Ternyata ini Pujangga Pantun Bangka Belitung

Ahada
Ternyata ini Pujangga Pantun Bangka Belitung
Pak Cik Kario. (Ist)

NAMANG, BABELREVIEW.CO.ID - Suka berpantun atau hanya suka dengar pantun? Tentu kenal dong dengan Pak Cik Kario. 

Bagi masyarakat Pangkalpinang penikmat pantun, pasti tahu jika setiap jum'at malam pukul 19.00 hingga 22.00 WIB, suara Pak Cik Kario ini selalu setia menyapa penggemar Radio hingga ke pelosok tanah melayu Bangka Belitung.

Jika kita ketemu Pak Cik Kario, maka jangan heran jika sepanjang obrolan, akan selalu ada pantun dilemparkannya.

"Ikan ketarap ikan di karang. Makan janek berduri duri. Jangan diharap punye orang.
Kalau tidak ada punya sendiri". 

Sebuah pantun mengalir tanpa diminta keluar dari mulutnya, saat bertemu Pak Cik Kario di Pondok Atok Usang di Kawasan Taman Mandara Pangkalpinang, Rabu (17/6/2020).

Kapan sebenarnya Pak Cik Kario mulai berpantun?

Menurut penuturannya, sejak kecil ia sudah tertarik dengan pantun.

Sehingga bakat yang terpendam itu sudah diasah dengan lingkungan yang mewarnai kehidupan Pak Cik Kario selaman ini.

"Umur  9 tahun saya  sering dekat dengan orang-orang tua, dan  sering menyabut uban mereka. Itu tidak diupah atau bayar, hanya  dengan senang hati, mereka berpantun untukku dan akupun seneng walau tanpa dikasih uang", ungkap Pak Cik Kario.

Gara-gara bakatnya berpantun itu, pada suatu ketika Pak Cik Kario menonton sebuah pertandingan sepakbola.

Saat sepakbola sedang berlaga, Pak Cik Kario  berbalas pantun dengan lawan tandingnya.

Melihat aksi Pak Cik Kario ini, para penonton yang awalnya asyik menonton sepakbola akhirnya beralih menyaksikan Pak Cik Kario berbalas pantun di pinggir lapangan. 

Sehingga penonton bukannya menonton pertandingan sepak  bola, melainkan menonton keseruan Kario berpantun.

Akibatnya pertandingan sepak bola sepi penonton.

Kario Pantun, demikian penduduk desa Kurau mengenalnya.

Sebelum dikenal orang sebagai pemantun, Kario bekerja sebagai juru parkir di Pelelangan Ikan Kurau.

Karena kemahirannya dalam berpantun,  maka pada tahun 2003, Kario terpilih sebagai duta pantun dari Bangka Belitung, setelah mengalahkan seorang  penyanyi dambus dari Mentok dalam 30 pantun.

Pada tahun 2004, Kario dikirim ke Malaysia untuk mengikuti seminar "Dunia Melayu Dunia Islam".

Di seminar inilah, Kario banyak belajar tentang ilmu pantun, terutama  mengenai  kaitan antara baris sampiran pertama dan kedua.

Di acara ini pula Pak Cik Kario menunjukkan kelasnya dan mengharumkan nama Bangka Belitung di dunia internasional.

Kario unjuk kebolehan berpantun  dengan mengalahkan semua pujangga pantun dari berbagai daerah.

Termasuk seorang lawannya dari kepulauan Riau. 

Dan diacara ini juga,  semua pemantun  diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya berbalas pantun.

Namun, tiada seorangpun pujangga pantun dapat berbalas pantun secara spontan seperti Kario.

Sejak itu, Kario dikenal dan terkenal dengan panggilan Kario Pantun.

Dan sebagai penghargaan terhadap kemampuannya ini, bupati Bangka Tengah kala itu  Drs H Abu Hanifah (alm), melalui Dinas Pendidikan Bangka Tengah memintanya  untuk mengajar muatan lokal pelajaran pantun di SD 12 Kurau. 

Selama menggeluti dunia pantun...

  • Halaman
  • 1
  • 2