Tetap Berisi di Tengah Serangan Pandemi

diko subadya
Tetap Berisi di Tengah Serangan Pandemi
Oleh : Fahmi Prayoga, Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya (Foto Dok. Pribadi)

BABELREVIEW.CO.ID -- Coronavirus Disease (Covid-19) saat ini telah menyerang lebih dari 200 negara di seluruh dunia dengan jumlah kasus mencapai 3,8 juta jiwa per 7 Mei 2020 dengan total kematian tercatat di angka 260 ribuan jiwa. Indonesia sampai dengan saat ini sudah di angka 12ribu-an kasus. Bahkan beberapa daerah telah melakukan (Pembatasan Sosial Berskala Besar) PSBB demi menyetop persebaran covid-19 menjadi lebih luas. Lantas apakah kegiatan manusia yang senantiasa berkembang ini juga terlockdown?

Nyatanya manusia dengan modal akal mampu berupaya untuk terus memanfaatkan kreatifitasnya. Berbagai kendala dalam kehidupan masa pandemi senantiasa dicarikan jalan keluar. Tidak ada cerita bahwa masalah tidak dapat terpecahkan selama manusia masih diberikan nikmat nafas oleh Allah SWT yang dapat dioptimalkan menggunakan pikirannya. Terlebih dengan adanya kemajuan teknologi saat ini, semaunya dapat bergerak begitu cepat. 

Seperti kita sadari bersama saat ini semuanya sudah serba online. Ingin ikut seminar? Bisa ikut web seminar yang sudah banyak juga saat ini, tak perlu pergi ke hotel ataupun kampus. Ingin makanan dan minuman yang sesuai selera? Sudah tak perlu repot hingga membuat dapur kotor, tinggal buka aplikasi, makanan dan minuman tiba dalam sesaat. Memasuki bulan puasa, ingin ikut kajian sehingga dapat ilmu agama yang baru? Sudah banyak ustadz ustadzah yang memiliki fasilitas kajian dengan media online. 

Upaya tetap produktif ditengah kondisi Work From Home tentu harus terus dipertahankan. Meskipun tentu kita tidak dapat menampik bahwa ada hal-hal yang mana proses ini terbentur dengan kendala-kendala tertentu. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh di sekolah sebagai bentuk upaya menghambat laju persebaran Covid-19. Namun, sistem pembelajaran jarak jauh ini belum berjalan optimal. Kesiapan infrastruktur teknologi dan jaringan internet di daerah pelosok tentu masih terbatas ketimbang kondisi di kota besar. Selain itu ketersediaan smartphone ataupun perangkat lain yang memadai untuk menunjang pembelajaran daring menjadi persoalan lainnya. 

Apakah ada perasaan bosan? Tentu, perasaan tersebut normal-normal saja apabila kita dihadapkan kondisi di rumah saja terlalu lama. Namun apa daya, pandemi covid-19 ini memaksa kita untuk tetap beraktivitas secara terbatas. Namun, silahkan cari aktivitas lain yang sekiranya dapat menambah value diri ketika nanti mentas dari kurungan pandemi ini. 

Sebenarnya ada banyak penawaran pelatihan dilakukan secara daring. Ini tentu bisa jadi kesempatan kita untuk menambah value diri. Pelatihan daring cenderung memiliki biaya yang tidak lebih mahal ketimbang tatap muka. Tentu saja, karena pelatihan tatap muka akan memakan biaya transportasi pembicara, sewa tempat, konsumsi, dan sebagainya. Dengan kondisi seperti ini melalui media daring, biaya-biaya tersebut dapat dipangkas. 

Walaupun biaya menjadi lebih murah, terdapat kelemahan yang harus dihadapi pelatihan daring ini. Dari kacamata peserta, tentu akan ada keterbatasan waktu sehingga tidak semua pertanyaan akan terjawab. Bahkan bisa saja tidak mendapat kesempatan bertanya karena banyaknya peserta yang ingin bertanya. Dan masih sama dengan kendala perihal pembelajaran jarak jauh untuk kalangan akademisi, masalah koneksi internet yang tidak selamanya dalam kondisi stabil dapat membuat proses pelatihan agak terganggu. 

Pada kacamata pembicara? Agaknya perlu menjadi perhatian yang lebih dan detil dalam persiapan untuk menyampaikan materi agar nantinya dapat dipahami dengan baik oleh peserta. Perlu dipastikan apakah alat peraga seperti foto dan video mampu ditayangkan dengan maksimal pada peserta. Dan, pastinya ada perbedaan cara berkomunikasi yang mana ekpresi peserta tidak dapat terlihat secara langsung pada pelatihan daring ini. 

Soal biaya dan keuangan mari kita coba akali dengan mengambi pos untuk transportasi yang agaknya akan berkurang di tengah pandemi ini untuk dialihkan pada pos pelatihan daring. Sepatutnya apabila ada kesempatan belajar di rumah, kita harus mampu mengatur waktu dengan efektif dan efisien dalam rangka menambah pengetahuan dan keterampilan selama pandemi covid-19 masih menguasai kondisi di bumi. 


Penulis : Fahmi Prayoga, Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya (Asisten Peneliti Muda pada Institute for Development and Governance Studies)