BABELREVIEW.CO.ID – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) berada dalam fase krusial yang menentukan arah pembangunan jangka panjangnya. Selama bertahun-tahun, timah menjadi penopang utama perekonomian, namun ketergantungan yang terlalu besar justru membuat daerah ini rapuh ketika sektor tambang mengalami perlambatan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa angka kemiskinan meningkat dari 4,55 persen pada Maret 2024 menjadi 5,08 persen pada September 2024, sementara pertumbuhan ekonomi Babel hanya mencapai 0,77 persen pada tahun yang sama, terendah di Sumatera. Ketika sektor tambang goyah, pondasi ekonomi masyarakat ikut terguncang karena belum adanya sektor alternatif yang benar-benar siap menggantikan peran timah.
Kondisi ini semakin parah karena maraknya aktivitas tambang ilegal yang tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga menimbulkan kerugian negara dalam jumlah masif. Pemerintah pusat bahkan menginstruksikan penutupan sekitar 1.000 tambang ilegal di Bangka Belitung pada 2025, dengan estimasi kerugian negara mencapai ratusan triliun rupiah. Kerusakan lahan, turunnya hasil tangkap nelayan, dan hilangnya produktivitas pertanian menunjukkan bahwa beban ekologis tambang ilegal jauh lebih besar daripada nilai ekonominya. Lingkungan yang rusak berdampak langsung pada daya dukung wilayah dan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam non-tambang.
Meski demikian, peluang untuk melakukan transformasi masih terbuka lebar. Tren ketenagakerjaan 2025 menunjukkan pergeseran tenaga kerja menuju sektor pertanian, perikanan, dan jasa. Ini menandakan bahwa diversifikasi ekonomi tidak hanya mungkin, tetapi mulai berlangsung secara alami di tingkat masyarakat. Pemerintah daerah juga telah memberikan sinyal kuat untuk memperkuat sektor non-tambang, termasuk agribisnis, industri pengolahan hasil laut, pariwisata, dan UMKM. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan terarah, sektor-sektor ini memiliki potensi besar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Untuk mendorong transformasi tersebut, menurut saya ada beberapa langkah strategis yang perlu segera direalisasikan. Pertama, pemerintah harus mempercepat diversifikasi ekonomi dengan memberikan insentif nyata bagi sektor pertanian, perikanan, pariwisata, industri kreatif, dan pengolahan lokal. Dukungan modal, akses pasar, dan infrastruktur adalah kunci agar sektor-sektor ini dapat tumbuh dan menyerap tenaga kerja. Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi prioritas. Pelatihan vokasional dan pengembangan keterampilan bagi generasi muda dan pekerja eks-tambang penting agar mereka dapat beralih ke sektor yang lebih produktif dan berkelanjutan. Ketiga, penegakan hukum dalam tata kelola pertambangan harus dilakukan secara konsisten, tidak hanya menutup tambang ilegal tetapi juga memastikan rehabilitasi lahan berjalan secara terukur dan transparan. Keempat, pembangunan Babel ke depan harus berbasis lingkungan. Rehabilitasi kawasan bekas tambang, konservasi pesisir, dan pengembangan ekowisata dapat menjadi pilar baru bagi ekonomi daerah. Babel memiliki kekayaan alam yang luar biasa, mulai dari pantai, pulau-pulau kecil, hingga budaya lokal yang kuat, yang dapat menjadi motor ekonomi baru jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan. Dan yang terakhir, pelibatan masyarakat lokal dalam proses perumusan kebijakan menjadi penting. Nelayan, petani, pelaku UMKM, dan komunitas lokal lainnya perlu dilibatkan agar arah pembangunan benar-benar mencerminkan kebutuhan dan kondisi riil masyarakat.
Bangka Belitung memiliki peluang besar untuk keluar dari ketergantungan historis terhadap timah dan membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif. Transformasi ini tidak hanya penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup generasi mendatang. Masa depan Babel tidak boleh disandarkan pada satu komoditas yang semakin tidak pasti. Dengan visi yang jelas, kebijakan yang konsisten, dan partisipasi masyarakat, Bangka Belitung dapat menjadi contoh daerah yang berhasil bangkit dari ketergantungan tambang menuju pembangunan berkelanjutan.
Biodata Penulis
Nama : Dera Salsabila
Jurusan/Prodi : Hukum
Kampus : Universitas Bangka Belitung







