Thai Se Ja Curi Perhatian Pengunjung Puri Tri Agung

Admin
Thai Se Ja Curi Perhatian Pengunjung Puri Tri Agung
FOTO :( FERLY ADITYA )

SUNGAILIAT, BABEL REVIEW – Patung Thai Se Ja setinggi sepuluh meter berdiri di halaman Tempat Peribadatan Puri Tri Agung, Sungailiat, beberapa pekan sebelum perayaan Chit Ngiat Pan atau yang biasa disebut Sembahyang Rebut. Thai Se Ja atau Raja Akhirat selalu dibuat dalam posisi sedang duduk dan memiliki paras seram dengan ciri khas gigi yang bertaring panjang.

Malam itu, bertepatan pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan imlek, patung Thai Se Ja tampak paling mencuri perhatian. Selain karena tinggi menjulang, umat malam itu melakukan ritual sembahyang dan berdoa di depan altar persembahan yang terletak di bawah patung.

Doa yang mereka panjatkan umumnya untuk arwah para leluhur agar mendapat ketentraman dan menolak segala bala di dunia. Di depan patung terdapat dua altar persembahan yang dibuat secara bertingkat menggunakan bambu berhias pohon tebu.

Dialtar itu terdapat berbagai sayuran, buah-buahan, aneka kue, mie instan, susu dan berbagai jenis makanan lainnya. Semuanya itu akan diperebutkan oleh siapa saja yang datang ketika tiba waktunya. Sejak pagi, panitia yang diketuai Then Yohannes mengadakan bakti sosial berupa pembagian beras bagi warga kurang mampu di wilayah Rebo, Rambak, Teluk Uber dan Jelitik.

Panitia juga melakukan pemberkatan untuk bangunan putih yang terletak di samping Puri Tri Agung. Bangunan tersebut  digunakan sebagai tempat tinggal para sangha dan aktivitas pendidikan.“Acara ini kita selenggarakan setiap tahun di Puri Tri Agung dalam memperingati Chit Ngiat Pan. Untuk masyarakat kita sudah sediakan makanan dan minuman gratis, seperti thew fu fa, martabak, kopi, dan hidangan lainnya.

Malam kita juga memberikan hiburan untuk masyarakat ada penampilan dari penyanyi, tarian, sulap dan atraksi barongsai,” kata Yohannes. Ribuan masyarakat Tionghoa dan Melayu berbaur menyaksikan perayaan tersebut.

Jelang puncak acara, masyarakat bertambah ramai dihibur berbagai hiburan. Perayaan bertambah seru ketika memasuki lelang sebuah payung yang terletak di atas patung Thai Se Ja. Diyakini siapa yang mendapat payung tersebut akan mendapat perlindungan dari Yang Kuasa dan dilimpahkan rezeki serta dilancarkan dalam menyelesaikan persoalan hidup.

Beberapa tokoh daerah bersaing untuk mendapatkan payung tersebut dengan terus menaikan harga beli. Pada akhirnya kepemilikan payung jatuh ke tangan Bambang Patijaya dengan harga Rp 30 juta. Sejumlah orang yang tak sabar menunggu langsung berebut mangambil apapun yang ada di altar persembahan.

Baik anakanak hingga orang tua saling adu cepat mendapatkan persembahan hingga ke tingkat paling atas. Walaupun suasana sedikit ricuh, namun segera kondusif dan kembali penuh dengan hiburan. Pukul 22.30 acara puncak pun tiba. Patung Thai Se Ja oleh panitia digotong dari halaman tempat peribadatan ke lapangan kosong yang terletak di bawah Puri Tri Agung.

Di tengah lapangan, patung dibaringkan agar memudahkan proses pembakaran. Sebelum dibakar, patung terlebih dahulu ditaburi kimci di seluruh bagian patung. Tak lama kemudian api disulutkan dan dengan cepat membakar seluruh patung yang bermaterialkan sterofoam.

Dengan dibakarnya Thai Se Ja ,maka menurut kepercayaan Konghucu arwah-arwah yang turun ke bumi kembali ke asalnya di akhirat .pada hakikatnya perayaan ini sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur agar tentram di akhirat dan berdoa di jauhkan dari malapetaka di kehidup[an manusia .(BBR)


Penulis :Irwan
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview