Warung “Remang-Remang" Hiasi Pantai Pasir Padi Malam Hari

kasmirudin
Warung “Remang-Remang
Keberadaan warung remang-remang di Kawasan Pantai Pasir Padi Pangkal Pinang, dengan wanita penghiburnya muncul pada malam hari. (Foto: BBR)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Keberadaan Warung "remang-remang" di sekitar kawasan Pantai Pasir Padi Pangkal Pinang, bukan menjadi rahasia umum lagi. Sebagian masyarakat yang sering menikmati indahnya malam hari di kawasan Pantai Pasir Padi, bisa merasakan kehadiran warung “remang-remang” tersebut.

Sejak dahulu hingga sekarang, Pasir Padi masih menjadi favorit destinasi wisata bagi masyarakat Kota Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bahkan masyarakat sekitar yang berbatasan dengan Kota Pangkal Pinang, banyak juga yang mengidolakan indahnya kawasan Pantai Pasir Padi. Desiran angin laut yang ditingkahi ombak berkejaran ke tepi pantai, menjadi salah satu pemikat wisatawan mengunjungi Pasir Padi.

Namun sayangnya, angin malam yang  menusuk tulang, seringkali dihangatkan oleh dentuman musik dangdut dari bilik remang-remang di bagian selatan Pantai Pasir Padi. 

Semakin larut, canda dan tawa juga mulai menghiasi malam. Sejumlah perempuan bercengkerama bersama para pria di luar maupun di bagian dalam warung yang bersinarkan lampu temaram. Ada indikasi yang tidak biasa dari sepasang pria dan perempuan yang bukan muhrimnya.

Kini, malamnya Pasir Padi pada sebagian lokasi dijadikan tempat hiburan malam, oleh para pelaku usaha yang memanfaatkan suasana pantai dengan membangun warung remang-remang yang menyediakan fasilitas karaoke, minuman beralkohol hingga ‘wanita penghibur’ alias teman karaoke atau teman minum.

Entah kapan munculnya warung remang-remang tersebut, namun yang pasti warung remang-remang  tersebut sudah beroperasi cukup lama di kawasan Pantai Pasir Padi. Hingga saat ini, belum ada sikap yang pasti dari Pemkot Pangkalpinang maupun instansi terkait, untuk menertibkan warung remang-remang tersebut.

Bahkan, pihak wakil rakyat juga terasa sulit bersuara untuk memperingatkan pemerintah maupun aparat hukum untuk merestorasi keberadaan warung tersebut menjad lebih indah dan layak sebagai pendukung kawasan wisata.

Apalagi ada keinginan pemerintah maupun DPRD Kota Pangkal Pinang, mau menjadikan kawasan Pasir Padi sebagai kawasan wisata keluarga. Tentu niat yang baik ini harus dibungkus dengan kebijakan pendukung yang baik pula. Sehingga, kawasan Pasir Padi betul-betul bisa memberikan kenyamanan bagi keluarga yang berkunjung menikmati deburan ombak dan putihnya butiran Pasir Pantai.

Pantauan Babel Review, sejak matahari mulai terbenam dan malam mulai menyelimuti seisi pantai, satu persatu warung beserta keremangannya mulai menampakkan diri. Warna warni lampu di setiap warung meramaikan susasana reman-remang di tepi pantai, lengkap dengan dentuman musik yang membuat suasana semakin bergairah.

Sekitar pukul 19.00 WIB sudah ada beberapa pengunjung yang datang di depan warung remang-remang tersebut. Beberapa wanita berpakaian seksi pun terlihat duduk di depan warung, dan sesekali "menggoda" para pengunjung yang lewat, agar mau berhenti menikmati malam bersama.

Bersamaan dengan malam yang semakin gelap disertai hembusan angin pantai, membuat semakin banyak tamu berdatangan di kawasan tersebut, baik hanya sekedar lewat dan melihat atau yang berhenti dan bernegosiasi.

Di beberapa warung remang-remang, para pengunjung dapat bernyanyi (karaoke-red) ditemani wanita berpakaian seksi. Tak hanya itu para pengunjung juga bisa meminta ditemani minum, dan para wanita inipun siap melayani.

"Kalau minum satu botol Rp 50.000. Tapi kalau ditemani sama cewe-cewek disini Rp 55.000," kata Santi, sebut saja begitu, salah satu wanita yang bekerja di salah satu warung.

"Bagi yang mau karaoke juga bisa, cukup bayar Rp 10.000 per tiga lagu, nanti ditemani sepuasnya," canda Santi manja.

Meski demikian, para wanita yang bekerja di warung-warung tersebut sulit jika hendak diajak keluar dari kawasan warung.

"Tidak bisa keluar, disini aja," ujar wanita yang mengaku berasal dari Palembang ini. (BBR)


Penulis  : Tim BBR
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review