Tiga Pulau Cantik Di Depan Desa Pusuk Ini Ternoda Oleh Akvitas Tambang Laut

Ahada
Tiga Pulau Cantik Di Depan Desa Pusuk Ini Ternoda Oleh Akvitas Tambang Laut
Keindahan Pulau Nanas yang berada tidak jauh dari Desa Pusuk ini, telah menggoda wisatawan berkunjung. (Ist)
Keindahan Pulau Nanas yang berada tidak jauh dari Desa Pusuk ini, telah menggoda wisatawan berkunjung. (Ist)
Keindahan Pulau Nanas yang berada tidak jauh dari Desa Pusuk ini, telah menggoda wisatawan berkunjung. (Ist)
Kadus 1 Pusuk Utara, Maryono. (Ichsan MD/babelreview)
Kadus 1 Pusuk Utara, Maryono. (Ichsan MD/babelreview)

BABELREVIEW.CO.ID -- Selain hutan mangrove, Pemdes  Pusuk Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat juga akan memaksimalkan destinasi wisata bahari, yakni dengan memanfaatkan peluang kesohoran Pulau Nanas dan sejumlah pulau lainnya.

Saat ini beberapa pulau di depan Desa Pusuk tersebut mulai menjadi kawasan wisata favorite dan banyak dikunjungi.

"Kalau untuk pengelolaan terhadap pulaunya (Pulau Nanas, Pulau Buah dan Pulau Putri) mungkin belum bisa dilakukan. Sebab hingga saat ini status pulau-pulau tersebut belum jelas. Masih terjadi pengklaiman antara Kecamatan Kelapa dan Kecamatan Parittiga. Jadi saat ini kita baru merencanakan pemanfaatan momennya saja seperti penyediaan fasilitas penyeberangan dan spot lainnya seperti memancing dan sebagainya," beber Sekretaris Desa Pusuk, Dani kepada babelreview.

Sementara itu, pegiat lingkungan yang juga Kadus 1 Pusuk Utara, Maryono mengatakan, polemik terhadap pengakuan status Pulau Nanas dan pulau lainnya dapat diselesaikan dengan cara kerja sama antar desa atau kecamatan.

Menurut dia, kerja sama dalam hal pengelolaan terhadap pulau-pulau itu, apakah dalam bentuk kerja sama antar kecamatan maupun kerja sama antar desa adalah solusi terbaik.

"Jalan tengahnya adalah kerja sama dalam hal pengelolaannya. Ini sangat mungkin dan jalan terbaik," ujar Maryono.

Dalam kesempatan tersebut, pria yang akrab disapa Pak Yon ini juga mengungkapkan, maju tidaknya destinasi wisata bahari sangat tergantung dengan komitmen pemerintah dalam hal penetapan kawasan Teluk Kelabat sebagai zona zero tambang.

Berdasarkan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K),  kata Maryono, kawasan Teluk Kelabat merupakan kawasan zero tambang.

Tapi kenyataannya, aktivitas penambangan masih saja terjadi dan berpotensi merusak habitat laut dan pantai.

"Jangan hanya ada perda saja, tapi tak dijalankan," tegas Maryono.(BBR)

Laporan: Ichsan Mokoginta Dasin