Usaha Kerupuk Ikan Desa Di Desa Baru Butuh Bantuan

Admin
Usaha Kerupuk Ikan Desa Di Desa Baru Butuh Bantuan
foto:Vera Vlesia

MANGGAR, BABELREVIEW -- Kabupaten Belitung Timur (Beltim) merupakan daerah kepulauan yang memiliki 141 pulau kecil. Sebagian masyarakatnya mengandalkan sektor kelautan dan perikanan, sebagai mata pencaharian. Melimpahnya sumber daya alam di sektor kelautan dan perikanan ini, menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai di Belitung Timur terutama masyarakat Desa Baru Kecamatan Manggar.

Warga yang tinggal di Desa Baru terutama kaum ibu-ibu banyak yang memanfaatkan hasil laut dengan mengolahnya menjadi berbagai jenis bahan olahan seperti kerupuk ikan. Mereka melakukan itu karena ratarata kepala rumah tangga di Desa Baru berprofesi sebagai nelayan. Hampir setiap rumah penduduk di Desa Baru banyak dijumpai kerupuk ikan mentah yang dijemur di halaman rumah. Kerupuk mentah merupakan usaha rumahan bagi warga Desa Baru, untuk menambah penghasilan keluarga.

Sebelum dijemur telah melalui proses pengolahan, mulai dari ikan mentah yang digiling kemudian diolah dan dijemur. Salah satu pembuat kerupuk ikan, Rusmini (55) menuturkan bahwa usaha yang dilakoni saat ini merupakan usaha kelurga yang turun temurun sejak zaman kakek dan neneknya, yang hingga saat ini diteruskan juga oleh anak-anaknya.

Rusmini menjelaskan, proses pembuatan kerupuk ikan pertama kali yang harus dilakukan yaitu menyiapkan daging ikan laut segar sebanyak 10 kilogram. Lalu dibersihkan serta dicuci bersih untuk menjaga kebersihan dari bahan baku tersebut.

Setelah siap dicuci, ikan kemudian digiling dengan menggunakan penggiling daging untuk mendapatkan tekstur yang lebih halus. Bahan-bahan lain yang disiapkan yakni tepung terigu sebanyak 15 kilogram dan garam secukupnya. Setelah semua bahan disiapkan, kata Rusmini langkah selanjutkan mencampurkan semua bahan dan diadukan sampai menjadi adonan dengan menggunakan tangan. Setelah dirasakan sesuai dengan keinginan, proses selanjutnya yaitu membentuk adonan.

Lalu dikukus dan dibiarkan dingin untuk kemudian diiris dan dijemur sampai kering. Dari hasil olahan tersebut, Rusmini bisa menghasilkan 16 kilogram kerupuk ikan mentah dengan harga jual berkisar Rp35.000 per kilogramnya. Kerupuk ikan itu dijual ke warung-warung atau ke langganan. Tidak sedikit juga pengunjung yang berwisata ke Manggar mampir ke rumah-rumah warga di Desa Baru untuk membeli kerupuk ikan mentah sebagai oleh-oleh khas Belitung Timur.

“Hasil dari usaha menjual kerupuk ikan ini cukup lumayan. Sebab jika suami tidak melaut karena angin kencang, hasil penjualan kerupuk ikan inilah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Rusmini. Rusmini berharap usaha yang dilakukan bersama dengan para ibu-ibu di Desa Baru dapat berkembang dengan bantuan pihak-pihak yang berkompeten, demi keberlangsungan usaha di masa mendatang.

“Saya berharap usaha bersama ibuibu ini, dapat lebih berkembang lagi. Untuk itu kami meminta bantuan dan perhatian dari pemda setempat atau pihak-pihak yang berkompeten. Sehingga dapat memberikan konstribusi terhadap perekonomian di Kabupaten Belitung Timur,” harap Rusmini. Kepala Desa Baru Mislan Kadir mengungkapkan, warga Desa Baru rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan.

Banyaknya hasil laut yang diperoleh, membuat para ibu-ibu mengolah ikan segar menjadi kerupuk yang bernilai ekonomis tinggi. Melihat usaha yang dilakukan turun temurun itu, Pemerintah Desa Baru terus mendukung segala bentuk usaha kerupuk dan olahan lain yang ada di desa itu. Hal tersebut demi meningkatkan perekonomian warga Desa Baru. “Pemerintah Desa Baru secara terus menerus memberikan pelatihan dan motivasi agar usahanya tidak terputus dan tetap dikelola dengan baik. Kita juga kerja sama dengan Pemkab Beltim, agar produk kerupuk Desa Baru dapat dipasarkan lebih banyak lagi,” jelas Mislan. Desa Baru dikenal sebagai penghasil ikan segar, ikan asin dan produk olahan ikan. Kerupuk ikan di desa ini diproduksi dalam skala industri rumah tangga secara tradisional dan  ada yang diolah dengan menggunakan mesin. “Kita sering ajak warga desa untuk melakukan pelatihan pembuatan kerupuk, bahkan warga yang memenuhi syarat ada yang memperoleh bantuan mesin

dari pemerintah kabupaten dan provinsi,” sebutnya. Dikatakan Mislan, permasalahan yang dialami dalam pengolahan kerupuk ikan, selain tergantung pada musim untuk mendapatkan bahan baku ikan, juga pada merek atau brand kerupuk. “Kalau angin kencang dan nelayan tidak turun ke laut, maka hasil tangkapan ikan sedikit.

Sehingga hanya mengharap ikan pancingan. Selain itu, tidak sedikit kerupuk ikan mentah dengan merek warga Desa Baru, berubah kemasan dengan merek kota lain dengan harga yang lebih mahal,” ungkap Mislan.

Kades Mislan berharap kedepannya ada peningkatan mutu sumber daya manusia dengan mengikuti berbagai kegiatan seperti pelatihan, memperbaiki sarana prasarana untuk mencapai produk yang aman, proses produksi pengolahan sesuai standar dan peningkatan target produksi dengan memperhatikan rasa dan bentuk kemasan. “Hal ini diupayakan agar produksi kerupuk ikan Desa Baru mampu bersaing dengan produksi sejenis dari daerah dan taraf hidup warga Desa Baru dapat lebih meningkat dan sejahtera,” tutupnya.(BBR)



Penulis :Vera Vlesia
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview