Wabup Bangka Jadi Khotib Sholat Idul Adha 1442 H di Masjid Jabal Nur

Admin
Wabup Bangka Jadi Khotib Sholat Idul Adha 1442 H di Masjid Jabal Nur

BANGKA, BABELREVIEW.CO.ID - Bertempat di Masjid Jabal Nur, Riding Panjang, Selasa (20/7/2021), Wakil Bupati Bangka Syahbudin menjadi khotib Sholat Idul Adha 1442 H tahun 2021 Masehi. Syahbudin dalam khotbahnya menyampaikan jika ibadah haji mengingatkan akan sejarah panjang jalan pengabdian, pengorbanan, dan perjuangan manusia untuk mengenal hakikat diri melalui teladan apik dari Nabi Ibrahim as dan keluarganya.

Demikian halnya Ibadah Qurban, ritual simbolis yang mengingatkan kita akan perjuangan hidup manusia dan pengorbanannya dalam rangka penyerahan diri secara total kepada Allah Swt.
Ibadah haji dan qurban, dalam setiap praktik ibadah yang ditegakkan, keseluruhan rangkaian ibadah tersebut sejatinya merupakan sebuah miniatur sempurna tata kehidupan manusia dalam hubungannya antar sesama habl maa al nas dan hubungannya dengan Pencipta, habl maa Allah, bahkan hubungan antara khalifah bersama segenap makhluk di alam raya, habl maa al-khalqi ajmain.

Berbagai kegiatan maksiat dipertontonkan setiap hari. Seolah telah menjadi kebutuhan publik yang tak bisa ditinggalkan. Kasus penipuan berkedok agama, pencurian berdasi dan pemalakan atas dasar tugas dan otoritas, perzinahan dalam pelbagai bentuknya, perjudian modern dan sekian banyak kejahatan yang mengakibatkan terancamnya hak orang lain. Semua itu semakin menguatkan sebuah asumsi kekhawatiran Malaikat bahwa manusia hanya akan berbuat kerusakan di muka bumi.

"Sungguh kekhawatiran itu memang benar terjadi. Aneka kerusakan: rusak moral, agama, dan duniawi telah kita persembahkan. Pembunuhan aneka hayati baik darat maupun lautan, pembakaran pohon, hutan, bukit, dan gunung, kitalah yang melakukan. Kondisi tanah, pasir, dan lautan yang begitu menawan, kita hancurkan dengan membabibuta. Kerusakan di bumi sedang kita pertunjukkan," ujarnya.

"Ini semua harus dihentikan. Ini semua wajib ditinggalkan. Bukankah tumbuhan, hewan, batu, air, dan udara tidak pernah mengganggu kita, tetapi mengapa kita mengganggu mereka. Salahkah mereka ketika mereka murka melihat ulah kita. Kemurkaan mereka dibuktikan dengan bencana alam yang menghancurkan. Boleh jadi, pandemi yang menghantam kita hari ini adalah sisi lain dari murkanya alam kepada kita? Karena itu, jangan salahkan mereka..! Salahkan diri karena keegoisan akut yang mendera hati nurani kita," katanya.

Kemaksiatan yang merajalela menjadikan hati manusia keras dan buta. Kepekaan dan kesadaran berlingkungan menjadi sirna. Manusia kehilangan kemampuan untuk bisa membaca isyarat alam. Orang menjadi pongah dengan kata-kata kotor yang ditebarkan. Dan manusia semakin akrab dengan kecongkakan, semakin bersahabat dengan kesombongan dan keangkuhan. Bahkan semakin larut dalam sumpah-serapah dan pertengkaran dalam dunia kecil yang kita sentuh dan kita pegang di manapun berada

"Kita sangat membutuhkan sebuah kehidupan yang harmoni, tenang, tenteram dan damai. Karena semua itu adalah fitrah dari penciptaan manusia dan juga alam semesta. Siapa saja yang berani menentangnya, ia akan berhadapan dengan manusia yang lain dan segenap alam raya. Ibarat ia bertawaf sendiri berbalik arah menghadapi gelombang manusia yang hebat. Pastilah masalah akan menghampirinya," paparnya.

Jika menyakiti orang lain itu buruk, maka itu harus ditinggalkan. Jika menghina-mencacimaki itu keburukan, maka wajiblah ditinggalkan. Jika kesombongan itu dilarang dalam agama, mengapakah tidak kita enyahkan. Jika santun itu baik, mengapa tidak kita amalkan. Jika dermawan itu baik, jika sedekah itu mulia, jika mengaji itu baik, jika memakmurkan masjit itu utama, jika qurban itu pahala, jika ibadah itu membahagiakan, mengapakah sulit kita amalkan..?

Hidup ini harus bermakna. Hidup ini haruslah bernilai bagi orang lain. Daerah ini haruslah baik. Masyarakat kita haruslah juga baik, setiap orang harus baik, setiap pejabat harus baik, setiap pegawai harus baik, setiap pedagang harus baik, setiap nelayan harus baik, setiap guru harus baik. Setiap kita harus baik, baik dimata manusia dan baik pula dimata Allah swt.

"Sejarah telah mencatat bagaimana manusia pilihan terdahulu telah melukiskan kisah indah dalam kehidupan kemanusiaan mereka. Ashabul Kahfi yang bersembunyi dalam goa bertahun-tahun, juga telah menulis tinta emas sejarah kehidupannya. Para nabi telah melukiskan kisah indahnya, bahkan nabi Muhammad saw telah begitu cemerlang melukiskan cerita indahnya yang benar-benar indah dalam kehidupan. Sukarno Hatta telah menuliskan cerita indahnya bagi negeri ini. Wali songo dan raja-raja bijak lainnya telah menuliskan cerita indahnya kepada anak negeri. Lalu cerita indah apa yang akan dan telah kita buat untuk orang lain dan generasi mendatang setelah kita, semua kembali kepada kita," jelas Syahbudin.