"TOTALITAS, PRIORITAS, dan TUNTAS"

Kasmirudin
Aditya Abrifa. (kanan)

“Hati-hati!!! Yang TOTALITAS saja belum tentu  jadi PRIORITAS jadi harus "sedang-sedang saja" agar hubungan tidak TUNTAS”

DI kehidupan sehari-hari kita memang tak terlepas dari hubungan sosial. Sebagai mahluk sosial manusia memang tidak dapat hidup dan melakukan sesuatu dengan sendirinya, sudah pasti sangat membutuhkan bantuan orang lain atau masyarakat.

Sejatinya secara kodrat memang manusia itu merupakan makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Ia selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Di dalam kehidupannya manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Dengan bersosialisasi akan terbentuk kepribadian yang ada pada dirinya.

Proses sosialisasi ini dilakukan melalui kegiatan interaksi sosial, dan kegiatan masyarakat lainnya. Potensi-potensi kepribadiannya dapat berkembang melalui interaksi sosial dalam lingkungannya, lingkungan yang baik akan membentuk kepribadian seseorang yang baik begitu pula sebaliknya.

Dalam hubungan sosial bermasyarakat kini yang terjadi di kehidupan sehari-hari manusia tak terlepas dari konteks pro dan kontra, karena setiap manusia sudah pastinya mempunyai kecerdasan emosional (Emosional Quetiont). Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk merasa, seperti: frustasi, kecewa, takut, khawatir, senang, bahagia dan lain-lain.

Kecerdasan Emosional ini harus dimiliki seseorang Pemimpin baik dalam lingkungan hubungan keluarga, masyarakat, dan pemerintahan. Kenapa demikian?

Topik ini sangat cocok kita kaitkan dengan segera datangnya pilkades serentak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang akan diselenggarakan serentak pada 13 Oktober 2021 mendatang. Dalam hal ini akan banyak sekali kita temukan kecerdasan emosional, ada yang dari sekarang sudah secara terang-terangan mencalonkan diri dan mulai merangkul massa, ada yang diam-diam mengamati tahu-tahu mencalonkan diri, ada yang dicalonkan oleh masyarakat tapi tidak merasa percaya diri. Di momentum pilkades yang terjadi lima tahun sekali ini, hubungan sosial masyarakat yang melibatkan kecerdasan emosional yang harus menimbulkan dampak yang begitu besar dalam menentukan seorang pemimpin yang akan memimpin desa.

Peran masyarakat dalam menentukan dan memilih seseorang yang akan menjadi pemimpin desa harus TOTAL. Jangan mudah percaya dengan janji-janji politik yang sifatnya belum pasti, jangan mudah tertarik dengan iming-iming yang bisa membuat tebalnya kening, dan jangan tertipu oleh uang-uang pengganti suara yang bisa bikin mata menjadi keranjang dari apa yang disampaikan oleh para kontestan-kontestan calon atau pun timsesnya.

Kasus ini sering terjadi dilingkungan sekitar kita, baik itu terjadi di bab pildes, pilleg, pilbup, pilgub, pilkada, dan bahkan pilpres ditingkat yang tertinggi sekalipun, untuk menghindari agar tidak salah dalam memilih pemimpin, maka peran masyarakat harus ekstra dan TOTAL, karena ini menyangkut konsekuensi hidup 5 tahun kedepan dan masa depan hidup yang panjang agar nasib hidup tidak "Luntang-lantung" (tidak jelas). Karena banyak pemimpin yang sudah mendapatkan kekuasaan dan jabatan lupa pada orang-orang yang berjuang mati-matian menghantarnya ke kursi kekuasaan.

Kasus ini sebaliknya bisa terjadi pada seorang calon pemimpin, seorang calon pemimpin harus berpikir bijak dan pandai mengontrol kecerdasan emosionalnya. Di momentum pildes sampai pilpres biasanya para kandidat calon dan timsesnya berlomba-lomba untuk merangkul massa dan mengobral nama, dengan berbagai cara/kegiatan dilakukan berperan TOTAL turun langsung ke lapangan, yang dilakukan tentunya tak sedikit menguras kantong calon kandidat, dari membuat sticker, brosur, pamflet, spanduk, baju, kain dan sarana kampanye lainnya, dan yang paling menarik biasanya sebelum hari H ( hari pemilihan) para kandidat dan timses sudah mempunyai strategi khusus yang biasa kita dengar dengan istilah "money politic" ataupun "Serangan Fajar" yaitu strategi dengan memberi uang (duit) disaat pagi subuh kepada massa yang sudah memiliki hak suara agar memilih kandidat yang diusungkan (yang memberi uang). Biasanya jumlah uang yang diberikan dari mulai Rp 100.000 sampai Rp300.000/suara.

Untuk memenangkan kontes ini dan merebut kursi mahkota, para kandidat tidak takut menghamburkan uang, dan bahkan sering para kandidat calon sampai-sampai mengorbankan harta dan asetnya, bahkan yang paling menarik ada yang sampai menggadaikan rumah pribadinya.  Hal ini merupakan kecerdasan emosional yang sifatnya TOTALITAS dalam perjuangan dengan berani berkorban mempertaruhkan yang ia punya. Sering para kandidat calon mengesampingkan resiko yang akan terjadi bila seandainya ia tidak terpilih karena terlalu berambisi untuk menang.

Yah, dengan mengorbankan waktu, tenaga dan materi (TOTALITAS) saja terkadang tidak cukup dan belum tentu orang-orang yang sudah diberi uang dan beri kepercayaan bisa mengantarkan ia untuk menang, karena zaman sekarang ini masyarakat kecil tidak juga bodoh dan tidak mau dibodoh-bodohi, sehingga dalam kasus ini ada yang sebagian masyarakat mengambil tapi tidak memilih, pura-pura berpihak tapi tidak memihak, se-iya tapi tidak setindakan alias "Ngakal Umpan". Dan para calon kandidat merasa dirugikan akhirnya stres, frustasi dan kecewa karena harta dan aset sudah dijual dan habis digadaikan (TUNTAS) tetapi kekuasaan dan jabatan tak kunjung didapatkan alhasil bisa ngiret kaleng alias gila.

Kasus sosial seperti ini bukan hanya terjadi dalam konteks politik saja, bahkan juga bisa terjadi dalam konteks hubungan asmara antara pria dan wanita. Yah bermula dari kenal lalu pacaran bertahun-tahun lamanya menghabiskan banyak waktu, tenaga, uang, pikiran, apalagi perasaan (baper) akan tetapi sering terjadi hubungan itu tidak sampai ke pelamainan pada akhirnya berujung kekecewaan. Namun itu semua tak terlepas dari Taqdir Tuhan yang sudah menentukan apa yang baik dan apa yang buruk untuk manusia sebagai (hamba-Nya).

Dengan demikian kita sebagai manusia yang menjadi masyarakat dan bakal menjadi seorang pemimpin harus cerdas dan pandai mengontrol kecerdasan emosional dalam hidup bersosial, karena yang berjuang mati-matian (TOTALITAS) belum tentu menjadi pilihan (PRIORITAS) jangan sampai apa yang dilakukan bisa membuat hubugan habis (TUNTAS). #Salam_Totalitas #Salam_Prioritas #Salam_Tuntas. (BBR)


Penulis : Aditya Abrifa (CJ)

Editor   : Kasmir