UBB dan Coklat Candu Gelar Program Pengembangan UMKM Coklat Lokal di Bangka Belitung untuk Geser Ketergantungan Ekonomi dari Timah

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID – Tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung (UBB), khususnya Program Studi Magister Manajemen, meluncurkan program pengabdian masyarakat untuk mengembangkan UMKM coklat lokal melalui pemberdayaan petani kakao. Kegiatan pelatihan ini berlangsung di Hotel Puri 56, Jumat (29/8/2025), dihadiri para petani, penyuluh pertanian, dan mahasiswa UBB.

Dr. Reniati, S.E., M.Si, sebagai anggota tim pengabdian, menjelaskan visi besar program ini untuk mengubah lanskap ekonomi Bangka Belitung.

“Kita ingin mencari komoditas unggulan baru supaya nanti bisa menggeser kontribusi timah ke kontribusi dari sektor perkebunan, utamanya dari coklat,” ungkap Dr. Reniati.

Menurut Dr. Reniati, strategi hilirisasi pangan memiliki potensi lebih besar dibanding hilirisasi timah.

“Hilirisasi pangan menurut saya lebih powerful dibanding hilirisasi timah karena jumlah petani kita banyak dan berbasis pangan,” tegasnya.

Program ini bermitra strategis dengan Coklat Candu, UMKM lokal yang telah membuktikan potensi coklat Bangka Belitung di pasar nasional bahkan internasional.

Produk coklat rendah gula dengan gula kabung dari Coklat Candu bahkan telah diuji coba di Prancis dan mendapat respons positif karena lebih sehat.

Merinda Harris, sebagai owner Coklat Candu yang menjadi narasumber kedua, menceritakan perjalanan transformatif perusahaannya.

“Coklat Candu memulai usaha pada tahun 2020. Dari 2020 hingga 2023, kami masih menggunakan bahan kakao dari luar karena belum menemukan petani lokal,” ungkap Merinda.

Titik balik terjadi pada 2024 ketika Coklat Candu mulai membangun ekosistem kakao lokal.

“Kami membuat komunitas, bergerak bersama, saling mengenal dengan petani kakao lain, bekerja sama dengan penyuluh pertanian dan Dinas Pertanian,” jelasnya.

Kini di tahun 2025, Coklat Candu sudah sepenuhnya menggunakan biji kakao lokal dengan supplier terbesar di Pemali dan Tepus, Bangka Selatan. Komunitas petani yang terbentuk berkembang dari 30 menjadi 30-40 anggota aktif.

Program pengembangan ini memberikan dampak ekonomi langsung yang signifikan bagi petani kakao. Coklat yang telah diolah dapat dijual dengan harga Rp130.000-170.000 per kilogram, hampir dua kali lipat lebih tinggi dibanding coklat mentah yang hanya dihargai Rp70.000 per kilogram.

Saat ini, budidaya coklat di Bangka masih terbatas pada 3 lokasi dengan luas sekitar 6 hektare di Bangka Tengah dan Tanjung Pandan.

Tim pengabdian UBB yang terdiri dari Dr. Reniati, Dr. Niswan Suhri, dan Dr. Hamsani memberikan bantuan konkret berupa 6 unit mesin pengolahan, bibit unggul, dan pupuk untuk meningkatkan produksi.

Coklat Candu telah membuktikan efektivitas pemasaran digital dalam mengembangkan bisnis coklat lokal.

“Kami benar-benar memanfaatkan digital marketing, social media, dan marketplace sehingga produk Coklat Candu bisa terjual di hampir seluruh provinsi di Indonesia,” kata Merinda.

Fenomena menarik yang terungkap adalah konsumen Coklat Candu justru lebih banyak berasal dari luar Bangka Belitung.

“Ini fun fact sekaligus sedih. Orang Bangka biasanya baru mau mengonsumsi setelah tahu tren dari luar. Banyak konsumen yang baru tahu Coklat Candu berasal dari Pangkalpinang setelah melihat di media sosial,” ungkapnya.

Salah satu fokus utama program ini adalah mengedukasi masyarakat tentang coklat asli kakao yang berbeda dengan coklat komersial. Harris menjelaskan karakteristik unik coklat asli.

“Coklat asli kakao memiliki tiga karakteristik: pahit, asam, dan sepet. Masih banyak orang yang kaget dengan rasa ini karena terbiasa dengan coklat yang dominan gula,” tambahnya.

Edukasi ini penting mengingat manfaat kesehatan coklat asli yang kaya polifenol dan antioksidan.

“Manfaat mood booster, antioksidan tinggi tersebut hanya bisa kita rasakan kalau yang kita makan adalah coklat asli kakao dengan komposisi dominan kakao daripada gula,” jelasnya.

Coklat Candu mengembangkan beragam produk inovatif mulai dari coklat batangan siap makan, coklat chips untuk taburan kue, bubuk coklat untuk minuman dan baking, hingga teh coklat yang dibuat dari kulit biji kakao.

“Coklat bisa dibilang hampir zero waste karena semua bagiannya memiliki nilai ekonomi,” kata Merinda.

Perusahaan juga mengembangkan produk seasonal dengan sentuhan lokal seperti bon-bon berisi nanas bikang, varietas nanas khas Bangka Belitung.

Sejak Januari 2025, Coklat Candu telah membuka store fisik di Jalan Linggar Jati nomor 2, dekat Alun-Alun Kota Pangkalpinang, melengkapi strategi omnichannel mereka.

Perusahaan juga menjalin kemitraan dengan berbagai coffee shop, termasuk Loka Space di Sungai Liat yang sempat viral di media sosial.

Sebagai mitra resmi UBB, Coklat Candu mendapat dukungan berupa bantuan mesin coklat untuk meningkatkan kapasitas produksi yang saat ini membutuhkan 70-100 kilogram biji kakao per bulan.

Perusahaan berencana mengadakan tour edukasi keliling ke seluruh kabupaten dan kota di Bangka Belitung.

“Masih banyak yang belum familiar dengan coklat asli yang rasanya pahit. Kami ingin menggerakkan perekonomian daerah melalui konsumsi produk lokal,” kata Merinda.

Program pengabdian UBB ini diharapkan tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan daerah, tetapi juga menciptakan model bisnis berkelanjutan yang dapat menjadi rujukan pengembangan UMKM berbasis komoditas lokal lainnya di Indonesia.

Masyarakat dapat mengunjungi offline store Coklat Candu di Jalan Linggar Jati nomor 2, Pangkalpinang, atau melalui platform digital mereka untuk mencoba produk coklat asli kakao Bangka Belitung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *