Terkendala Dana, Dua Siswi SMKN 2 Koba Terancam Batal Ikut Science Energy Engineering Fair di Turki

kasmirudin
Terkendala Dana, Dua Siswi SMKN 2 Koba Terancam Batal Ikut Science Energy Engineering Fair di Turki
Wika Wilandari dan Windy Wulandari, terancam batal berangkat ke Turki karena terkendala dana. (foto:Faisal)

BANGKA TENGAH, BABELREVIEW.CO.ID -- Wika Wilandari (17) dan Windy Wulandari (17), siswi berprestasi kelas 11 jurusan Bisnis Manajemen SMKN 2 Koba terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti event tingkat Internasional Science Energy Engineering Fair (OKSEF) yang dilaksanakan diTurki.

Namun, prestasi yang mereka capai ini nampaknya harus melewati jalan terjal. Pasalnya, prestasi mereka tidak sepenuhnya mendapat dukungan. Kedua siswi ini harus jungkir balik menyebarkan proposal untuk bantuan dana keberangkatan.

Wika mengatakan, Event Internasional Science ini dilaksanakan pada 9-16 Juni 2019 nanti dan namun dirinya masih terkendala pendanaan, ditambah waktu pendaftaran yang tinggal kurang dari 2 minggu lagi.

"Dealine pendaftaran tidak lama lagi habis, yakni pada tanggal 15 Maret 2019 ini. Kita masih terkendala dana, padahal kegiatan ini sangat bagus. Kita nanti akan mempersentasikan tentang hasil penemuan alat untuk menginokulasi gaharu dengan cepat dan berkualitas tinggi. Kami telah membuat alat inovasi sendiri, yaitu berupa inokulan dan alat sensor teknologi, dengan satu alat bisa tiga kegunaan," jelas Wika didampingi Windy kepada Babel Review, Selasa (5/3/2019).

Wika menjelaskan, awal cerita mereka bisa mengikuti kegiatan ini. Mereka mendaftar dalam ajang perlombaan untuk penelitian, Indonesian Young Scientist Association (IYSA), untuk kegiatan event Internasional di Turki. Kemudian mereka mengirimkan proposal lewat online, setelah dua minggu, ternyata mereka terpilih dari pihak IYSA untuk mewakili Indonesia dalam event tersebut di Turki.

"Ini kesempatan emas bagi kami sebagai pelajar, karena itu kami sangat mengharapkan bisa pergi kesana untuk mengharumkan nama Bangka Tengah dan Indonesia. Karena untuk lolos ini susah melawan tim peneliti yang ada di seluruh Indonesia. Artinya, ini kesempatan emas, kami satu satunya perwakilan dan juga ingin membanggakan orang tua dan keluarga yang sudah tahu kami ingin berangkat. Tetapi  masih terkendala biaya," jelas Wika.

Ia mengatakan, biaya yang diperlukan untuk berangkat ke Turki total per orangnya sebesar Rp 27 juta. Itu sudah termasuk tiket pulang pergi (PP), akomodasi penginapan, konsumsi, wisata, registrasi, visa, asuransi, pembinaan online dan tranportasi dari bandara ke venue.

"Kami masih kendala di dana, sudah banyak proposal yang kami kirim ke Pemda atau perusahaan swasta. Ada beberapa yang merespon, namun belum ada kejelasan. Sehingga kami juga bingung terhadap kondisi saat ini, apakah kami jadi pergi atau tidak," keluhnya.

Sementara Windy menambahkan, saat ini mereka belum ada dana sedikitpun untuk berangkat ke Turki. Padahal  batas waktu pendaftaran pada 15 Maret 2019 ini, harapan mereka semoga ada bantuan dari berbagai pihak. Agar bisa memberangkatkan mereka berdua ke Turki.

"Kami sangat sulit mendapatkan bantuan, janganlah sampai kami kecewa karena gagal berangkat. Telah banyak perjuangan kami lakukan, baik menciptakan alat itu, termasuk mempersiapkan keberangkatan ini. Kami anggap respon masih lambat, padahal olah pikir tentang penelitian ini juga termasuk prestasi, yang membanggakan ," tuturnya.

Selain itu, mirisnya lagi mereka saat ini telah terhutang, sebesar Rp 51 juta. Karena pihak panitia telah membooking tiket untuk mereka pergi ke Turki.

"Dari pihak panitia sudah membooking tiket PP Jakarta ke Turki untuk tiga orang sebesar Rp 51 juta untuk dua siswa dan satu guru pembimbing, mereka pesan jauh hari. Karena takut harga tiket mahal bila lama memesannya,” pungkas Windy. (BBR)


Penulis  : Faisal                                                     
Editor    : Kasmir
Sumber  :Babel Review