliki brand atau ciri khas sekolah, yang paling dekat adalah potensi yang ada di sekitar kita ini. Karena di Bangka ini banyak tanaman simpur bisa ditemui di pinggir jalan atau di hutan-hutan tumbuh liar. Daun simpur juga memiliki kandungan penghambat bakteri, jadi kita coba kembangkan manfaat tanaman simpur ini,” jelas Kepala Tata Usaha SMP Negeri 3 Merawang, Sanjaya.

Saat ini SMP Negeri 3 Merawang sedang mencoba membuat produk teh berbahan daun simpur. Untuk menjadi sebuah produk teh, daun simpur harus melalui beberapa proses, termasuk pengeringan.

Tak hanya memiliki kesegaran dan rasa yang khas, teh ini juga diakui memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, salah satunya adalah mengatasi alergi. “Pembuatan produknya itu seperti teh nanti kita akan buat berbagai jenis ada yang serbuk, ada yang sachet, ada yang minuman botol, dan ukuran gelas juga.

Yang jelas kita akan mengoptimalkan melibatkan peserta didik ini supaya lebih mencintai produk dan setelah besar nanti memiliki bekal memproduksi olahan tanaman simpur ini jadi memiliki nilai ekonomis,” katanya. Bukan hanya berupa produk, pihak SMP Negeri 3 Merawang kedepannya juga memiliki rencana mengambangkan kawasan di belakang sekolah untuk menjadi taman pohon simpur.

Taman ini nantinya selain sebagai budidaya tanaman simpur juga sebagai pusat studi pengembangan tanaman simpur dan lokasi agrowisata. “Kalau di Bangka Tengah ada wisata hutan pelawan, kita ingin di Bangka Induk ini memiliki taman pohon simpur rencananya nanti di belakang sekolah. Nanti akan ada tahapan-tahapannya jadi branding sekolah ini akan terus berkembang,” ujarnya.

Sebelum memproduksi secara masal, langkah awalnya pihak sekolah akan membawa tanaman simpur ke laboratorium Institut Pertanian Bogor untuk meneliti lebih jauh kandungan dan manfaat tanaman simpur, mulai dari akar, batang, daun, bunga dan getah. Setelah berhasil produksi, rencananya juga akan membidik pasar luar negeri.

 “Makanya kedepan akan mengupayakan ISO 15000 yakni sertifikat agar produk tersebut mendapat jaminan dapat dijual ke luar negeri. Karena kalau di luar negeri orang yang sakit ringan seperti flu jika ingin mendapatkan obat saja harus melalui resep dokter, makanya orang disana lebih tertarik menggunakan produk herbal.

Pemerintah Australia juga melarang pembungkus makanan menggunakan plastik harus menggunakan bahan organik, sekarang kita sudah menemukan solusi pembungkus makanan menggunakan daun simpur,” jelasnya. Dalam sosialisasi tanaman simpur tersebut, Suhada, sebagai pemerhati lingkungan dengan keahliannya mengembangkan potensi alam menjadi sebuah produk bernilai ekonomi mencoba memberi pemahaman kepada peserta didik maupun guru tentang manfaat sumber daya alam yang dimiliki daerah, termasuk tanaman simpur.

Tak hanya daun, bagian lain dari tanaman itu juga memiliki manfaat, contohnya getah batang dapat diolah menjadi produk minyak rambut alami. “Dengan pengetahuan sumber daya alam kita bisa mengembang-kan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Apalagi orang di luar negeri sudah sadar tidak ingin lagi menggunakan produk sintetis, kembali yang alami karena sehat itu kebutuhan. Dengan begitu ini akan menjadi produk unggulan karena di daerah lain dan luar negeri tidak ada yang seperti ini,” jelas Suhada.

Dengan mengembangkan tumbuhan simpur, Suhada berharap akan mendorong masyarakat membudidayakan tanaman endemik lokal dan menanam di lahan bekas tambang, karena tanaman lokal tak perlu lagi beradaptasi pada lahan yang memiliki polutan tinggi. Otomatis dapat menyelamatkan ekosistem dan lingkungan hidup dengan tanaman endemik lokal yang kaya akan manfaat. (BBR)


Penulis : Irwan 
Editor   : Sanjay
Sumber :Babelreview